IPD – 22 April 2026 | Sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook pada 21 April 2026 di Pengadilan Tipikor Jakarta menjadi panggung emosional bagi Arby W. Manangsa, kepala SMP Nusantara di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Saat dipanggil sebagai saksi meringankan, Arby tidak dapat menahan tangisnya ketika diminta menjelaskan peran Chromebook dalam mengubah wajah pendidikan di sekolahnya.
Arby mengawali kesaksiannya dengan menggambarkan kondisi SMP Nusantara sebelum menerima bantuan teknologi. Ia menyebut sekolah itu sebagai “sekolah buangan”, tempat menampung anak-anak putus sekolah dan mereka yang dianggap nakal. Fasilitas minim, ruang kelas berdebu, dan akses internet hampir tidak ada. Menurutnya, stigma tersebut melekat selama bertahun‑tahun, menjauhkan potensi siswa dari peluang belajar yang lebih baik.
Poin krusial dalam kesaksian Arby adalah transformasi yang terjadi setelah Sekolah menerima 15 unit Chromebook beserta perangkat pendukung pada Juni 2021. Program digitalisasi yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim membuka pintu bagi guru untuk mengadopsi metode pembelajaran yang lebih variatif. Dengan Chromebook, materi dapat diakses secara daring, tugas dapat dikumpulkan secara elektronik, dan kolaborasi antar siswa menjadi lebih mudah.
Arby menuturkan beberapa dampak konkret. Pertama, tingkat kehadiran siswa meningkat signifikan, karena proses belajar menjadi lebih menarik dan relevan dengan dunia digital. Kedua, prestasi akademik menunjukkan peningkatan; rata‑rata nilai ujian nasional naik dari 58 menjadi 73 dalam dua tahun. Ketiga, sejumlah siswa berhasil melanjutkan pendidikan ke luar negeri, termasuk satu lulusan yang kini melanjutkan studi di Vietnam, sebuah pencapaian yang dulu tak terbayangkan bagi warga Sorong.
Selain hasil akademik, Arby menekankan perubahan persepsi masyarakat terhadap SMP Nusantara. Sekolah yang dulunya dikenal sebagai “sekolah buangan” kini menjadi pilihan utama bagi orang tua yang menginginkan pendidikan modern bagi anaknya. Banyak warga setempat yang mengakui bahwa kehadiran Chromebook memicu semangat belajar, mengurangi angka putus sekolah, dan membuka peluang kerja bagi lulusan yang terampil dalam teknologi.
Dalam sidang, kuasa hukum Nadiem mengajukan pertanyaan mengenai efektivitas Chromebook dalam proses belajar mengajar. Arby menjawab dengan suara serak, mengakui bahwa tanpa dukungan kebijakan digitalisasi, sekolahnya tidak akan mampu mencapai kemajuan tersebut. Ia menambahkan bahwa program tersebut tidak hanya memberikan perangkat keras, melainkan juga pelatihan bagi guru dalam memanfaatkan teknologi secara optimal.
Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU) Roy Riady menyampaikan keberatan terhadap kehadiran seorang konsultan pendidikan, Ina Setiawati Liem, yang dianggap sebagai buzzer politik. Meskipun demikian, hakim memutuskan untuk tetap menerima keterangannya sebagai ahli. Kontroversi ini menambah dinamika persidangan, namun tidak mengurangi fokus utama pada dampak nyata Chromebook bagi sekolah.
Para pengamat pendidikan menilai bahwa kasus ini menyoroti tantangan implementasi kebijakan digital di Indonesia. Sementara ada tuduhan korupsi dalam proses pengadaan, bukti lapangan yang diungkapkan oleh Arby menunjukkan bahwa perangkat tersebut memang dapat menjadi katalisator perubahan jika dikelola dengan transparan dan didukung pelatihan yang memadai.
Kesaksian Arby menutup dengan ucapan terima kasih kepada Nadiem dan Kemendikbudristek atas program digitalisasi yang telah mengubah nasib ribuan siswa. Ia berharap kasus ini tidak mengaburkan nilai positif dari kebijakan teknologi, melainkan menjadi pelajaran penting untuk memperbaiki mekanisme pengadaan serta memastikan manfaatnya dirasakan secara merata di seluruh pelosok negeri.
Dengan demikian, sidang tidak hanya menjadi ajang hukum, melainkan juga panggung untuk menyoroti keberhasilan transformasi digital di SMP Nusantara Sorong. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa Chromebook dapat berperan sebagai alat pembelajaran yang mengangkat kualitas pendidikan, terutama di daerah yang sebelumnya terpinggirkan.
