Israel Lakukan Serangan Terbesar di Lebanon Usai Gencatan Senjata Iran-AS, Ratusan Korban Tewas

IPD – 09 April 2026 | Israel melancarkan serangan udara terbesar sejak dimulainya kembali operasi militer di Lebanon pada 2 Maret, tepat setelah pengumuman gencatan senjata bersyarat antara Iran dan Amerika Serikat. Menurut data yang dikumpulkan oleh lembaga kesehatan Lebanon, minimal 254 warga sipil tewas dan lebih dari 1.165 orang terluka dalam serangan yang menargetkan wilayah padat penduduk di Beirut, Lembah Bekaa, serta daerah selatan negara itu.

Serangan yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari sepuluh menit itu menimpa lebih dari seratus target, termasuk infrastruktur yang diklaim sebagai basis operasi Hezbollah. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa tujuan utama serangan adalah menghancurkan jaringan komando dan logistik kelompok militan yang didukung Iran. “Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang pernah kami lakukan terhadap Hezbollah sejak operasi pager tahun 2024,” kata Katz dalam sebuah pernyataan video.

Namun, Israel mengakui bahwa sebagian besar target berada di tengah-tengah pemukiman sipil. Dalam upaya mengurangi korban sipil, pihak militer mengklaim telah menggunakan peringatan dini dan teknik penargetan presisi. Meskipun demikian, asap tebal terlihat melayang di atas kawasan pusat Beirut dan pinggiran selatan, menandakan dampak destruktif yang signifikan.

Di lapangan, tim medis Lebanon bekerja tanpa henti. Rumah Sakit Umum Beirut melaporkan hampir 500 pasien dalam kondisi kritis, sementara ambulans terus berkeliling untuk mengevakuasi korban. Menteri Kesehatan Rakan Nassereddine meminta bantuan internasional, menyoroti tekanan berat yang dihadapi sistem kesehatan negara tersebut. “Kita menghadapi eskalasi berbahaya dan membutuhkan dukungan segera dari organisasi internasional,” ujarnya.

Hezbollah mengecam serangan tersebut sebagai aksi keji yang menargetkan warga sipil. Pimpinan partai, Hassan Nasrallah, menyebut serangan itu sebagai “kejahatan perang” dan menegaskan bahwa perlawanan akan terus berlanjut. Di sisi lain, Ketua DPR Lebanon, Nabih Berri, menyebut insiden tersebut sebagai “kejahatan perang total” dan menyerukan intervensi PBB untuk menghentikan aksi militer Israel.

Komunitas internasional memberikan reaksi beragam. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa “serangan yang menargetkan penduduk sipil tidak dapat dibenarkan” dan menyerukan penarikan semua pasukan serta pemulihan perdamaian. Sementara itu, Uni Eropa menyebut gencatan senjata Iran-AS sebagai “langkah menuju de‑eskalasi” namun menambahkan bahwa tindakan Israel di Lebanon harus dihentikan untuk memastikan stabilitas regional.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa gencatan senjata bersyarat tidak mencakup konflik Israel‑Hezbollah. “Perjanjian ini hanya mengatur pembukaan Selat Hormuz dan menghentikan serangan terhadap Iran,” ujar Trump dalam konferensi pers. Namun, ia menambahkan bahwa Amerika Serikat siap memfasilitasi pembicaraan damai antara Israel dan Lebanon jika kedua pihak mau bernegosiasi.

Pembicaraan gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada awal minggu ini ternyata tidak mengikat Israel secara langsung. Menurut laporan, perjanjian mencakup lima poin utama: penghentian serangan terhadap Iran, pembukaan Selat Hormuz, penghentian penembakan ke wilayah GCC, serta penarikan semua pasukan asing dari wilayah sengketa. Namun, tidak ada klausul yang secara eksplisit menyebutkan penghentian operasi Israel di Lebanon.

Di tengah krisis, beberapa negara menyiapkan langkah untuk melindungi kepentingan mereka. Jepang dan Korea Selatan mengumumkan upaya untuk memastikan kapal mereka dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Sementara itu, Uni Emirat Arab melaporkan peningkatan kesiapan pertahanan udara setelah menembak jatuh beberapa rudal yang diduga berasal dari Iran.

Analisis militer menunjukkan bahwa serangan Israel bertujuan mengirimkan sinyal kuat kepada Iran dan sekutunya, sekaligus menegaskan bahwa operasi melawan Hezbollah akan berlanjut terlepas dari tekanan diplomatik. Profesor Andreas Krieg dari King’s College London berpendapat, “Israel ingin menunjukkan bahwa keputusan tentang tempo konflik di Lebanon berada di tangan mereka, bukan mediator atau sekutu lain.”

Dengan lebih dari seratus rumah sakit di Lebanon yang kini kelebihan beban, situasi kemanusiaan menjadi semakin kritis. Organisasi bantuan internasional seperti Palang Merah dan UNICEF telah mengirimkan tim darurat, namun mereka mengakui kebutuhan akan bantuan medis dan logistik yang jauh lebih besar.

Sejauh ini, tidak ada laporan resmi tentang intervensi militer tambahan dari Iran ke arah Lebanon. Namun, pernyataan resmi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan kesiapan mereka untuk merespon setiap agresi lebih lanjut, meskipun menekankan bahwa Iran tetap menghormati gencatan senjata yang disepakati.

Ketegangan di wilayah Levant ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik ke negara-negara tetangga, termasuk Suriah dan Yordania. Pihak keamanan Israel terus meningkatkan kesiapan pertahanan udara, sementara kelompok militan di wilayah Gaza juga mengawasi situasi dengan seksama, mengingat potensi dampak terhadap konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.

Dengan ribuan korban dan infrastruktur yang hancur, Lebanon kini berada pada titik kritis yang menuntut tindakan cepat dari komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan, menyediakan bantuan kemanusiaan, serta membuka jalur dialog yang dapat mengembalikan stabilitas dan perdamaian di wilayah yang telah lama dilanda konflik.

Leave a Comment