IPD – 06 April 2026 | NASA kembali menorehkan babak penting dalam eksplorasi luar angkasa dengan misi Artemis II yang diluncurkan pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center, Florida. Menggunakan roket Space Launch System (SLS) setinggi 32 lantai, kapsul kru Orion berhasil menembus atmosfer dan memulai perjalanan sepuluh hari mengelilingi Bulan. Empat astronot – komandan Reid Wiseman (AS), pilot Victor Glover (AS), insinyur misi Christina Koch (AS), serta ahli penerbangan Jeremy Hansen (Kanada) – menjadi manusia pertama sejak Apollo 17 tahun 1972 yang mengorbit satelit alami Bumi ini.
Setelah melewati fase translunar injection pada 2 April, Orion memasuki zona pengaruh gravitasi Bulan sekitar pukul 11.42 WIB. Pada fase ini, kapal berada pada jarak sekitar 39.000 mil (63.000 kilometer) dari Bulan dan 232.000 mil (374.000 kilometer) dari Bumi. Selama enam jam perjalanan melintasi sisi jauh Bulan, kru berhasil mengamati Cekungan Orientale, kawah dampak terbesar di wilayah yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh mata manusia. Foto-foto dan video yang dikirimkan menampilkan detail geologis yang tajam, memberikan data penting bagi persiapan pendaratan manusia di Kutub Selatan Bulan yang dijadwalkan pada misi Artemis IV tahun 2028.
Pengamatan ini menjadi sorotan utama karena menandai “pertama kalinya seluruh cekungan Orientale terlihat dengan mata manusia”. Christina Koch menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sensasi yang “tidak sesuai dengan indra saya tentang Bulan yang saya kenal”. Ia menambahkan, “Itu adalah sisi gelap, sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya”.
Selama lintasan, Orion juga mengalami pemutusan komunikasi dengan Bumi selama sekitar 40 menit. Saat melintasi sisi jauh Bulan, sinyal radio dan laser terhalang, menempatkan kru dalam kondisi isolasi total. Pilot Victor Glover menyampaikan harapannya kepada dunia, “Mari kita gunakan waktu ini untuk bersatu, berdoa, dan mengirimkan pikiran baik agar kru kembali terhubung”. Fenomena serupa pernah dialami oleh Michael Collins pada misi Apollo 11, yang menghabiskan 48 menit sendirian di belakang Bulan.
Selain pencapaian ilmiah, Artemis II juga mencetak rekor rekam jejak pribadi. Victor Glover menjadi orang kulit berwarna pertama yang mengelilingi Bulan, Christina Koch menjadi wanita pertama yang menempuh jarak terjauh dari Bumi, dan Jeremy Hansen menjadi astronot non‑Amerika pertama yang mencapai prestasi tersebut. Seluruh kru menghabiskan sebagian besar waktu di orbit untuk mendokumentasikan permukaan Bulan, mengumpulkan data fotogrametri, serta menguji sistem navigasi dan komunikasi yang akan menjadi tulang punggung misi pendaratan berawak selanjutnya.
Selama periode Paskah, kru Artemis II mengirimkan pesan selamat kepada dunia, menampilkan latar belakang Bumi biru yang menakjubkan melalui jendela Orion. Pesan tersebut menekankan semangat persatuan dan harapan, sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya kolaborasi internasional dalam menjelajahi alam semesta.
NASA menyediakan layanan Artemis II Tracker yang memungkinkan publik memantau status misi secara real‑time. Melalui portal resmi nasa.gov, pengguna dapat melihat kecepatan kapal, jarak tempuh, sisa waktu di ruang angkasa, serta visualisasi tiga dimensi posisi Orion relatif terhadap Bumi, Bulan, dan Matahari. Fitur ini meningkatkan transparansi dan melibatkan masyarakat luas dalam setiap langkah eksplorasi.
Secara teknis, misi ini menempuh jarak total sekitar 406.000 kilometer, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Apollo 13 (400.000 kilometer). Meskipun tidak melakukan pendaratan, Artemis II dianggap sebagai “dry run” kritis sebelum NASA menargetkan pendaratan manusia di Kutub Selatan Bulan pada Artemis IV. Keberhasilan mengelilingi Bulan, mengamati sisi gelap, serta menguji sistem komunikasi dan navigasi menegaskan kesiapan program Artemis untuk kembali menapaki permukaan Bulan setelah lebih dari setengah abad.
Kesimpulannya, Artemis II bukan sekadar penerbangan berawak pertama dalam enam puluh tiga tahun, melainkan tonggak penting yang menggabungkan pencapaian ilmiah, rekam jejak pribadi, dan keterlibatan publik. Dengan keberhasilan mengamati Orientale Basin, mencatat rekor jarak terjauh, serta menginspirasi jutaan orang melalui pesan Paskah, misi ini menegaskan kembali komitmen NASA dan mitra internasional untuk menjelajahi lebih jauh lagi, termasuk misi pendaratan berawak yang dijadwalkan pada 2028.
