IPD – 20 April 2026 | Salju abadi yang selama ini menjadi ikon Puncak Jaya, Papua, kini berada di ambang kepunahan. Pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, hamparan putih yang dulu menjadi kebanggaan sekaligus anomali di khatulistiwa mulai menipis drastis. Hasil pemantauan satelit dan penelitian ilmiah mengonfirmasi bahwa Indonesia akan kehilangan satu-satunya gletser tropisnya dalam hitungan tahun.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa pada akhir 2024 luas tutupan es di Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, hanya menyisakan antara 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi. Angka ini menurun tajam dibandingkan dekade sebelumnya, ketika luasnya masih mencapai lebih dari dua kilometer persegi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Climate Chronicles edisi April 2026, bagian dari Nature Reviews Earth & Environment, menegaskan tren global. Gletser di seluruh dunia telah kehilangan sekitar 408 gigaton es pada tahun 2025, menjadikan tahun tersebut tahun terburuk keenam sejak pencatatan pertama pada 1975.
Mekanisme Penyusutan Gletser
Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., pakar Hidrometeorologi, Iklim Perkotaan, dan Klimatologi Lingkungan dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa radiasi matahari gelombang pendek menjadi energi utama yang memicu pencairan. Nilai albedo, yaitu rasio energi matahari yang dipantulkan kembali ke atmosfer, menurun drastis ketika tutupan es menghilang. Gletser memiliki albedo tertinggi; bila menutupi permukaan batuan gelap, energi yang dipantulkan berkurang, sehingga lebih banyak panas diserap.
“Penggunaan lahan yang masif, seperti pembukaan hutan untuk pertanian atau pemukiman, menurunkan albedo secara signifikan,” ujar Dr. Emilya. “Ketika es mencair dan batuan di bawahnya terbuka, suhu lokal meningkat, menciptakan efek umpan balik yang mempercepat pencairan lebih lanjut.”
Sejarah Penurunan Eksponensial
Catatan sejarah mencatat bahwa pada tahun 1623 pelaut Belanda Jan Carstenszoon melaporkan keberadaan gunung bersalju di ekuator, meski pada masa itu dianggap legenda oleh sebagian orang Eropa. Pada era Revolusi Industri (sekitar 1850), luas es di Pegunungan Jayawijaya diperkirakan mencapai 19 kilometer persegi. Namun, dalam satu setengah abad angka tersebut menyusut drastis:
- 2002: 2 km²
- 2018: 0,46 km²
- 2024: 0,11–0,16 km²
Ketebalan es juga mengalami penurunan drastis. Pada tahun 2010, ketebalan rata-rata masih 32 meter. Enam tahun kemudian, menurun menjadi 22 meter, dan pada akhir 2023 hanya tersisa sekitar 2 meter di titik pemantauan utama.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Kehilangan gletser tidak hanya mengurangi keindahan panorama Puncak Jaya, tetapi juga memengaruhi keseimbangan ekosistem. Dr. Emilya mengingatkan bahwa volume air laut yang meningkat akibat mencairnya es di pegunungan tinggi berkontribusi pada kenaikan muka air laut. Dampak ini dirasakan secara langsung di wilayah pesisir, termasuk Semarang dan pantai utara Jawa, yang kini lebih rentan terhadap abrasi dan banjir rob.
Selain itu, gletser tropis berperan penting dalam menciptakan mikroklimat yang mendukung flora dan fauna sub‑alpin. Hilangnya massa es diprediksi akan mengubah struktur ekosistem, memaksa spesies yang terbiasa dengan suhu dingin mencari habitat baru yang semakin terbatas.
Kehilangan Identitas Budaya
Bagi masyarakat adat Suku Amungme, puncak yang mereka sebut Nemangkawi Ninggok merupakan bagian tubuh dewa, dengan salju sebagai kepala dewa. Mencairnya es berarti hilangnya simbol kesucian yang dijaga turun‑temurun. Kehilangan mahkota putih ini sekaligus mengikis warisan budaya yang telah terukir dalam kepercayaan mereka.
Proyeksi 2026 dan Tindakan Mitigasi
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa suhu permukaan di Puncak Jaya sudah sering berada di atas titik leleh 0°C, menjadikan kelangsungan es hampir tidak mungkin. Meskipun fenomena El Nino mempercepat pencairan, penyebab utama tetap pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca.
Tanpa langkah mitigasi yang signifikan untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5°C sesuai Perjanjian Paris, nasib gletser Papua akan menjadi contoh tragis bagi gletser lain di seluruh dunia. Dr. Emilya menekankan pentingnya aksi di semua level, mulai dari penghematan listrik di rumah tangga hingga partisipasi dalam program penanaman pohon.
Jika prediksi para ilmuwan tepat, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal gletser Papua melalui foto‑foto lama dan catatan sejarah, sementara puncaknya kembali menjadi batu gamping yang gersang, meninggalkan luka permanen pada catatan kriosfer khatulistiwa.
