Wardatina Mawa Pakai Baju Putih di Sidang Cerai, Insanul Fahmi Bantah Itu Baju Akad

IPD – 12 April 2026 | Jakarta, 11 April 2026 – Pengusaha dan tokoh publik Insanul Fahmi memberikan klarifikasi terkait tuduhan istri pertamanya, Wardatina Mawa, yang mengklaim mengenakan gaun putih yang sama dengan baju akad nikah saat sidang perceraian pertama mereka di Pengadilan Agama Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Dalam pernyataan yang disampaikan di kantor Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Jumat (10/4/2026), Insanul menegaskan bahwa pakaian putih yang dipakai Wardatina hanyalah “baju putih biasa” dan bukan baju akad pernikahan.

“Enggak sih, kayaknya… bukan baju akad sih. Baju putih saja sih. Kalau menurut aku itu cuma sekadar baju putih,” ujar Insanul Fahmi dengan nada santai namun tegas. Ia menambahkan bahwa ia tidak menemukan kesamaan antara pakaian yang dikenakan Wardatina di persidangan dengan pakaian yang dipakai pada acara akad tujuh tahun lalu. “Kayaknya baju akad nggak begitu soalnya, jadi nggak tahu ya,” tambahnya.

Sementara itu, Wardatina Mawa melalui akun Instagram pribadi @wardatinamawa mengungkapkan makna emosional di balik pemilihan gaun putih tersebut. Menurutnya, gaun putih lengkap dengan cadar yang ia kenakan pada 25 Maret 2026 di pengadilan menyimpan “gema akad” dan mengulang janji “selamanya” yang pernah diucapkan pada hari pernikahan. “Baju warna putih ini masih menyimpan gema akad itu, setiap detiknya seperti mengulang kata ‘selamanya’ yang pernah kita yakini,” tulisnya dalam caption yang disertai foto dirinya di ruang sidang.

Kontroversi ini muncul setelah laporan perselingkuhan yang diajukan Wardatina pada November 2025 ke Polda Metro Jaya, menuding Insanul Fahmi berselingkuh dengan Inara Rusli dan bahkan melakukan pernikahan siri. Laporan tersebut dilengkapi dengan bukti rekaman CCTV yang masih dalam proses penyelidikan oleh penyidik. Hingga kini, proses hukum belum menghasilkan putusan final, namun intensitas sorotan publik semakin meningkat seiring dengan penampilan Wardatina di sidang cerai.

Berbagai media lokal dan nasional, termasuk JPNN.com dan kumparanHITS, menyoroti perdebatan ini. Kedua outlet menuliskan bahwa publik memperdebatkan apakah pemilihan pakaian putih oleh Wardatina memang sengaja mengirimkan pesan simbolik atau sekadar pilihan pribadi. Meski demikian, Insanul menolak interpretasi tersebut dan menegaskan bahwa ia tidak merasa tersindir atau menafsirkan maksud tertentu dari busana tersebut.

Para pengamat sosial budaya mengingatkan bahwa dalam tradisi perkawinan Indonesia, terutama di kalangan Muslim, warna putih memang sering diasosiasikan dengan kesucian dan awal baru. Namun, penggunaan warna yang sama dalam konteks perceraian dapat menimbulkan ambiguitas simbolik yang menarik untuk dikaji. “Pemilihan warna putih di persidangan perceraian bisa jadi merupakan upaya mengingatkan publik akan nilai-nilai pernikahan, atau sekadar strategi media untuk menarik perhatian,” ujar Dr. Siti Aisyah, dosen sosiologi Universitas Indonesia, dalam sebuah wawancara singkat.

Sidang perceraian yang digelar di Pengadilan Agama Lubuk Pakam tersebut dipimpin oleh hakim yang menegaskan bahwa proses hukum tetap mengedepankan objektivitas. “Kami menilai semua bukti dan saksi secara adil, tanpa terpengaruh oleh simbol atau penampilan pihak yang bersengketa,” kata hakim dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari yang sama.

Sejauh ini, tidak ada pernyataan resmi dari Inara Rusli terkait tuduhan yang dilontarkan oleh Wardatina. Kedua belah pihak tampaknya masih berada pada posisi masing-masing, dengan proses penyidikan yang masih berlangsung. Sementara itu, publik terus memantau perkembangan kasus ini melalui media sosial, di mana komentar beragam mulai dari dukungan terhadap Wardatina hingga kritik terhadap penggunaan busana sebagai alat retorika.

Kasus ini mencerminkan dinamika hubungan pribadi yang kini terbuka di ranah publik, serta menyoroti peran media dalam membentuk persepsi tentang simbol-simbol tradisional seperti baju putih dalam konteks hukum keluarga. Bagaimana proses hukum selanjutnya akan memutuskan, serta apakah simbol pakaian tersebut akan terus menjadi bahan perbincangan, masih menjadi pertanyaan terbuka bagi masyarakat.

Leave a Comment