IPD – 13 April 2026 | Media Vietnam, khususnya portal Tuoitre, melontarkan kritik tajam terhadap Timnas Futsal Indonesia setelah laga semifinal ASEAN Futsal Championship 2026 melawan timnya. Dalam laporan mereka, Indonesia digambarkan sebagai “mimpi buruk” bagi futsal Asia karena bahkan skuad cadangan sekalipun mampu menimbulkan rasa gentar pada lawan. Kritik ini muncul bersamaan dengan sorotan terhadap penurunan performa futsal Vietnam yang kini tengah menjalani proses peremajaan, sementara Indonesia terus menegakkan dominasi di kancah regional.
Di ajang ASEAN Futsal Championship 2026 yang digelar di Nonthaburi, Thailand, Timnas Futsal Indonesia berhasil menyingkirkan Vietnam dengan skor 3-2 pada babak semifinal. Kemenangan itu menegaskan kembali kemampuan Garuda Muda dalam mengatasi tim-tim tradisional kuat di Asia Tenggara. Namun, respons media Vietnam tidak berhenti pada pujian. Mereka menilai bahwa keberhasilan Indonesia bukan semata-mata karena keunggulan taktik, melainkan berkat ketergantungan pada pemain naturalisasi dan kurangnya strategi mental yang matang.
Pak Phan Anh Tu, pakar sepak bola Vietnam, mengungkapkan bahwa “kekuatan Timnas Indonesia selama ini dilebih-lebihkan. Skuad yang minim naturalisasi tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk bersaing di level atas.” Pandangan serupa juga diutarakan oleh komentator Ta Bien Cuong, yang menyoroti masalah fisik dan mental pemain Indonesia pasca kekalahan 3-3 melawan Laos di Piala AFF 2024. Menurutnya, kegagalan berulang melawan lawan yang sama dapat menimbulkan trauma dan menggerus kepercayaan diri tim.
Selain kritik dari Vietnam, pelatih asal Spanyol, Hector Soutou, memberikan respons yang lebih seimbang setelah Indonesia gagal mempertahankan gelar juara di final Piala AFF Futsal 2026 melawan Thailand. Meski timnya harus menelan kekalahan tipis 1-2, Soutou tetap menegaskan kebanggaan atas perjuangan skuad. Ia menilai bahwa keputusan wasit yang dianggap merugikan Indonesia dan kurangnya pemain asing yang dapat mengubah dinamika pertandingan menjadi faktor penentu.
Berbagai faktor struktural turut mempengaruhi persepsi tersebut. Liga Futsal Vietnam masih tertinggal dengan hanya delapan klub yang kebanyakan memiliki sponsor atau afiliasi serupa, serta minimnya fasilitas stadion yang memadai. Sebaliknya, Liga Futsal Indonesia telah profesional sejak 2016, mencatat 12 klub dengan kandang sendiri dan mengizinkan pendaftaran hingga tujuh pemain asing per tim. Kebijakan ini memberikan ruang bagi pengembangan talenta lokal maupun impor, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas kompetisi domestik.
Berikut beberapa poin penting yang menonjol dari perbandingan kedua negara:
- Struktur Liga: Vietnam – 8 klub, terbatas pada satu pemain asing; Indonesia – 12 klub, hingga 7 pemain asing.
- Peremajaan: Vietnam tengah memuat 7 dari 14 pemain berusia 20‑24 tahun; Indonesia mengandalkan kombinasi pemain muda dan berpengalaman.
- Fasilitas: Kebanyakan klub Vietnam menggunakan satu arena bersama; klub Indonesia memiliki stadion masing‑masing.
- Kinerja Internasional: Vietnam pernah mencapai 16 besar Piala Dunia Futsal 2016 & 2021; Indonesia baru saja menjadi runner‑up di AFF 2026 dan semifinal Asian Futsal Championship 2026.
Meski demikian, kritik media Vietnam juga menyingkap kelemahan internal Timnas Indonesia. Keterbatasan taktik, ketergantungan pada satu pemain naturalisasi, serta tekanan mental pasca kekalahan melawan Laos menjadi sorotan. Hal ini menuntut tim untuk memperkuat mentalitas juara dan diversifikasi taktik agar tidak terlalu bergantung pada faktor individu.
Dalam perspektif jangka panjang, persaingan futsal Asia diprediksi akan semakin sengit. Thailand, sebagai pemegang rekor 17 gelar AFF, terus menegaskan dominasinya, sementara Vietnam berusaha bangkit kembali melalui peremajaan. Indonesia berada di posisi menengah‑atas dengan potensi besar, namun harus mengatasi kritik eksternal dan internal untuk menjaga konsistensi performa.
Kesimpulannya, sorotan media Vietnam menegaskan bahwa Timnas Futsal Indonesia bukan hanya sekadar tim kuat, melainkan sebuah tantangan bagi lawan‑lawannya, bahkan bagi skuad pelapis sekalipun. Namun, kritik tersebut juga menjadi cermin bagi Indonesia untuk terus memperbaiki aspek taktik, mental, dan pengembangan pemain, agar mimpi buruk yang diutarakan oleh media lawan tidak menjadi realitas di panggung futsal Asia.
