Iran Beri Lampu Hijau ke 5 Negara Sahabat, Indonesia Tersingkir dari Daftar Selat Hormuz

IPD – 29 Maret 2026 | Jalan laut Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, kembali menjadi sorotan setelah pemerintah Iran mengumumkan izin bebas lewati bagi lima negara sahabat. Keputusan ini muncul di tengah ketegangan regional yang memuncak sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas strategis Iran pada akhir Februari 2026.

Negara‑negara yang mendapatkan sinyal positif dari Teheran meliputi China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa kapal‑kapal minyak dari negara‑negara tersebut dapat melintasi selat dengan aman asalkan tidak terlibat dalam aksi yang mengancam keamanan Iran. Ia menambahkan bahwa Iran tetap menolak akses bagi negara‑negara yang dianggap musuh, khususnya Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya.

Berita tersebut dikonfirmasi oleh berbagai media internasional, termasuk The Economic Times, The Guardian, dan Al Jazeera. Dari sisi Asia Tenggara, Malaysia dan Thailand juga berhasil mendapatkan persetujuan Iran untuk menyeberangi Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyampaikan bahwa tujuh kapal tanker milik perusahaan Malaysia, termasuk Petronas dan Sapura Energy, kini menunggu giliran untuk melanjutkan perjalanan setelah menerima sinyal positif dari pihak Tehran.

Di Thailand, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyatakan bahwa kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal tanker Thailand melintas dengan aman, mengurangi kekhawatiran terkait impor bahan bakar minyak yang sempat terhambat sejak konflik meluas pada awal Maret.

Sementara itu, Indonesia tidak termasuk dalam daftar lima negara yang disebutkan Iran. Dua kapal tanker milik Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang sebelumnya tertahan di Selat Hormuz, baru saja menerima pertimbangan positif dari Kedutaan Iran di Jakarta. Namun, tidak ada konfirmasi resmi bahwa Indonesia mendapatkan izin bebas lewati seperti negara‑negara sahabat lainnya. Pemerintah Indonesia sempat mengalihkan sumber impor minyak ke kawasan lain, termasuk Afrika dan Amerika, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz yang tidak stabil.

Berikut rangkuman negara yang diberikan akses oleh Iran:

  • China – akses prioritas sebagai mitra strategis utama.
  • Rusia – diberikan kemudahan lewat selat sebagai bagian dari kerja sama energi.
  • India – sekitar 20 kapal tanker India telah berhasil melintasi selat setelah negosiasi intens.
  • Pakistan – kapal tanker Pakistan sudah melintasi selat dengan aman.
  • Irak – tetap mendapatkan akses berkat kedekatan geografis dan hubungan energi yang erat.

Selain lima negara di atas, Malaysia dan Thailand juga memperoleh persetujuan, sementara Turki hanya mendapat izin terbatas untuk satu kapal. Kebijakan Iran ini mencerminkan upaya menjaga stabilitas aliran energi global sekaligus menegaskan posisi geopolitik negara tersebut di tengah konflik yang melibatkan kekuatan besar.

Kebijakan pembatasan akses bagi negara‑negara yang dianggap musuh menimbulkan dampak signifikan pada pasar minyak dunia. Harga BBM di banyak negara mengalami kenaikan tajam akibat berkurangnya pasokan melalui selat utama ini. Lebih dari 1.900 kapal komersial dilaporkan terperangkap di perairan Teluk Persia sejak penutupan de‑facto oleh Iran, menambah tekanan pada logistik maritim internasional.

Para pengamat menyatakan bahwa langkah Iran membuka akses terbatas bagi sekutu dapat menjadi upaya meminimalisir dampak ekonomi global sekaligus mempertahankan kontrol strategis atas jalur penting. Namun, ketegangan yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menimbulkan ketidakpastian jangka panjang mengenai stabilitas Selat Hormuz.

Kesimpulannya, keputusan Iran memberikan lampu hijau kepada lima negara sahabat sekaligus Malaysia dan Thailand menegaskan dinamika politik maritim yang kompleks di wilayah tersebut. Indonesia, meskipun tidak termasuk dalam daftar utama, tetap berupaya mengamankan jalur perlintasan bagi kapal-kapalnya melalui diplomasi dan diversifikasi sumber energi. Situasi di Selat Hormuz terus dipantau oleh komunitas internasional, mengingat peranannya yang krusial dalam rantai pasokan energi global.

Leave a Comment