Israel Perluas Serangan ke Lebanon: Mengungkap Sejarah Panjang Konflik dan Dampak Terbaru

IPD – 26 Maret 2026 | Israel kembali meningkatkan intensitas serangan darat dan udara terhadap wilayah selatan Lebanon, menandai fase baru dalam konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun antara Israel dan kelompok milisi Hizbullah serta pendahulunya, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Sejarah Operasi Militer Israel di Lebanon

Serangkaian operasi besar pertama kali dimulai pada akhir 1970-an. Pada Juni 1978, Israel melancarkan Operasi Litani untuk mengusir PLO yang beroperasi di perbatasan selatan Lebanon setelah serangkaian serangan gerilya menewaskan warga sipil di Israel utara. Operasi tersebut menembus hingga Sungai Litani, menewaskan lebih dari 1.100 warga Lebanon dan Palestina, serta menimbulkan penempatan pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di zona yang kemudian dikenal sebagai Garis Biru.

Puncak eskalasi pertama terjadi pada Maret 1979, ketika Israel menindak PLO yang menembakkan roket ke wilayah Israel, memaksa pasukan Israel bergerak maju hingga ke wilayah pedalaman Lebanon. Meskipun gencatan senjata singkat tercapai, ketegangan tetap berlanjut.

Konflik memuncak pada Juni 1982, ketika Menteri Pertahanan Ariel Sharon memerintahkan invasi besar‑besar yang menembus hingga pusat Beirut. Selama dua bulan pengepungan, ribuan warga sipil tewas, termasuk korban dari Lebanon, Palestina, dan Suriah. Angka kematian yang dilaporkan berkisar antara 15.000‑19.000 jiwa, sementara Israel mencatat 376 tentaranya gugur.

Setelah 2000, Israel secara resmi menarik pasukannya dari selatan Lebanon, namun kehadiran milisi Hizbullah yang didukung Iran tetap menjadi faktor utama ketegangan di perbatasan.

Eskalas i Terbaru 2026

Pada Maret 2026, militer Israel secara resmi mengumumkan perluasan zona keamanan dengan menembus lebih dalam ke wilayah Lebanon. Serangan udara menargetkan jembatan Qasmiyeh di dekat Tyre, infrastruktur sipil yang selama ini menjadi jalur penting bagi penduduk. Pihak militer Israel mengklaim jembatan tersebut dipakai Hizbullah untuk mengirim bala bantuan, sementara pengamat menilai tindakan itu sebagai upaya memutus koneksi selatan Lebanon dari pusat negara.

Hizbullah menanggapi dengan meluncurkan lebih dari 80 serangan roket pada satu hari, mencatat rekor tertinggi sejak permusuhan memuncak kembali pada awal Maret. Israel melaporkan enam roket berhasil dicegat, namun sejumlah tentara mengalami luka serius akibat tembakan roket dan mortir.

Pasukan darat Israel juga dilaporkan bergerak hingga 30 kilometer ke dalam Lebanon, mendekati Sungai Litani, area yang dulu menjadi batas operasi Litani 1978. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan tujuan zona penyangga untuk mencegah invasi darat lebih luas dan menahan serangan rudal Hizbullah.

Dampak Kemanusiaan dan Respon Internasional

Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak awal serangan hingga akhir Maret 2026, lebih dari 1.000 warga tewas dan hampir 3.000 lainnya terluka. Lebih dari satu juta orang mengungsi, banyak di antaranya mengaku tidak dapat kembali ke rumah mereka karena kerusakan infrastruktur dan ancaman berkelanjutan.

Perserikatan Bangsa‑Bangsa melalui Sekjen Antonio Guterres menyerukan gencatan senjata segera dan memperingatkan agar Israel tidak meniru “model Gaza” di Lebanon Selatan, yang berpotensi memicu pengungsian massal.

Negara‑negara penjamin keamanan regional, termasuk Amerika Serikat, mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas kemungkinan terjadinya perang terbuka yang meluas. Namun, hingga kini tidak ada jalur diplomatik yang berhasil menurunkan ketegangan, terutama setelah Presiden Lebanon menolak usulan negosiasi langsung dengan Israel.

Konflik yang kini melibatkan serangan udara, artileri, serta operasi darat ini menegaskan pola lama: penggunaan infrastruktur sipil sebagai target strategis, penciptaan zona penyangga, dan dampak kemanusiaan yang berat. Sejarah panjang operasi militer Israel di Lebanon, mulai dari Litani 1978 hingga invasi 1982, terus menjadi bayang‑bayang dalam strategi militer terbaru.

Jika tidak ada upaya mediasi yang kuat, risiko eskalasi lebih lanjut tetap tinggi, menambah beban bagi warga sipil Lebanon yang telah lama hidup dalam bayang‑bayang konflik.

Leave a Comment