IPD – 13 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Penyanyi dangdut populer Denada kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkap secara terbuka mengapa ia memilih menutupi identitas ayah biologis putranya, Ressa Rizky Rosano. Penjelasan tersebut disampaikan dalam program televisi FYP yang ditayangkan di Trans 7 pada Sabtu, 11 April 2026, dan menambah deretan cerita pribadi sang artis yang selama ini disembunyikan dari mata publik.
Denada, yang kini berusia 47 tahun, menegaskan bahwa keputusan untuk tidak mengumumkan nama sang ayah bukanlah tindakan menghindar melainkan hasil pertimbangan matang. Menurutnya, pria yang menjadi ayah biologis Ressa telah lama memilih untuk menjauh dari kehidupan keluarga. “Dia sudah memutuskan untuk tidak berada di hidup kami,” ujar Denada dengan nada tenang namun tegas. Pernyataan ini menegaskan bahwa tidak ada niat menyembunyikan kebenaran demi kepentingan pribadi, melainkan sebuah langkah yang diambil demi menjaga kesejahteraan anaknya.
Denada menambahkan bahwa mengungkap identitas ayah Ressa kepada publik tidak akan memberikan manfaat apa pun bagi dirinya maupun sang anak. “Buat apa aku buka ke publik? Aku sudah memaafkan dia, dan aku tidak mau menyalahkan dia,” katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi sikap pemaafan yang telah lama ia pegang, sekaligus menunjukkan keinginan kuat untuk tidak menjadikan ayah Ressa sebagai bahan perdebatan publik.
Meski demikian, Denada menegaskan bahwa tidak akan menutup kebenaran dari putranya sendiri. “Kalau anak aku mempertanyakannya, tentu aku harus memberitahukan kepada dia,” ucapnya, menandakan komitmen untuk bersikap terbuka dalam lingkup keluarga. Sikap ini kemudian terwujud ketika Denada menceritakan kepada putrinya, Aisha Aurum, mengenai keberadaan saudara kandungnya, Ressa Rizky Rosano, yang selama 24 tahun disembunyikan.
Pengakuan tersebut tidak hanya terjadi di depan kamera, tetapi juga melibatkan proses psikologis yang matang. Denada melibatkan psikolog untuk memastikan bahwa Aisha dapat menerima kenyataan tersebut dengan kondisi mental yang stabil. Hasilnya, Aisha tampak dapat menerima informasi tersebut dengan baik, bahkan menyatakan rasa terima kasih atas kejujuran ibunya.
Langkah selanjutnya yang diambil Denada adalah menghubungi Ressa dan mengatur pertemuan antara kedua anaknya di Singapura, tempat Aisha tinggal bersama ibunya. “Aku bilang ke Ressa, ‘Nang, ayo ke Singapura supaya bisa bertemu dengan adiknya’, Ressa juga bilang ‘ayo ibu, mau’,” ungkap Denada. Pertemuan ini menandai titik balik dalam hubungan keluarga yang sempat terpecah akibat gugatan perdata yang diajukan Ressa pada 26 November 2025 di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Dalam gugatan tersebut, Ressa menuntut pengakuan sebagai anak biologis serta ganti rugi sebesar Rp7 miliar atas dugaan penelantaran.
Pada Februari 2026, Denada secara terbuka mengakui Ressa sebagai darah dagingnya, menjelaskan bahwa keputusan tidak mengasuh Ressa sejak bayi dipengaruhi oleh kondisi mentalnya yang belum stabil pada masa itu. Pengakuan ini sekaligus menegaskan bahwa ia tidak berniat menyalahkan ayah biologis Ressa, melainkan memaafkan semua kesalahan masa lalu dan berusaha memperbaiki hubungan keluarga.
Pengungkapan ini mendapat respons beragam di kalangan netizen. Sebagian mengapresiasi keberanian Denada untuk mengakui kesalahan dan membuka jalan bagi penyembuhan keluarga, sementara yang lain menilai bahwa penyembunyian identitas selama puluhan tahun menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dalam kehidupan publik seorang artis. Namun, konsensus utama menyoroti pentingnya pemaafan dan keterbukaan dalam hubungan orang tua‑anak.
Secara keseluruhan, kisah Denada menyoroti dinamika kompleks antara kehidupan pribadi artis dengan ekspektasi publik. Keputusan untuk menutup identitas ayah biologis putranya bukan sekadar tindakan menghindar, melainkan hasil pertimbangan yang melibatkan faktor emosional, psikologis, dan legal. Dengan mengungkapkan fakta tersebut secara terbuka, Denada tidak hanya memberikan kejelasan bagi anaknya, tetapi juga mengirim pesan kuat bahwa pemaafan dan keterbukaan dapat menjadi kunci penyembuhan dalam keluarga yang pernah terpecah.
Ke depan, keluarga Denada diharapkan dapat terus membangun hubungan yang lebih harmonis, dengan mengedepankan komunikasi terbuka dan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma masa lalu. Pengalaman ini juga menjadi pelajaran bagi publik bahwa di balik sorotan glamor dunia hiburan, terdapat cerita-cerita pribadi yang membutuhkan empati dan pemahaman.
