IPD – 06 April 2026 | Pasangan mata uang EUR/USD mencatat kenaikan moderat pada sesi perdagangan Eropa di awal hari Senin, menembus level 1,1520. Penguatan euro terhadap dolar AS ini dipicu oleh optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang diperkirakan dapat meredam ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Data awal perdagangan menunjukkan bahwa euro naik secara perlahan di atas batas 1,1500, menandakan sentimen positif meskipun masih berada dalam kisaran volatilitas yang wajar. Pada saat yang sama, para pelaku pasar menunggu rilis indeks Purchasing Managers Index (PMI) sektor jasa ISM Amerika Serikat untuk bulan Maret, yang dijadwalkan akan keluar kemudian pada hari yang sama. Indikator tersebut biasanya menjadi barometer utama kesehatan ekonomi AS dan dapat memengaruhi arah pergerakan dolar.
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat pada akhir pekan lalu tetap menunjukkan stabilitas, dengan data bulan Maret mengindikasikan kondisi yang tenang. Namun, ekonom memperingatkan bahwa konflik berkelanjutan di Timur Tengah dapat menimbulkan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi global. James Knightley, ekonom dari ING, menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik dapat menahan keputusan rekrutmen perusahaan, meskipun pasar tenaga kerja domestik tampak kuat.
Di sisi kebijakan moneter, komentar hawkish dari anggota European Central Bank (ECB) tetap menjadi faktor penopang bagi euro. ECB menegaskan komitmen kuatnya untuk menahan inflasi dengan kebijakan moneter yang ketat hingga inflasi kembali stabil pada target 2% secara berkelanjutan. Presiden ECB Christine Lagarde dan anggota dewan lainnya terus menekankan pentingnya menjaga kebijakan suku bunga pada level yang cukup tinggi untuk mengendalikan tekanan harga.
- Euro menguat menjadi sekitar 1,1520 terhadap dolar AS pada awal sesi Eropa.
- Negosiasi gencatan senjata AS-Iran diperkirakan akan berlangsung selama 45 hari.
- ECB menegaskan kebijakan moneter tetap ketat hingga inflasi turun ke target.
- Data PMI jasa ISM AS akan dirilis pada hari yang sama, berpotensi memengaruhi dolar.
Selain faktor geopolitik, beberapa data ekonomi penting turut memengaruhi pergerakan EUR/USD. Di zona euro, indikator inflasi yang diukur melalui Harmonised Index of Consumer Prices (HICP) tetap menjadi sorotan utama. Bila inflasi tetap di atas target 2%, ECB diperkirakan akan melanjutkan kebijakan suku bunga tinggi, yang pada gilirannya dapat memperkuat euro. Sebaliknya, data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan indikator manufaktur yang lemah dapat menurunkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih agresif.
Pasar forex secara umum mencatat bahwa EUR/USD merupakan pasangan paling likuid di dunia, menyumbang sekitar 30% dari total volume transaksi valuta asing. Keunggulan likuiditas ini menjadikan pasangan tersebut sensitif terhadap berita geopolitik dan data ekonomi utama, termasuk kebijakan bank sentral di kedua wilayah.
Secara keseluruhan, penguatan euro pada hari Senin mencerminkan kombinasi antara harapan gencatan senjata di Timur Tengah, kebijakan moneter ECB yang tetap ketat, serta penantian data ekonomi AS yang belum pasti. Jika negosiasi gencatan senjata menunjukkan progres yang lebih signifikan, euro berpotensi melanjutkan penguatannya. Sebaliknya, jika data PMI jasa AS mengejutkan ke arah yang lebih kuat, dolar dapat kembali menguat, menurunkan nilai EUR/USD.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan diplomatik antara AS dan Iran, serta rilis data ekonomi utama dari kedua wilayah. Kedua faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan pasangan mata uang euro-dolar dalam minggu-minggu mendatang.
