IPD – 15 April 2026 | Leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026 akan digelar pada Rabu, 15 April 2026, dini hari WIB di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid. Barcelona masuk ke laga tandang dengan defisit agregat 0-2 setelah kalah telak 2-0 di leg pertama di Camp Nou. Kegagalan tersebut diperparah dengan kartu merah yang diterima oleh bek asal Catalonia, Pau Cubarsi, sehingga tim asuhan Hansi Flick harus menyiapkan strategi khusus untuk mengatasi tekanan berat.
Meski berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, pelatih asal Jerman, Hansi Flick, menegaskan bahwa comeback masih memungkinkan bila Barcelona dapat tampil sempurna. Flick menekankan pentingnya konsistensi serangan, penguasaan bola, serta ketepatan eksekusi di setiap peluang. Ia menambahkan bahwa mentalitas tim harus kembali seperti pada era kejayaan, dengan semangat juang tinggi dan kebersamaan dalam ruang ganti.
Sejarah Barcelona memang mencatat beberapa remontada dramatis di kompetisi Eropa, yang paling ikonik terjadi pada 2016/17 melawan Paris Saint‑Germain. Pada saat itu, trio MSN (Lionel Messi, Luis Suárez, Neymar) memimpin serangan yang berhasil mengubah defisit 0-4 menjadi kemenangan 6-1 di leg kedua. Namun, keberhasilan tersebut terjadi di masa ketika skuad masih dipenuhi bintang dunia, sebuah kondisi yang kini tidak lagi dimiliki oleh Blaugrana. Meski demikian, Barcelona mencatat kemenangan 4-1 melawan Espanyol dalam derby La Liga pekan lalu, yang memberi sinyal positif bahwa lini serang masih memiliki potensi.
Di sisi lain, mantan bek Manchester United dan timnas Prancis, Patrice Evra, secara terbuka meragukan kemampuan Barcelona untuk membalikkan keadaan. Evra menilai bahwa ekspektasi tinggi terhadap remontada tidak sejalan dengan realitas performa tim saat ini. Ia menegaskan bahwa era kejayaan Barcelona telah berakhir, dan suporter sebaiknya berhenti mengharapkan “keajaiban” ala 2015. Menurut Evra, tekanan mental dan inkonsistensi pada panggung besar menjadi penghalang utama.
Atletico Madrid, yang dipimpin oleh Diego Simeone, memiliki catatan kuat ketika bermain di kandang pada kompetisi knockout UEFA. Statistik menunjukkan bahwa dalam 23 laga dua‑leg terakhir, tim Spanyol selalu melaju ke babak berikutnya bila berhasil memenangkan leg pertama di tandang. Pendekatan taktik Simeone yang mengedepankan pertahanan disiplin, pressing tinggi, dan serangan balik cepat menjadi tantangan berat bagi Barcelona yang mengandalkan penguasaan bola. Kiper Juan Musso juga menunjukkan performa gemilang, menambah keamanan lini belakang Atletico.
Situasi pemain juga menjadi faktor penentu. Selain kartu merah Cubarsi di leg pertama, Barcelona harus menyiapkan diri untuk kemungkinan insiden serupa. Pada leg kedua, bek tengah Eric García memang sempat mendapatkan kartu merah pada menit ke‑79, yang membuat tim bermain dengan sepuluh pemain. Kehilangan pemain kunci di lini belakang dapat memperparah risiko kebobolan, terutama menghadapi serangan balik cepat Atletico.
Dari perspektif taktis, Barcelona membutuhkan gol awal yang cepat untuk memaksa Atletico membuka pertahanan. Penggunaan sayap oleh Lamine Yamal dan Ferran Torres dapat menciptakan ruang bagi Pedri dan Gavi untuk menembus zona tengah. Namun, gaya bermain agresif tersebut menuntut keseimbangan, karena meninggalkan celah di lini bek dapat dimanfaatkan oleh pemain seperti Julian Álvarez atau Lookman. Jika Barcelona gagal mencetak dua gol tanpa balas sebelum akhir babak pertama, peluang mereka akan sangat berkurang.
Secara statistik, untuk melaju ke semifinal Barcelona harus mencetak minimal tiga gol tanpa balas di leg kedua, mengingat defisit dua gol dan potensi gol tambahan dari Atletico. Dengan kondisi tim yang belum stabil, kepercayaan diri yang terpecah, serta keunggulan taktik dan mentalitas Atletico di kandang, kemungkinan besar Barcelona tidak akan mampu mengulang sejarah remontada masa lalu.
Kesimpulannya, meski semangat juang dan harapan tetap ada, realita menunjukkan bahwa Barcelona kini tidak lagi menjadi raja remontada di Eropa. Atletico Madrid berada dalam posisi yang lebih menguntungkan, dengan kombinasi taktik disiplin, keunggulan kandang, dan catatan konsistensi yang kuat. Jika Barcelona ingin menantang prediksi skeptis, mereka harus menampilkan permainan hampir sempurna, sesuatu yang belum tampak pada leg pertama.
