IPD – 04 April 2026 | Di sejumlah desa pesisir Kabupaten Kendal, lahan tambak yang sebelumnya kurang produktif kini bertransformasi menjadi zona budidaya rumput laut. Komoditas laut ini perlahan menarik minat para nelayan dan petambak sebagai alternatif sumber pendapatan yang lebih stabil. Dengan mengoptimalkan lahan yang ada, program ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga menambah keberlanjutan usaha perikanan di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal, Hudi Sambodo, menegaskan bahwa potensi rumput laut di daerah ini sangat besar bila dikelola secara terstruktur. “Kami terus mendampingi para petani agar budidaya ini dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya dalam sebuah pertemuan kerja. DKP Kendal telah menyiapkan program pendampingan teknis, pelatihan, dan penyediaan bibit unggul untuk memastikan keberhasilan proyek.
Model integrasi dengan budidaya ikan bandeng menjadi salah satu keunggulan utama. Di beberapa lokasi, petani menanam rumput laut bersamaan dengan ikan bandeng dalam satu tambak, memanfaatkan sirkulasi nutrisi alami dan mengurangi kebutuhan pembukaan lahan baru. Pendekatan ini terbukti lebih efisien, karena limbah ikan menjadi sumber nutrisi bagi pertumbuhan rumput laut, sementara rumput laut membantu menstabilkan kualitas air.
Hingga kini, sekitar lima puluh petani telah bergabung dalam program tersebut, mencakup lahan seluas kira-kira 25 hektare yang tersebar di desa Karangsari, Bandengan, Banyutowo, Balok, hingga Kampung Mbiru. Dari satu hektare tambak, petani dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta per panen. Setelah dikurangi biaya operasional, keuntungan bersih rata-rata mencapai Rp15 juta. Dengan siklus panen dua bulan, potensi pendapatan tahunan dapat tercapai hingga lima kali lipat, memberikan aliran kas yang signifikan bagi keluarga nelayan.
Koordinator budidaya, Budiarto, menjelaskan bahwa proyek ini telah berjalan selama sekitar satu tahun dan mulai menarik minat petambak lain. “Selain menambah penghasilan, budidaya ini dapat dilakukan di tambak yang sebelumnya kurang produktif,” katanya. Data produksi menunjukkan bahwa pada tahun 2025, Kendal berhasil memproduksi sekitar 420 ton rumput laut kering dan lebih dari 2.200 ton dalam bentuk basah per tahun. Meskipun angka tersebut sudah mengesankan, produksi masih terpusat di beberapa kecamatan, meninggalkan peluang untuk ekspansi lebih luas.
Produk kering rumput laut dari Kendal tidak hanya dipasarkan secara lokal, melainkan juga dijual ke kota-kota tetangga seperti Surabaya dan Brebes. Keberadaan penampung dan jaringan distribusi yang terorganisir membantu memastikan hasil panen terserap pasar dengan baik. Rantai pasok yang terhubung ke pasar regional memperkuat posisi rumput laut Kendal sebagai komoditas yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Namun, di balik peluang yang menjanjikan, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Kualitas lingkungan perairan menjadi faktor krusial; aktivitas industri di pesisir berpotensi mencemari air, yang pada gilirannya dapat menurunkan produktivitas rumput laut. Selain itu, curah hujan tinggi dan perubahan iklim yang cepat dapat mempengaruhi kondisi air secara tiba-tiba, mengakibatkan fluktuasi hasil panen yang tidak stabil.
Aspek sumber daya manusia juga menjadi kendala. Tidak semua petambak memiliki pengetahuan teknis yang memadai mengenai budidaya rumput laut. Oleh karena itu, program pendampingan dan pelatihan terus diperkuat oleh DKP Kendal, dengan tujuan meningkatkan kapasitas petani agar produksi dapat lebih optimal. Pemerintah daerah menilai bahwa budidaya rumput laut berpotensi menjadi pilar ekonomi pesisir Kendal, asalkan didukung oleh pengelolaan lingkungan yang baik dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Dengan dukungan kebijakan, pendampingan teknis, dan jaringan distribusi yang solid, budidaya rumput laut di Kendal berpeluang menjadi sektor ekonomi yang berkelanjutan. Keberhasilan program ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada perikanan tradisional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan, dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Ke depan, perluasan lahan budidaya, peningkatan riset varietas yang tahan terhadap perubahan iklim, serta sinergi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta akan menjadi kunci utama untuk menjadikan rumput laut sebagai sumber pendapatan utama bagi masyarakat pesisir Kendal.
