IPD – 19 April 2026 | Kepala Desa (Kades) Pakel, Lumajang, Bapak Sampurno, kembali menjadi sorotan publik setelah insiden penyerangan yang melibatkan 15 orang bersenjata keris. Kejadian yang terjadi pada sore hari itu memicu perbincangan luas di kalangan warga, tokoh agama, dan aparat kepolisian. Meski didera pukulan dan tusukan, Bapak Sampurno tetap berdiri tegak, menolak anggapan bahwa ia memiliki kekuatan supranatural atau “kebal”.
Menurut saksi mata, sekelompok orang tak dikenal menyerbu rumah kepemimpinan desa dengan niat mengintimidasi. Mereka menggunakan keris tradisional, sebuah senjata tajam yang masih kerap dipakai dalam aksi kekerasan lokal. Saat para penyerang mendekat, Bapak Sampurno berusaha melindungi diri dengan menangkis serangan dan berdoa. Dalam proses tersebut, ia menerima beberapa sayatan, namun tidak terjatuh.
Setelah insiden, Bapak Sampurno memberi keterangan resmi kepada media setempat. Ia menegaskan bahwa dirinya bukanlah sosok yang “kebal” atau memiliki kemampuan luar biasa. “Saya hanyalah manusia biasa yang diberi kesempatan oleh Allah untuk tetap berdiri. Saya berdoa agar semua pihak dapat menyelesaikan perselisihan dengan damai,” ujarnya sambil menolak semua spekulasi yang mengaitkan dirinya dengan keajaiban.
Berita serangan itu juga memicu reaksi dari pejabat daerah, termasuk Bupati Lumajang, yang menegaskan bahwa pihak kepolisian akan menindak tegas para pelaku. “Kami tidak akan mentolerir tindakan kekerasan terhadap aparat desa. Proses hukum akan berjalan sesuai prosedur,” kata sang Bupati dalam konferensi pers.
Di sisi lain, seorang tokoh masyarakat bernama Dani mengeluarkan pernyataan menolak adanya dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam insiden tersebut. “Tidak ada pihak yang memerintahkan atau mendukung aksi kekerasan ini. Kami menolak segala tuduhan yang tidak berdasar,” tegas Dani, yang sebelumnya sempat dikaitkan dengan insiden tersebut oleh rumor beredar di media sosial.
Menanggapi situasi yang memanas, Bapak Sampurno mengajak para pelaku untuk duduk bersama dalam semangat musyawarah. Ia bahkan menawarkan untuk menyanyikan sholawat bersama sebagai upaya meredakan ketegangan. “Jika mereka bersedia, mari kita berkumpul, bernyanyi sholawat, dan mencari solusi damai,” ujar Bapak Sampurno dengan nada penuh harap.
Berikut rangkaian kronologis singkat dari peristiwa tersebut:
- 15.00 WIB – Sekelompok 15 orang memasuki wilayah desa Pakel dengan membawa keris.
- 15.15 WIB – Serangan dimulai, Bapak Sampurno berusaha melindungi diri dan warga.
- 15.30 WIB – Bapak Sampurno menerima beberapa sayatan namun tetap berdiri.
- 16.00 WIB – Polisi tiba di lokasi, mengamankan area dan memulai penyelidikan.
- 16.30 WIB – Bapak Sampurno mengeluarkan pernyataan resmi menolak klaim kebal.
- 17.00 WIB – Pejabat daerah menegaskan proses hukum terhadap pelaku.
Polisi setempat telah mengidentifikasi beberapa pelaku melalui rekaman CCTV dan saksi mata. Mereka kini berada dalam proses penahanan, sementara penyelidikan lebih lanjut sedang berlangsung untuk mengungkap motif di balik serangan tersebut.
Kasus ini menyoroti pentingnya keamanan bagi aparat desa yang berada di garis depan pelayanan publik. Meskipun menghadapi ancaman fisik, Bapak Sampurno tetap berkomitmen melindungi kepentingan warga dan menegakkan nilai-nilai kejujuran. Ia menekankan pentingnya dialog, mengajak semua pihak untuk menahan emosi, dan mencari penyelesaian melalui jalur hukum dan musyawarah.
Dengan demikian, insiden ini menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat untuk tidak menyebarkan rumor tanpa dasar serta menegakkan keadilan melalui prosedur resmi. Diharapkan, melalui proses hukum yang transparan dan sikap terbuka Bapak Sampurno, kedamaian dapat kembali pulih di Pakel.
Kesimpulannya, Jurus Kades Pakel yang ditunjukkan oleh Bapak Sampurno tidak melulu soal kekuatan fisik, melainkan keteguhan hati, keyakinan pada keadilan, dan keinginan kuat untuk menjaga perdamaian di tengah konflik.
