IPD – 12 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan dukungannya terhadap aksi penangkapan massal ikan sapu‑sapu yang kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan ibukota. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada wartawan pada Sabtu, 11 April 2026, ia menyoroti bahaya spesies asing asal Amerika Selatan ini, baik dari segi kesehatan konsumen maupun dampak ekologis.
Ikan sapu‑sapu (Pterygoplichthys spp.) dikenal memiliki daya tahan tubuh luar biasa, mampu bertahan di lingkungan dengan kualitas air yang buruk, dan memiliki pola makan yang sangat fleksibel. Kemampuan memakan hampir segala jenis organik membuatnya dapat mengonsumsi telur ikan lokal, larva, serta material organik lain di dasar sungai. Pramono menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut mengancam populasi ikan endemik seperti wader dan spesies lainnya yang bergantung pada habitat alami di sungai‑sungai Jakarta.
Selain mengganggu rantai makanan, Pramono menekankan potensi risiko kesehatan manusia. Karena ikan sapu‑sapu dapat memakan sampah, limbah industri, dan bahan kimia yang tercemar, dagingnya berpotensi mengandung zat‑zat berbahaya. “Karena dia makan apa saja, tentu saja dagingnya dapat terkontaminasi zat berbahaya,” tegasnya, menambah urgensi untuk menghentikan konsumsi ikan tersebut.
Gubernur menilai bahwa penangkapan ikan sapu‑sapu harus dilakukan secara masif. Ia memuji inisiatif yang telah dilaksanakan oleh Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) bersama Wali Kota Jakarta Pusat, serta dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP). Operasi terbaru di aliran Kali Cideng, tepatnya di depan Plaza Indonesia dan Grand Hyatt, berhasil menangkap 41 ekor ikan sapu‑sapu berukuran besar. Tim lapangan yang terlibat terdiri atas sekitar 100 personel, termasuk petugas KPKP, Satpol PP, serta relawan masyarakat.
Berikut rangkaian langkah yang diambil selama operasi penangkapan:
- Pengamatan awal dilakukan dengan mengambil sampel air; hasil menunjukkan ambang batas pencemaran melebihi standar baku lingkungan.
- Koordinasi lintas‑seksi antara PPSU, Dinas KPKP, dan Pemerintah Kota Jakarta Pusat untuk menyiapkan peralatan penangkap, seperti jaring selektif dan wadah penampungan.
- Penangkapan dilakukan secara bergantian sepanjang hari, dengan fokus pada titik-titik yang paling padat populasi sapu‑sapu.
- Setelah penangkapan, ikan-ikan yang berhasil diangkat dibawa ke lokasi karantina untuk analisis laboratorium guna mengidentifikasi tingkat kontaminasi.
- Data hasil penangkapan dan analisis akan dijadikan dasar kebijakan lanjutan, termasuk kemungkinan pengembangan program pemusnahan atau pemanfaatan bahan baku alternatif.
Pramono juga menyinggung pentingnya edukasi publik. Ia mengajak warga Jakarta untuk tidak menyebarluaskan video atau foto penangkapan tanpa konteks yang jelas, serta menghindari konsumsi ikan sapu‑sapu. “Jika dibiarkan, ikan‑ikan lain akan hilang, dan ekosistem sungai kita akan terganggu secara permanen,” pungkasnya.
Langkah penangkapan massal ini tidak hanya bersifat reaktif, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta untuk mengendalikan spesies invasif. Pemerintah berencana memperluas operasi ke sungai‑sungai lain seperti Kali Ciliwung dan Kali Sunter, dengan target penurunan populasi sapu‑sapu minimal 30 persen dalam enam bulan ke depan.
Dengan dukungan penuh dari gubernur, aparat, dan masyarakat, diharapkan ekosistem sungai Jakarta dapat pulih, menjaga keberagaman hayati, serta melindungi kesehatan publik dari potensi kontaminasi makanan air.
