IPD – 22 Maret 2026 | Desa Huntara Kapalo Koto, yang biasanya riuh dengan suara takbir saat Idul Fitri, mengalami Lebaran yang berbeda pada tahun ini. Banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada bulan Agustus lalu tidak hanya menghancurkan rumah-rumah, tetapi juga menelan simbol-simbol tradisional Lebaran seperti toples berisi kue-kue lebaran. Kini, penduduk setempat mengungkapkan rasa kehilangan dan trauma yang masih menghantui mereka setiap kali gema takbir terdengar.
Jejak Banjir yang Membawa Segala Sesuatu
Pada awal Agustus, curah hujan ekstrem menyulut sungai Tapteng meluap, mengalir deras menembus batas desa. Air mencapai ketinggian lebih dari dua meter, menggenangi jalan utama, pasar, dan rumah-rumah penduduk. Salah satu korban paling mengharukan adalah Sulianti, seorang ibu rumah tangga berusia empat puluh delapan tahun, yang menyaksikan toples berisi kue lebaran—yang selama bertahun-tahun menjadi tradisi memberi kepada tetangga—hanyut terbawa arus deras.
Sulianti mengingat bagaimana toples kayu berisi kue nastar, kastengel, dan kue lapis itu selalu diletakkan di depan pintu rumahnya sejak masa kecilnya. “Setiap Lebaran, toples itu menjadi simbol kebersamaan. Saya menyiapkannya sejak seminggu sebelum Idul Fitri, berharap semua tetangga dapat menikmati sedikit kebahagiaan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Namun pada malam banjir, toples tersebut terlepas dari gantungan di teras dan terbawa ke dalam aliran sungai, menghilang bersama kenangan manis masa lalu. Bukan hanya benda fisik yang hilang; kepercayaan diri Sulianti sebagai penyambung tradisi pun terpukul keras.
Trauma yang Mengintai di Balik Takbir
Setelah banjir surut, suara takbir yang biasanya mengisi udara pagi Lebaran kembali terdengar, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Penduduk yang selamat mengaku merasakan kegelisahan setiap kali mendengar lonceng takbir, seolah mengingatkan mereka pada kengerian air yang melanda.
“Saya tidak bisa menikmati takbir seperti dulu. Setiap kali imam memanggil, hati saya berdebar seolah masih berada di tengah arus kuat,” kata Ahmad, seorang petani berusia 55 tahun. Pengalaman serupa dirasakan oleh banyak warga, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga atau rumah mereka hancur total.
Para psikolog setempat menyebut fenomena ini sebagai “trauma post‑bencana”, dimana ingatan akan peristiwa ekstrem terus muncul kembali melalui rangsangan auditory seperti takbir. Mereka menekankan pentingnya pendekatan konseling kelompok, serta kegiatan keagamaan yang dapat membantu mengembalikan rasa aman.
Usaha Pemulihan dan Harapan Baru
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) telah menggelontorkan bantuan berupa rumah susun sementara, peralatan masak, dan paket sembako. Namun, upaya material saja belum cukup mengatasi luka batin.
Kelompok relawan lokal membentuk “Forum Kue Lebaran”, sebuah inisiatif untuk menghidupkan kembali tradisi toples kue dengan cara yang lebih adaptif. Setiap keluarga diminta menyiapkan satu kotak kue kecil yang dapat dibagikan secara bergantian, sehingga tidak ada lagi beban menumpuk satu toples besar yang mudah hanyut.
Selain itu, masjid desa mengadakan “Kajian Takbir Bersama” yang dirancang untuk mengubah makna takbir menjadi simbol ketabahan. Pada acara tersebut, warga diajak menuliskan harapan mereka pada kertas berwarna, kemudian dibacakan secara bergantian sebagai bentuk terapi kolektif.
Refleksi Sosial dan Makna Lebaran yang Lebih Dalam
Kejadian ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana tradisi dapat beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana alam. Para ahli budaya menilai bahwa Lebaran tidak sekadar soal makanan atau hiasan, melainkan tentang nilai kebersamaan, keikhlasan, dan kemampuan bangkit kembali.
“Jika toples kue hanyut, bukan berarti tradisi hilang. Justru, cara baru dalam berbagi kue dapat menciptakan makna yang lebih kuat dan inklusif,” ujar Dr. Rina Suryani, dosen sosiologi di Universitas Sumatera Barat.
Dengan dukungan psikolog, relawan, dan pemuka agama, Huntara Kapalo Koto perlahan menemukan cara untuk merayakan Lebaran yang lebih tenang namun tetap bermakna. Suara takbir kini tidak lagi menjadi pengingat trauma, melainkan panggilan untuk bersyukur atas keselamatan dan kesempatan memulai kembali.
Lebaran di Huntara Kapalo Koto memang berbeda tahun ini—sunyi, penuh kenangan, dan dipenuhi harapan. Namun, melalui kolaborasi dan kreativitas, desa ini berusaha mengubah luka menjadi pelajaran, serta mengukir kembali tradisi yang tidak lekang oleh waktu.
