IPD – 10 April 2026 | Pasangan mata uang EUR/USD kembali mencatat penguatan pada Kamis, menandai hari keempat berturut‑turut di mana euro menguat melawan dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah tekanan yang terus menimpa greenback setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta ekspektasi data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada hari Jumat.
Para pedagang mengamati dengan cermat dinamika gencatan senjata antara kedua negara. Meskipun terdapat harapan akan de‑eskalasi, Iran baru‑baru ini menegaskan bahwa tiga poin utama dalam perjanjian gencatan senjata telah dilanggar setelah serangan Israel di Lebanon. Pernyataan tersebut menambah lapisan keraguan pada keberlanjutan kesepakatan, membuat sebagian pelaku pasar menahan diri dari mengambil posisi bearish secara agresif terhadap dolar.
Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat yang baru saja dirilis memperlihatkan gambaran campuran. Inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,4% secara bulanan pada Februari, sesuai ekspektasi, namun tingkat tahunan menurun menjadi 3,0% dari 3,1% sebelumnya. Di sisi lain, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV akhir tahun lalu direvisi turun menjadi 0,5% dari perkiraan awal 0,7%. Klaim tunjangan pengangguran awal tercatat 219 ribu, melampaui perkiraan 210 ribu.
Data‑data tersebut menandakan dua hal penting bagi kebijakan moneter Federal Reserve. Pertama, tekanan inflasi masih berada di atas target 2%, menunjukkan proses disinflasi yang masih lambat. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang melambat menambah beban bagi pembuat kebijakan untuk menyeimbangkan antara mengendalikan inflasi dan mendukung pertumbuhan. Kombinasi ini menjadi latar belakang mengapa pasar menantikan data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat.
- IHK utama diproyeksikan naik 0,9% secara bulanan, meningkat signifikan dari 0,3% pada Februari.
- Inflasi tahunan diperkirakan melonjak menjadi 3,3% dari 2,4%.
- Kenaikan IHK dapat memperkuat argumen bagi Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat.
Di sisi geopolitik, pertemuan diplomatik antara pejabat Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Sabtu di Pakistan. Negosiasi ini menjadi sorotan utama karena dapat menentukan keberlanjutan gencatan senjata yang masih rapuh. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon akan merusak kesepakatan dan membuat pembicaraan menjadi tidak berarti.
Pasar valuta asing memperlihatkan pola reaksi yang berbeda terhadap data ekonomi terbaru. Dolar AS tetap lemah terhadap sebagian besar mata uang utama, kecuali Yen Jepang yang masih menunjukkan sedikit penguatan. Heat map mata uang utama menggambarkan dolar AS mengalami penurunan nilai terhadap euro, pound sterling, dan dolar Kanada, sementara yen Jepang mencatat pergerakan positif terhadap dolar AS.
| Mata Uang | Perubahan (%) terhadap USD |
|---|---|
| EUR | +0,11 |
| GBP | +0,12 |
| JPY | -0,38 |
| CAD | +0,14 |
| AUD | +0,04 |
| NZD | +0,38 |
| CHF | +0,16 |
Secara keseluruhan, euro terus memanfaatkan tekanan pada dolar AS, namun kenaikan selanjutnya masih tergantung pada dua faktor utama: hasil data inflasi Amerika Serikat yang akan datang dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Jika IHK AS melampaui ekspektasi, dolar dapat kembali menguat, menahan laju penguatan euro. Sebaliknya, jika gencatan senjata antara AS dan Iran tetap stabil atau bahkan menghasilkan kemajuan diplomatik, risiko geopolitik yang menekan dolar dapat berkurang, membuka ruang bagi euro untuk melanjutkan tren naiknya.
Investor dan pedagang disarankan untuk tetap memantau rilis data IHK serta pernyataan resmi terkait negosiasi AS‑Iran. Kedua elemen tersebut akan menjadi katalis utama dalam menentukan arah pasangan EUR/USD dalam beberapa hari ke depan.
