IPD – 19 April 2026 | Leicester City kembali menjadi sorotan setelah menelan kekalahan 1-0 melawan Portsmouth dalam laga penentuan di Championship pada Sabtu (18/04/2026). Gol tunggal yang dicetak oleh pemain pengganti Ibane Bowat pada menit ke-63 menjadi titik balik yang memperdalam jurang ancaman degradasi klub ke League One, sepuluh tahun setelah meraih gelar juara Premier League.
Sejak awal pertandingan, Leicester City menuntut penalti setelah Conor Shaughnessy menjatuhkan Patson Daka di dalam kotak penalti pada menit ke-10. Namun, keputusan wasit Gavin Ward untuk tidak memberi tendangan penalti menambah frustrasi tim tamu. Tekanan semakin terasa ketika Portsmouth memanfaatkan sebuah tendangan sudut yang diatur Adrian Segecic; Bowat berhasil memanfaatkan bola tersebut dan menekuknya ke gawang pada menit ke-63, membuka keunggulan tunggal bagi tim tuan rumah.
Gugurnya semangat Leicester terlihat jelas ketika beberapa pemain kunci gagal mengubah hasil. Hamza Choudhury, yang digantikan pada babak kedua, terlibat pertengkaran dengan suporter Portsmouth di tribun setelah ia menyuarakan keberatannya terhadap komentar penonton. Insiden ini berujung pada kartu kuning dan harus dituntun kembali ke bangku cadangan oleh staf klub, menambah ketegangan suasana di lapangan.
Tidak lama setelah peluit akhir, situasi kembali memanas di luar stadion. Harry Winks, gelandang asal Tottenham yang kini memperkuat Leicester, terlibat konfrontasi verbal dengan suporter. Video yang beredar di media sosial menunjukkan Winks menolak masuk ke bus tim setelah dipanggil oleh sekelompok pendukung yang melontarkan cercaan. Winks membalas dengan kata-kata kasar, memperlihatkan ketegangan emosional yang melanda skuad setelah kekalahan.
Melihat ke dalam statistik, hasil ini menempatkan Leicester City pada posisi 23 dalam klasemen Championship, dengan selisih lima poin dari zona aman. Sementara itu, Portsmouth naik ke peringkat 18 dan kini berada tujuh poin di atas zona degradasi. Dengan tiga pertandingan tersisa melawan Hull City, Millwall, dan Blackburn Rovers, peluang Leicester untuk selamat sangat tipis.
Pelatih Gary Rowett mengakui bahwa timnya menunjukkan kekurangan pada kualitas dan ketangguhan. Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Rowett menekankan pentingnya mentalitas juara dan menyatakan bahwa tim harus “menemukan keberuntungan” namun menegaskan bahwa “kita fokus pada apa yang bisa kami kontrol”. Ia menambahkan, “Jika kami memiliki tiga pertandingan lagi dan sudah terdegradasi, saya tetap ingin memenangkan ketiganya. Ini soal kebanggaan dan standar pribadi.”
Keadaan ini memperlihatkan pola buruk Leicester selama enam pertandingan terakhir tanpa kemenangan, serta hanya 11 kemenangan sepanjang musim. Tekanan semakin berat ketika rival terdekat mereka, West Brom, memiliki satu pertandingan lebih sedikit dan berada di zona aman.
Selain insiden di dalam lapangan, kejadian di luar stadion menambah beban psikologis pada pemain. Winks, yang memiliki pengalaman internasional dengan timnas Inggris, tampak kehilangan kendali emosional saat berhadapan dengan suporter yang memprovokasi. Sementara Choudhury, yang sebelumnya menjadi figur penting di lini tengah, kini harus menghadapi kritik keras atas perilakunya.
Analisis taktikal menunjukkan bahwa Leicester gagal mengendalikan lini tengah, memberikan ruang bagi Portsmouth untuk menguasai bola di wilayah pertahanan. Kekurangan dalam pressing dan transisi menyerang menjadi faktor utama yang menyebabkan mereka tidak mampu menciptakan peluang signifikan.
Dengan situasi yang semakin genting, para penggemar Leicester City menunggu keputusan penting pada laga berikutnya melawan Hull City. Jika hasilnya tidak menguntungkan, klub berisiko turun ke Liga One, menandai babak kelam dalam sejarah klub yang dulunya menjadi juara Eropa.
Kesimpulannya, kekalahan melawan Portsmouth bukan sekadar satu hasil negatif, melainkan memicu rangkaian insiden yang mencerminkan krisis internal klub. Tanpa perbaikan signifikan dalam disiplin, mentalitas, dan taktik, harapan Leicester City untuk tetap berada di Championship tampak semakin suram.
