IPD – 20 April 2026 | Setelah sepuluh hari gencatan senjata Lebanon antara Israel dan Hizbullah resmi berlaku pada 16 April 2026, ribuan warga Lebanon yang terperangkap di wilayah perbatasan berusaha kembali ke desa‑desa mereka. Di tengah ketegangan yang masih menyenggut nyawa, sebagian warga nekat menyeberangi Sungai Litani, meskipun jembatan utama yang menghubungkan kedua tepi telah hancur setelah dibom oleh pasukan Israel. Keputusan berani ini mencerminkan keinginan kuat masyarakat untuk pulang, sekaligus mengungkap risiko yang masih tinggi meski gencatan senjata Lebanon telah ditandatangani.
Pihak militer Israel pada 18 April mengumumkan pemasangan “garis kuning” di Lebanon selatan, sebuah taktik yang sebelumnya dipakai di Gaza. Garis kuning berfungsi sebagai batas aman; siapa pun yang melintasinya akan dianggap melanggar perjanjian dan dapat ditembak. Namun, laporan saksi mata menunjukkan bahwa pasukan Israel tetap menembakkan artileri ke arah kota‑kota perbatasan seperti Beit Leif, Qantara, dan Touline, serta meratakan rumah‑rumah warga yang berada di dalam zona yang belum sepenuhnya dijamin oleh garis kuning.
Ketika jembatan utama di atas Sungai Litani runtuh akibat ledakan, warga setempat mencari alternatif. Sebagian menggunakan perahu kecil atau menyeberang lewat daerah rawa yang berbahaya. Salah satu saksi, seorang petani bernama Karim al‑Haddad, menceritakan, “Kami tak punya pilihan lain. Jembatan sudah tidak ada, dan kami tak dapat menunggu bantuan internasional yang masih lambat datang.” Keberanian mereka menimbulkan pertanyaan etis, mengingat perintah militer Israel yang menyatakan bahwa “tindakan membela diri tidak dibatasi oleh gencatan senjata”.
Hizbullah, yang dipimpin oleh Naim Qassem, menegaskan bahwa gencatan senjata tidak dapat bertahan bila hanya satu pihak yang mematuhinya. Qassem menuntut penarikan total pasukan Israel dari Lebanon selatan, pembebasan tahanan, serta rekonstruksi berskala besar dengan dukungan negara‑negara Arab. Sementara itu, Israel menuduh Hizbullah memanfaatkan zona gencatan senjata untuk mengirimkan pergerakan bersenjata yang mengancam posisi mereka, khususnya di wilayah utara garis kuning.
Komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, masih mengupayakan dialog. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebutkan kemungkinan pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Washington dalam satu atau dua minggu ke depan. Jika pertemuan ini berhasil, diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih mengikat mengenai penarikan pasukan, gencatan senjata Lebanon yang berkelanjutan, serta rencana rekonstruksi bagi wilayah yang hancur. Sementara itu, ribuan warga terus menunggu bantuan kemanusiaan, menyeberang sungai dengan risiko tinggi, dan berharap jembatan yang hancur dapat segera dibangun kembali.
