IPD – 15 April 2026 | Pemerintah Kolombia pada Senin (13 April 2026) resmi menyetujui rencana pemusnahan sekitar delapan puluh ekor kuda nil liar yang merupakan keturunan hewan eksotis yang dulu dimiliki oleh gembong narkoba Pablo Escobar. Keputusan ini diambil setelah serangkaian upaya sterilisasi, relokasi, dan penangkapan selama lebih dari satu dekade terbukti tidak efektif dan menelan biaya yang sangat tinggi.
Kuda nil tersebut pertama kali muncul di wilayah Amerika Selatan pada era 1980-an ketika Escobar mengimpor empat ekor dari Afrika untuk dipelihara di kebun binatang pribadinya di Hacienda Nápoles, sebuah perkebunan seluas lebih dari 500 hektar di bagian tengah Kolombia. Setelah kematian Escobar pada 1993, hewan‑hewan itu bebas berkeliaran dan secara cepat memperbanyak diri. Menurut studi yang dipublikasikan oleh Universitas Nasional Kolombia, pada tahun 2022 populasi liar mencapai kira‑kira 170 ekor, menjadikan Kolombia satu‑satunya negara di luar Afrika yang memiliki kuda nil hidup di alam bebas.
Populasi yang terus meningkat menimbulkan masalah serius bagi penduduk setempat. Kuda nil dikenal agresif ketika merasa terancam dan sering muncul di lahan pertanian serta di tepi sungai, mengganggu kegiatan warga dan menimbulkan potensi konflik fatal. Selain itu, mereka bersaing dengan spesies endemik seperti manatee sungai untuk sumber makanan dan ruang hidup, mengancam keseimbangan ekosistem lokal.
Menteri Lingkungan Hidup Kolombia, Irene Vél ez, menjelaskan bahwa program sterilisasi yang dijalankan sejak 2010 tidak dapat menekan pertumbuhan populasi karena biaya penangkapan hewan berukuran besar sangat mahal. “Jika tidak ada tindakan tegas, kita tidak akan mampu mengendalikan mereka,” ujar Vél ez, mengutip pernyataan resmi pemerintah yang dilaporkan oleh sejumlah media internasional. Pemerintah memperkirakan total anggaran untuk operasi penyuntikan mematikan mencapai 1,98 juta dolar AS, setara dengan sekitar Rp30,69 miliar. Anggaran tersebut mencakup biaya tim penangkap, peralatan medis, serta logistik di daerah terpencil.
Rencana pemusnahan akan dilaksanakan dalam beberapa fase. Tim khusus akan menyiapkan lokasi penangkapan di area yang paling sering dilalui kuda nil, kemudian hewan‑hewan tersebut akan disuntik dengan bahan pemusnah yang telah disetujui oleh otoritas kesehatan hewan. Proses ini direncanakan berlangsung selama tiga bulan, dengan harapan dapat mengurangi populasi secara signifikan dan mencegah penyebaran lebih lanjut ke wilayah sekitar.
Keputusan ini menuai protes keras dari aktivis hak‑hewan. Andrea Padilla, seorang senator dan aktivis hak‑hewan yang pernah berkontribusi pada undang‑undang pelarangan adu banteng, menyebut langkah ini sebagai tindakan kejam dan tidak manusiawi. Padilla menilai bahwa pemerintah seharusnya mencari alternatif lain, seperti program adopsi atau peningkatan fasilitas penangkaran, alih‑alih memilih cara mematikan hewan secara massal.
Di sisi lain, sebagian penduduk setempat menyambut keputusan tersebut dengan lega. Mereka melaporkan bahwa kehadiran kuda nil telah menurunkan hasil panen, meningkatkan risiko serangan pada anak‑anak yang bermain di dekat sungai, serta menimbulkan ketakutan saat hewan‑hewan tersebut muncul di jalan raya. “Kami ingin kembali merasa aman di ladang kami,” kata seorang petani dari desa terdekat Hacienda Nápoles.
Selain masalah keamanan, kuda nil juga menjadi daya tarik wisata yang kontradiktif. Kawasan bekas kebun binatang Escobar kini diubah menjadi taman hiburan dan situs wisata edukatif, menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Turis dapat melihat kuda nil secara langsung, membeli suvenir, serta belajar tentang sejarah Escobar. Namun, para pakar konservasi menegaskan bahwa menjadikan hewan invasif sebagai objek wisata dapat memperparah persepsi publik bahwa kuda nil tidak menimbulkan bahaya ekologis.
Berikut rangkuman data utama terkait program pemusnahan:
- Jumlah hewan yang akan disuntik: sekitar 80 ekor.
- Anggaran: 1,98 juta dolar AS (≈ Rp30,69 miliar).
- Durasi pelaksanaan: diperkirakan tiga bulan.
- Lokasi utama: wilayah tengah Kolombia, khususnya sekitar Hacienda Nápoles.
- Motivasi: melindungi keselamatan warga, menjaga keanekaragaman hayati, dan menghentikan persaingan dengan spesies lokal.
Keputusan akhir ini mencerminkan dilema antara upaya konservasi, keamanan publik, dan etika perlakuan terhadap hewan. Sementara pemerintah menegaskan bahwa langkah pemusnahan adalah pilihan terakhir setelah semua alternatif gagal, aktivis menuntut transparansi lebih lanjut dan evaluasi dampak jangka panjang. Bagaimana masyarakat internasional dan lokal menanggapi tindakan ini akan menjadi indikator penting bagi kebijakan pengelolaan spesies invasif di masa depan.
Kesimpulannya, program penyuntikan mematikan 80 kuda nil liar di Kolombia merupakan upaya kontroversial yang berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan keamanan warga, pelestarian ekosistem, dan pertimbangan etis. Keberhasilan atau kegagalannya akan menjadi pelajaran berharga bagi negara‑negara lain yang menghadapi tantangan serupa dalam mengelola spesies non‑asli yang berkembang biak secara tak terkendali.
