Wabah Pes di Indonesia Siap Bangkit: Risiko dari Perubahan Iklim dan Deforestasi

IPD – 14 April 2026 | Setelah lebih dari satu dekade tanpa laporan kasus klinis pada manusia, para ahli kesehatan menegaskan bahwa ancaman wabah pes (sampar) di Indonesia belum berakhir. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dapat memicu kebangkitan kembali bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia.

Sejarah mencatat bahwa wabah pes pertama kali masuk ke Nusantara pada November 1910 lewat kapal kargo beras dari Burma yang berlabuh di Pelabuhan Surabaya. Tikus‑tikus yang terinfeksi menyebar cepat ke pedalaman, mengakibatkan kematian massal di Desa Turen, Kabupaten Malang, dan memunculkan istilah “Pagebluk Sampar” yang menelan jutaan nyawa antara 1910‑1916. Pada masa itu, kelembaban tinggi di wilayah Malang mempercepat transmisi bakteri melalui pinjal (flea) Xenopsylla cheopis yang menggigit manusia.

Setelah puncak pandemi, bakteri tidak lenyap; ia beralih menjadi endemik di daerah dataran tinggi. Kasus sporadis kembali muncul di Boyolali (1968), Pasuruan (1987, 2007), dan wilayah lain, menandakan adanya reservoir alami yang tetap hidup di alam liar.

Faktor Lingkungan yang Memperparah Risiko

Penelitian BRIN menyoroti dua faktor utama yang dapat memicu kebangkitan kembali wabah pes:

  • Deforestasi dan alih fungsi lahan: Penebangan hutan dan konversi menjadi lahan pertanian atau pemukiman memaksa populasi tikus liar meninggalkan habitat asli dan beralih ke pemukiman manusia, meningkatkan interaksi antara vektor, reservoir, dan manusia.
  • Perubahan iklim: Anomali suhu seperti El Niño dan La Niña mempercepat siklus hidup tikus dan pinjal. Suhu optimal 23‑30°C memperpanjang jendela penularan, sementara curah hujan yang berubah memengaruhi ketersediaan makanan bagi tikus.

Studi internal BRIN menemukan bahwa tikus rumah (Rattus rattus diardii) dan tikus ladang (Rattus exulans) di pegunungan Jawa masih menjadi reservoir utama, sementara pinjal tetap menjadi vektor utama. Beberapa populasi tikus rumah bahkan telah mengembangkan resistensi genetik, memungkinkan mereka menjadi pembawa bakteri tanpa mengalami kematian, sehingga memperpanjang masa sirkulasi patogen di lingkungan.

Indeks Pinjal sebagai Penanda Awal

Di beberapa kabupaten Jawa—Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung—otoritas kesehatan secara rutin memantau Indeks Pinjal Umum (IPU). Nilai IPU di atas 1, yang berarti rata‑rata lebih dari satu pinjal per ekor tikus yang ditangkap, dianggap sebagai sinyal bahaya yang memerlukan tindakan cepat. Meskipun tidak ada kasus manusia dalam sepuluh tahun terakhir, para peneliti memperingatkan bahwa ketiadaan laporan bukan berarti penyakit telah hilang.

Potensi Dampak Kesehatan

Jika tidak terdeteksi dini, infeksi pes dapat berkembang dari bentuk bubonik (pembengkakan kelenjar getah bening) menjadi bentuk pneumonik yang dapat menyebar antar manusia melalui udara, dengan tingkat kematian sangat tinggi. Karena sifat zoonotiknya, pengendalian hanya pada manusia tidak cukup; harus ada pendekatan One Health yang melibatkan pemantauan pada manusia, satwa, dan vektor.

Strategi Antisipasi

BRIN merekomendasikan serangkaian langkah mitigasi:

  1. Penguatan sistem surveilans terintegrasi yang mencakup pemantauan vektor (pinjal), reservoir (tikus), dan kasus klinis pada manusia.
  2. Peningkatan sanitasi lingkungan, terutama di zona perbatasan hutan‑pertanian‑pemukiman.
  3. Pengendalian populasi tikus melalui metode biologis dan pengurangan sumber makanan di area pemukiman.
  4. Pendidikan masyarakat mengenai bahaya gigitan pinjal dan cara mengidentifikasi gejala awal pes.
  5. Kolaborasi antar lembaga kesehatan, pertanian, dan kehutanan untuk mengelola dampak deforestasi.

Dengan penerapan strategi berbasis data ilmiah, Indonesia dapat mencegah terulangnya tragedi serupa yang melanda Jawa pada awal abad ke-20. Kewaspadaan terus‑menerus, pemantauan yang konsisten, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan menjadi kunci utama untuk menjaga agar bakteri Yersinia pestis tetap dalam keadaan “tidur” dan tidak kembali menjadi ancaman publik.

Kesimpulannya, perubahan iklim dan kerusakan habitat alam bukan hanya masalah ekologi, melainkan juga potensi pemicu kembali wabah berbahaya. Upaya preventif yang terkoordinasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat luas sangat penting untuk memastikan bahwa sejarah kelam tahun 1910 tidak terulang kembali.

Leave a Comment