IPD – 03 Juni 2026 | Nilai euro terhadap dolar AS mengalami penurunan terbatas di sekitar 1,1400, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) melakukan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Menurut analisis dari Elias Haddad, ekonom senior di Brown Brothers Harriman, kenaikan suku bunga tersebut telah tercermin dalam nilai euro, namun tidak menyebabkan penurunan yang signifikan.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) Zona Euro bulan Mei menunjukkan bahwa inflasi inti meningkat tajam di 2,5% y/y, lebih tinggi dari konsensus sebesar 2,4%. Hal ini meningkatkan risiko kenaikan inflasi yang berkelanjutan. Namun, kenaikan suku bunga ECB diyakini dapat membantu meredam penurunan nilai euro.
Haddad memprakirakan bahwa nilai euro terhadap dolar AS akan membentuk dasar di sekitar 1,1400, mencerminkan prospek pertumbuhan Amerika Serikat yang lebih kuat dibandingkan Zona Euro. Kenaikan suku bunga dalam lingkungan pertumbuhan yang lesu dan inflasi tinggi tidak dianggap positif bagi euro, namun diyakini dapat membantu stabilisasi nilai mata uang tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, nilai euro telah mengalami penurunan yang signifikan terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi Eropa. Namun, dengan kenaikan suku bunga ECB dan prospek pertumbuhan yang lebih kuat di Amerika Serikat, nilai euro diyakini akan stabil dan membentuk dasar di sekitar 1,1400.
Kesimpulan dari analisis ini adalah bahwa nilai euro terhadap dolar AS akan terus mengalami tekanan, namun kenaikan suku bunga ECB dan prospek pertumbuhan yang lebih kuat di Amerika Serikat diyakini dapat membantu stabilisasi nilai mata uang tersebut. Oleh karena itu, investor dan pelaku pasar harus terus memantau perkembangan ekonomi dan moneter di Eropa dan Amerika Serikat untuk memahami dampaknya terhadap nilai euro.
