IPD – 10 April 2026 | Manajemen Persija Jakarta mengekspresikan kemarahan besar setelah timnya gagal mengukir satu kemenangan dalam tiga laga terakhir kompetisi BRI Super League 2025/2026. Kegagalan ini menempatkan Macan Kemayoran pada posisi rapuh di papan atas klasemen, sekaligus menimbulkan tekanan ekstra menjelang pertemuan penting melawan Persebaya Surabaya pada pekan ke‑27.
Dalam tiga pertandingan terakhir, Persija hanya mampu mengamankan dua poin. Pada laga tandang melawan Bhayangkara FC di Stadion Sumpah Pemuda, Lampung, Macan Kemayoran menelan kekalahan tipis 2‑3. Sebelumnya, di kandang, mereka berbagi poin dengan Borneo FC (2‑2) dan Dewa United (1‑1). Hasil imbang beruntun serta satu kekalahan membuat tim terhenti di posisi ketiga dengan perolehan 52 poin, terpaut sembilan poin dari pemuncak klasemen, Persib Bandung yang mengumpulkan 61 poin.
Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas, yang akrab disapa “Bepe”, menegaskan bahwa manajemen sangat menyesalkan rentetan tiga laga tanpa kemenangan. “Walaupun tidak mudah, secara hitungan poin segala kemungkinan masih bisa terjadi,” ujar Bambang dalam pernyataan resmi pada 10 April 2026. Ia menuntut fokus ekstra dari pelatih dan pemain, menambahkan bahwa seluruh komponen tim harus berjuang hingga pekan terakhir agar peluang juara tidak hilang.
Di sisi lain, pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, menyoroti tekanan yang lebih besar berada pada pihak Persija. Dalam konferensi pers usai laga melawan Bhayangkara, Bernardo menyatakan, “Tekanan ada di Persija karena mereka tiga kali tanpa kemenangan. Mereka juga berada di atas klasemen dibanding kami.” Meski mengakui tantangan berat, ia menegaskan bahwa Persebaya tetap menargetkan kemenangan penuh dan tidak berencana bermain aman.
Kondisi ini menambah beban mental pemain Persija. Setelah menelan lima gol kebobolan dalam laga tandang terakhir melawan Bhayangkara, tim harus memperbaiki mentalitas agar dapat bersaing secara kompetitif. Manajemen menilai bahwa fokus tinggi dan konsistensi menjadi kunci utama dalam mengatasi krisis performa ini.
Jadwal selanjutnya menempatkan Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu, 11 April 2026, pukul 19.00 WIB, untuk melawan Persebaya. Pertandingan ini menjadi ujian penting: kemenangan dapat mengembalikan momentum dan menutup celah poin, sementara kebobolan lagi dapat menambah jarak dengan Persib. Historis, Persebaya terakhir menang di SUGBK pada Desember 2019 (2‑1) dan hanya mampu imbang 1‑1 pada pertemuan musim lalu.
Manajemen Persija, melalui pernyataan resmi, menekankan tidak ada toleransi terhadap hasil imbang atau kekalahan berulang. “Kami tidak pernah merencanakan untuk seri atau kalah. Kami selalu mencoba menang,” kata Bernardo menambah, menegaskan harapan Persebaya untuk memberi kejutan. Namun, bagi Persija, tekanan tetap berada di pundak mereka, mengingat target juara yang masih hidup dan sisa hanya delapan pekan kompetisi.
Secara keseluruhan, krisis tiga laga tanpa kemenangan menimbulkan kegelisahan di antara manajemen, pemain, dan suporter Persija. Jika tim dapat mengembalikan konsistensi, terutama dalam menghadapi Persebaya, peluang matematis untuk bersaing di puncak klasemen masih terbuka. Sebaliknya, kegagalan berkelanjutan dapat memperlebar jarak dengan Persib dan mengakhiri harapan juara pada akhir musim.
