IPD – 21 April 2026 | Pasangan mata uang USD/JPY menunjukkan tekanan penurunan pada awal pekan ini setelah dolar AS kehilangan sebagian keunggulannya. Meskipun ekspektasi adanya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sempat mengangkat dolar, kenaikan tajam harga minyak mentah menahan pergerakan yen Jepang, sehingga USD/JPY bergerak dalam rentang satu bulan terakhir.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas ketika Iran menutup Selat Hormuz pada akhir pekan, menuding pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebagai respons, kapal kargo Iran di Teluk Oman berhasil dicegat dan diinspeksi oleh pasukan AS, yang kemudian dikritik Tehran sebagai tindakan “pembajakan bersenjata”. Tehran mengancam akan membalas aksi tersebut dan menegaskan tidak akan melanjutkan negosiasi kecuali blokade laut AS dicabut.
Peristiwa ini memicu lonjakan harga minyak mentah. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran $87,35 per barel, naik lebih dari 4% dalam satu sesi. Jepang, sebagai importir energi bersih, sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi karena hal tersebut berpotensi meningkatkan beban inflasi domestik.
- USD/JPY tetap berada dalam kisaran satu bulan karena tekanan kenaikan minyak mengimbangi pelemahan dolar.
- Geopolitik Timur Tengah, khususnya ketegangan AS-Iran, terus memengaruhi sentimen pasar.
- Pasar menantikan perkembangan pembicaraan damai yang dipimpin Pakistan menjelang akhir gencatan senjata dua minggu pada hari Rabu.
Di sisi kebijakan moneter, situasi menjadi semakin kompleks. Inflasi di Amerika Serikat masih berada di atas target 2% Federal Reserve, sehingga kemungkinan kebijakan “tunggu dan lihat” tetap mengemuka. Penundaan pemotongan suku bunga dapat memperpanjang periode dolar yang lemah.
Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) menghadapi dilema serupa. Tekanan inflasi yang mulai naik memberikan argumen bagi normalisasi kebijakan secara bertahap, namun kenaikan biaya impor energi berisiko mengekang pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan laporan Reuters, lima sumber dalam BoJ memperkirakan bahwa bank sentral tersebut kemungkinan menunda kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang, mengingat ketidakpastian geopolitik Timur Tengah yang masih tinggi.
Presiden AS Donald Trump menegaskan pada hari Senin bahwa perpanjangan gencatan senjata dengan Iran sangat tidak mungkin, serta menambahkan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga ada perjanjian yang ditandatangani. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di pasar energi dan mata uang.
Data ekonomi yang akan datang menjadi fokus utama trader. Pada minggu ini dijadwalkan rilis Penjualan Ritel AS, survei pendahuluan Indeks Manajer Pembelian (IMP) S&P Global, serta Indeks Harga Konsumen (IHK) Jepang. Semua indikator ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang akan diambil oleh kedua bank sentral utama.
Secara keseluruhan, kombinasi antara pelemahan dolar, kenaikan minyak, dan ketegangan geopolitik menciptakan lingkungan pasar yang penuh kecemasan namun tetap terjaga dalam kisaran. Investor diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik serta data ekonomi yang dapat memicu perubahan signifikan pada nilai tukar USD/JPY.
