IPD – 09 April 2026 | Turnamen FA Cup musim ini kembali menjadi panggung sengit yang memunculkan beragam cerita di luar lapangan. Pada perempat final yang digelar di London Stadium, West Ham United harus menelan kekalahan dramatis melawan Leeds United lewat adu penalti. Kemenangan Leeds tidak hanya didorong oleh tendangan akhir Pascal Struijk, tetapi juga menimbulkan sorotan terhadap dua isu penting: komplain resmi West Ham kepada FIFA mengenai ketersediaan pemain Aaron Wan-Bissaka, serta keberlanjutan peran asisten wasit yang sedang berada di bawah penyelidikan polisi karena dugaan perilaku misoginis.
Babak pertama berakhir dengan Leeds unggul 2-0, namun Hammers berhasil bangkit dan menyamakan kedudukan menjelang akhir menit pertama babak kedua. Pertandingan meluas ke perpanjangan waktu, namun kedua tim tidak mampu mencetak gol tambahan, memaksa duel penalti yang menegangkan. Di antara para penendang, Pascal Struijk tampil tenang. Dalam sebuah wawancara dengan BBC Radio Leeds, Struijk mengungkapkan bahwa ia merasa “calm and ready” sebelum mengeksekusi tendangan yang akhirnya melesat masuk ke pojok kanan gawang, memastikan Leeds melaju ke semifinal. Ia menambahkan bahwa sorakan dan gestur intimidasi dari suporter lawan tidak mengganggu fokusnya.
Sementara di sisi lain, West Ham United tidak hanya harus menelan kekalahan. Klub asal London mengajukan keluhan resmi kepada FIFA terkait absennya bek kanan Aaron Wan-Bissaka pada laga penting tersebut. Menurut laporan The Athletic, Wan-Bissaka sedang berada di Afrika Tengah bersama tim nasional DR Kongo untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia. Setelah kemenangan dramatis atas Jamaika dalam laga playoff, Wan-Bissaka dijadwalkan kembali ke London untuk persiapan FA Cup. Namun, manajemen West Ham menolak permintaan perpanjangan masa tinggalnya di Kinshasa, memaksa pemain tersebut kembali ke Inggris dengan jadwal penerbangan yang dipercepat. Akibatnya, ia tidak dapat hadir dalam tim utama melawan Leeds. Klub menilai keputusan ini mengganggu integritas kompetisi dan mengklaim bahwa federasi sepakbola DR Kongo tidak memberikan izin resmi untuk penarikan pemain kembali.
Komplain West Ham menyoroti dua hal utama: pertama, hak pemain untuk berpartisipasi dalam perayaan internasional setelah pencapaian bersejarah; kedua, dampak potensial terhadap posisi klub di klasemen Premier League, di mana West Ham tengah berjuang menghindari degradasi. Jika Leeds melaju ke semifinal, peluang West Ham untuk mendapatkan dorongan moral dan finansial melalui kompetisi domestik berkurang secara signifikan.
Di luar lapangan, kontroversi lain muncul terkait seorang linesman yang tetap diberi tugas pada pertandingan FA Cup meskipun sedang berada di bawah penyelidikan polisi. Richard West, seorang sergeant Humberside Police sekaligus asisten wasit berpengalaman, ditangguhkan dari tugas publik kepolisian akibat dugaan perilaku misoginis terhadap rekan perempuan. Meskipun demikian, otoritas sepakbola Inggris (FA dan PGMOL) membiarkannya tetap mengemban tugas sebagai linesman, dengan bayaran sekitar £60.000 untuk musim ini. West juga terlibat dalam kasus manipulasi jadwal kerja untuk menghindari interaksi dengan rekan kerja laki-laki, serta dugaan kontak tidak diinginkan melalui ponsel.
Kasus West menimbulkan pertanyaan etis tentang kebijakan seleksi ofisial pertandingan. Sebagian pengamat menilai bahwa FA seharusnya menahan atau meninjau kembali peran ofisial yang berada dalam proses hukum, mengingat standar integritas yang diharapkan dalam kompetisi bergengsi seperti FA Cup. Namun, FA berargumen bahwa belum ada keputusan hukum final, sehingga mereka tidak dapat secara otomatis menangguhkan peran West.
Dengan Leeds United melaju ke semifinal, fokus klub kini beralih pada persiapan melawan lawan berikutnya, sementara West Ham berupaya mengembalikan posisi mereka di papan klasemen Premier League. Kedua klub masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki nasib masing-masing, baik di kompetisi domestik maupun internasional.
Secara keseluruhan, perempat final FA Cup tahun ini tidak hanya menampilkan aksi menegangkan di lapangan, tetapi juga menyoroti dinamika kebijakan klub, hak pemain, serta standar perilaku ofisial. Semua elemen ini memperkaya narasi kompetisi yang selalu menjadi sorotan publik, menegaskan bahwa sepakbola modern tidak dapat dipisahkan dari isu-isu sosial, hukum, dan administratif yang semakin kompleks.
