IPD – 14 April 2026 | Pasangan mata uang EUR/USD kembali menanjak pada Senin dini hari setelah Indeks Dolar AS (DXY) terpuruk ke posisi terendah dalam enam minggu, sekitar 98,36. Pada saat laporan ini disusun, euro diperdagangkan di level 1,1757, naik 0,32 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan euro ini didorong oleh perbaikan sentimen risiko global serta tekanan geopolitik yang memengaruhi nilai dolar Amerika.
Sentimen risiko yang lebih baik memberi dorongan signifikan bagi euro. Investor tampak lebih bersedia menempatkan dana pada aset berisiko setelah munculnya harapan akan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun pertemuan pada Sabtu lalu tidak menghasilkan kesepakatan yang memuaskan, kedua belah pihak tetap berada di meja perundingan, menimbulkan spekulasi bahwa pembicaraan dapat kembali berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor geopolitik utama. Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung selama lebih dari 21 jam, dengan Iran menolak meninggalkan program nuklirnya serta mengendalikan alur lalu lintas di Hormuz. Gedung Putih kemudian mengumumkan blokade sebagian di wilayah tersebut, meningkatkan ketidakpastian pasar energi. Meskipun demikian, pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyatakan Iran bersedia menegosiasikan penghentian program pengayaan uranium memberikan sinyal positif bagi pasar, memicu penguatan euro.
- Euro menguat didorong oleh selera risiko dan penurunan DXY.
- Ketegangan di Hormuz tetap tinggi, tetapi prospek pembicaraan baru meningkatkan optimisme.
- Pedagang menantikan data PPI AS, laporan ADP, dan pidato pejabat ECB.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kelemahan di sektor perumahan. Penjualan rumah lama pada Maret menurun ke level terendah dalam sembilan bulan, mencatat 3,98 juta unit, turun 3,6 persen secara bulanan. Penurunan ini menambah tekanan pada dolar, mengingat data inflasi utama masih menjadi fokus utama pasar.
Di Eropa, dinamika politik di Hungaria turut berkontribusi pada penguatan euro. Kemenangan partai baru yang dipimpin Peter Magyar, yang berjanji mengembalikan standar demokrasi setelah 16 tahun pemerintahan Viktor Orban, menambah rasa optimisme terhadap stabilitas politik di kawasan tersebut.
Pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) juga memberikan pandangan yang memperkuat euro. Wakil Presiden ECB, Luis de Guindos, menekankan bahwa dampak konflik di Timur Tengah akan sangat bergantung pada lamanya konflik tersebut. Sementara itu, pejabat lain, Vujcic, mengingatkan bahwa harga energi tetap menjadi variabel penting dalam skenario kebijakan moneter ECB.
Para pelaku pasar kini menantikan serangkaian data ekonomi Amerika yang dapat mengubah arah pergerakan dolar. Indeks Harga Produsen (PPI) untuk Maret, laporan perubahan ketenagakerjaan ADP selama empat minggu terakhir, serta beberapa pidato penting pejabat Federal Reserve diperkirakan akan menjadi penentu utama. Di Eropa, dua kali pidato Kepala Ekonom ECB Philip Lane serta komentar Mario Cipollone dijadwalkan menjadi sorotan utama.
Secara teknikal, grafik harian EUR/USD berada di atas zona triple simple moving average (SMA) pada 1,1674, menandakan bias jangka pendek yang masih bullish. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) 14‑hari berada di angka 62,6, menunjukkan bahwa pembeli masih menguasai pasar meskipun belum memasuki wilayah jenuh beli. Support pertama terletak di sekitar 1,1700, didukung oleh konvergensi SMA 50/100/200 hari. Bila terjadi penurunan lebih dalam, level support berikutnya berada di 1,1536, sementara support struktural kuat terletak di 1,1488, yang sebelumnya menjadi resistance dan kini berpotensi menjadi zona pembalikan.
Dengan kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang menguntungkan, euro tampaknya berpeluang menguji level psikologis 1,1800 dalam waktu dekat. Namun, para trader tetap harus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta rilis data ekonomi AS yang dapat mengubah dinamika pergerakan dolar secara signifikan.
Secara keseluruhan, pergerakan EUR/USD pada minggu ini mencerminkan interaksi kompleks antara sentimen risiko global, ketegangan geopolitik, serta data ekonomi utama. Jika dolar terus tertekan oleh data negatif dan kebijakan moneter yang lebih dovish, euro berpotensi melanjutkan kenaikannya menuju level tertinggi baru. Sebaliknya, anyaran positif dalam konflik atau data ekonomi AS yang kuat dapat memperlambat atau bahkan membalikkan tren ini.
