IPD – 15 April 2026 | Pemain keturunan Indonesia‑Belanda, Jordy Tutuarima, menegaskan bahwa situasi di Persis Solo menjelang akhir musim 2025/2026 sungguh tak terduga. Setelah menandatangani kontrak perpanjangan pada pertengahan Januari 2025, ia menjadi bagian penting Laskar Sambernyawa di posisi bek kiri. Namun, pada bursa transfer paruh musim, klub secara tiba‑tiba memutuskan untuk menyingkirkan seluruh skuad asing, termasuk dirinya, dengan alasan restrukturisasi yang belum dijelaskan secara transparan.
Menurut pernyataan Tutuarima yang dikutip oleh media Belanda, “Segalanya berjalan sangat aneh di sana. Seorang pelatih baru datang pada Januari, dan tiba‑tiba semua pemain asing harus pergi. Sembilan pemain: tiba‑tiba hilang.” Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan para pemain, karena klub tidak membayar gaji selama beberapa bulan setelah pemutusan kontrak. “Kami tidak diizinkan bergabung dengan klub lain di Indonesia setelah 6 Februari, bahkan tanpa kontrak. Ini membuat kami terjebak dalam limbo finansial,” ungkapnya.
Keputusan drastis itu memicu gelombang kritik dari kalangan pengamat sepak bola domestik. Sebagian besar analis menilai bahwa penarikan sembilan amunisi impor melanggar regulasi BRI Super League yang memperbolehkan maksimal lima pemain asing dalam satu skuad. Persis Solo tampaknya melanggar aturan tersebut tanpa memberikan klarifikasi resmi, sehingga menimbulkan spekulasi mengenai masalah internal manajemen klub, termasuk perselisihan antara dewan direksi dan pelatih baru yang datang pada Januari.
Sementara beberapa rekan setim berhasil menemukan klub baru, seperti Gervane Kastaneer yang melanjutkan karier di Terengganu FC (Liga Malaysia), Jordy harus mengakhiri masa baktinya di Indonesia. Karena bursa transfer telah ditutup, ia tidak dapat mendaftar ke tim Liga 1 atau Liga 2 lain. Pada akhir Maret 2025, Tutuarima mengumumkan kepulangannya ke Belanda dan memutuskan bergabung dengan klub amatir GVVV Veenendaal yang bermain di kasta ketiga Liga Belanda.
Peralihan dari kompetisi profesional ke level amatir tidak mengurangi semangatnya untuk tetap berkontribusi pada sepak bola. “Saya memutuskan untuk memasuki fase berbeda, dari sepak bola profesional ke amatir, demi keluarga dan kestabilan hidup,” kata Jordy dalam wawancara eksklusif. Ia menambahkan bahwa pengalaman di klub‑klub Asia, Yunani, dan Armenia telah memperkaya kariernya, namun usia 32 tahun membuatnya lebih memprioritaskan kesejahteraan pribadi.
Berikut adalah rangkuman singkat mengenai peristiwa yang melibatkan Persis Solo dan Jordy Tutuarima:
- Jordy Tutuarima bergabung dengan Persis Solo pada Januari 2025 dan mendapat perpanjangan kontrak untuk musim 2025/2026.
- Pada bursa transfer paruh musim, klub menyingkirkan sembilan pemain asing, termasuk Tutuarima.
- Klub tidak membayar gaji pemain asing selama beberapa bulan setelah pemutusan kontrak.
- Pemain asing tidak diizinkan mendaftar ke klub Indonesia lain setelah 6 Februari 2025.
- Tutuarima kembali ke Belanda dan bergabung dengan klub amatir GVVV Veenendaal.
Kasus ini menyoroti pentingnya kepastian kontrak dan transparansi manajerial dalam sepak bola Indonesia. Sementara Persis Solo berupaya memperbaiki struktur tim, pemain asing yang tersisa masih menunggu penyelesaian hak finansial mereka. Bagi Jordy Tutuarima, perjalanan karier yang penuh gejolak berakhir dengan keputusan untuk kembali ke tanah kelahiran, namun ia tetap optimis bahwa pengalaman tersebut akan menjadi pelajaran berharga bagi generasi pemain Indonesia‑Belanda yang ingin meniti karier di tanah air.
Dengan situasi yang masih berkembang, para pengamat dan penggemar sepak bola menanti klarifikasi resmi dari Persis Solo serta langkah-langkah penyelesaian yang adil bagi para pemain yang terdampak. Kejadian ini juga menjadi panggilan bagi otoritas liga untuk meninjau kembali kebijakan transfer asing agar tidak menimbulkan ketidakpastian serupa di masa mendatang.
