Motor Bensin Hanya untuk Ekspor? Pemerintah Targetkan 100% Penjualan Motor Listrik Domestik

IPD – 14 April 2026 | Pemerintah Indonesia kembali menegaskan ambisinya untuk mempercepat transisi industri otomotif nasional ke kendaraan listrik. Dalam pernyataan terbaru yang disampaikan oleh pejabat Kementerian Perindustrian, Agus, rencana strategis tersebut menitikberatkan pada penggunaan motor listrik untuk seluruh pasar domestik, sementara motor berbahan bakar bensin akan diarahkan khusus untuk pasar ekspor.

Menurut Agus, regulasi baru sedang disusun untuk mewajibkan produsen motor dalam negeri meningkatkan kapasitas produksi motor listrik secara signifikan. “Kami ingin semua penjualan motor yang diproduksi di pabrik‑pabrik Indonesia untuk pasar domestik beralih ke motor listrik,” ungkapnya dalam wawancara di Jakarta, mengacu pada sumber Antara. Pemerintah berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung produksi massal kendaraan listrik, termasuk penyediaan infrastruktur pengisian daya dan insentif fiskal bagi produsen.

Regulasi tersebut tidak akan melarang produksi motor konvensional berbasis bahan bakar minyak (BBM). Namun, produsen yang masih mengandalkan teknologi bensin diharapkan mengalihkan output mereka ke pasar internasional. “Tidak perlu menghentikan produksi motor konvensional karena akan kami alihkan untuk ekspor, tetapi produksi motor listrik harus dimulai segera,” kata Agus.

  • Target pasar ekspor: negara‑negara di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan.
  • Fokus domestik: mengganti 100% motor bensin dengan motor listrik dalam lima tahun ke depan.
  • Langkah kebijakan: penyusunan regulasi, koordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk insentif, dan pengembangan roadmap industri.

Pasar ekspor menjadi prioritas baru bagi produsen motor konvensional. Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan disebut sebagai wilayah potensial yang masih mengandalkan kendaraan berbahan bakar fosil. Dengan menargetkan kawasan tersebut, pemerintah berharap dapat memanfaatkan kelebihan kapasitas produksi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan ekspor.

Dalam mengukir jalur transformasi ini, Indonesia mengambil contoh keberhasilan China yang telah berhasil mengubah seluruh konsumen domestik menjadi pengguna motor listrik. “China sudah berhasil, mereka memiliki basis motor listrik yang mendominasi pasar domestik,” ujar Agus. Pemerintah menganggap model China dapat menjadi acuan dalam menyusun roadmap nasional, termasuk dalam hal kebijakan tarif, subsidi, dan dukungan riset serta pengembangan teknologi baterai.

Langkah ini selaras dengan arahan Presiden yang menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. “Kita harus beralih ke listrik karena ketergantungan pada bahan bakar fosil semakin tidak berkelanjutan,” tegas Agus.

Saat ditanya mengenai insentif bagi konsumen agar beralih ke motor listrik, Agus menyatakan bahwa koordinasi dengan Kementerian Keuangan masih berlangsung. Besaran stimulus belum diungkapkan secara rinci, namun diperkirakan akan meliputi potongan pajak, subsidi pembelian, serta kemudahan kredit. “Masih dibicarakan,” tambahnya singkat.

Transformasi ini diharapkan memberikan dampak positif bagi lingkungan, mengurangi polusi udara di perkotaan, dan menurunkan konsumsi BBM nasional. Di sisi lain, produsen motor konvensional dihadapkan pada tantangan penyesuaian produksi dan penetrasi pasar ekspor yang belum tentu secepat pasar domestik. Namun, pemerintah menilai bahwa diversifikasi pasar dapat meningkatkan daya saing industri otomotif Indonesia di kancah global.

Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah menandai titik balik penting dalam upaya Indonesia menuju mobilitas berkelanjutan. Dengan menargetkan 100% penjualan motor listrik untuk konsumen dalam negeri dan memanfaatkan motor bensin untuk ekspor, negara berupaya menyeimbangkan kebutuhan energi, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan lingkungan.

Leave a Comment