IPD – 09 April 2026 | Pasar logam mulia kembali menunjukkan penguatan signifikan pada Rabu kemarin, dengan harga emas (XAU/USD) menembus level $4.735 per ons, naik lebih dari 0,70 persen. Kenaikan ini dipicu oleh tiga faktor utama: gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta penurunan tajam harga minyak mentah.
Gencatan senjata yang diumumkan pada Selasa menjadi katalis utama yang menurunkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kedua belah pihak, AS dan Iran, sepakat menahan konflik selama dua minggu, sambil menyiapkan pertemuan delegasi di Pakistan pada Jumat mendatang. Presiden Amerika Serikat saat itu menegaskan bahwa gencatan ini terkait dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini diblokir sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Meskipun demikian, konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon tetap berlanjut, menambah ketidakpastian bagi investor.
Di sisi lain, dolar AS mengalami tekanan berat, tercatat pada level terendah dalam empat minggu terakhir pada indeks DXY (Dollar Index). Penurunan nilai dolar memberikan dorongan langsung bagi emas, yang secara tradisional berbanding terbalik dengan mata uang hijau. Dolar yang melemah mengurangi biaya relatif emas bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan safe‑haven.
Harga minyak mentah, terutama West Texas Intermediate (WTI), juga mengalami penurunan tajam hampir 14 persen, menembus batas $95 per barel. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh harapan pasar bahwa gencatan senjata akan menurunkan risiko gangguan suplai energi di wilayah tersebut. Karena minyak dan dolar memiliki hubungan erat, penurunan harga minyak menambah beban pada dolar, yang selanjutnya memperkuat tren kenaikan emas.
Berbagai analis pasar menilai bahwa sentimen positif ini bersifat sementara dan masih dipengaruhi oleh sejumlah variabel penting. Pada hari Kamis mendatang, para pelaku pasar akan memantau data ekonomi utama Amerika Serikat, termasuk klaim pengangguran minggu lalu, hasil akhir Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ke‑4 2025, serta indeks harga pribadi konsumsi inti (Core PCE) yang menjadi tolak ukur inflasi bagi Federal Reserve (Fed). Data tersebut dapat mengubah ekspektasi kebijakan moneter dan, pada gilirannya, mempengaruhi pergerakan dolar serta emas.
Secara teknikal, grafik harian XAU/USD masih berada dalam tren naik, namun terdapat risiko penurunan jika harga gagal menembus rata‑rata bergerak sederhana (SMA) 50‑hari pada $4.779. Kegagalan menutup harian di atas level tersebut dapat membuka peluang pull‑back ke SMA 20‑hari di $4.723. Indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan momentum yang masih menguat, namun volatilitas tetap tinggi mengingat ketidakpastian geopolitik yang belum terselesaikan.
Jika tekanan jual kembali muncul dan emas turun di bawah $4.700, support pertama terletak pada SMA 100‑hari di $4.620, sebelum menguji level terendah harian 2 April pada $4.554. Di sisi lain, jika sentimen tetap positif, emas dapat melanjutkan penguatannya hingga menembus level resistensi psikologis $4.850, mendekati puncak tiga minggu yang tercatat sebelumnya.
Bank‑bank sentral global, termasuk Federal Reserve, kini memperlihatkan penurunan kekhawatiran terhadap gelombang inflasi kedua yang dipicu oleh gejolak energi. Sebelum gencatan senjata, pasar memperkirakan Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Namun, setelah negosiasi mulai berjalan, perkiraan pelonggaran kebijakan moneter sebesar hampir 10 basis poin hingga akhir tahun mulai muncul di antara para analis.
Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, faktor fundamental lain yang mendukung kenaikan harga emas meliputi penurunan permintaan greenback dalam perdagangan internasional serta penurunan permintaan minyak yang mengurangi tekanan pada dolar. Secara historis, emas telah menjadi aset pelindung nilai (safe‑haven) yang kuat saat inflasi melambat dan mata uang utama melemah.
Kesimpulannya, kenaikan harga emas pada minggu ini mencerminkan interaksi kompleks antara geopolitik, kebijakan moneter, dan dinamika pasar energi. Meskipun gencatan senjata AS‑Iran memberikan dorongan positif, ketidakpastian yang masih tersisa di Timur Tengah serta data ekonomi AS yang akan datang dapat menimbulkan volatilitas tinggi. Investor sebaiknya terus memantau perkembangan negosiasi, pergerakan dolar, serta indikator ekonomi utama untuk menilai arah pergerakan emas dalam jangka pendek hingga menengah.
