Uang Saku Suami di Jepang Meroket 10%: Kini Tembus Rp 3,9 Juta per Bulan!

IPD – 22 April 2026 | Di tengah tekanan inflasi yang melanda Jepang, uang saku bulanan para suami mengalami peningkatan signifikan. Survei terbaru yang dilakukan oleh Meiji Yasuda Life Insurance pada Maret mengungkapkan rata‑rata uang saku atau “okozukai” mencapai 36.835 yen, setara dengan sekitar Rp 3,97 juta per bulan. Kenaikan sebesar 3.764 yen (sekitar Rp 406 ribu) dibandingkan tahun lalu menandai peningkatan 10 persen, tertinggi kedua sejak survei dimulai pada 2018.

Data survei mencakup 1.620 responden berstatus menikah berusia 20 hingga 70 tahun, baik pria maupun wanita. Mayoritas (58,2%) mengaitkan peningkatan ini dengan kenaikan gaji, sementara 29,9% menyebut kenaikan harga barang sebagai faktor penyebab, dan 19,4% lainnya mengaitkannya dengan promosi kerja.

Berikut ringkasan data utama dalam bentuk tabel:

TahunRata‑Rata Uang Saku (yen)Setara (Rp)
201937.774Rp 4,08 juta
202233.071Rp 3,57 juta
202333.071Rp 3,57 juta
202436.835Rp 3,97 juta

Kenaikan uang saku ini melampaui target kenaikan upah yang dibahas dalam negosiasi tahunan “shunto”. Serikat pekerja pada periode tersebut menargetkan kenaikan minimal 5 persen, jauh di bawah realisasi 10 persen yang terdeteksi di rumah tangga. Secara inflasi, kenaikan ini juga jauh melampaui pertumbuhan harga konsumen yang pada Februari hanya naik 1,6 persen secara tahunan.

Ekonom senior Meiji Yasuda menilai bahwa dampak kenaikan gaji kini mulai terasa pada tingkat rumah tangga. Survei juga mengungkapkan peningkatan signifikan dalam tabungan keluarga, yang rata‑rata mencapai 18,5 juta yen (sekitar Rp 2 miliar), naik 2,8 juta yen (sekitar Rp 302 juta) dibandingkan tahun sebelumnya. Dana tambahan tersebut sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan hidup sehari‑hari dan meningkatkan cadangan tabungan sebagai antisipasi biaya hidup yang terus naik.

Di Jepang, pengelolaan keuangan rumah tangga tradisionalnya berada di tangan istri. Data survei 2022 menunjukkan 62,3 persen keputusan finansial utama diambil oleh pasangan perempuan. Namun, tren ini perlahan berubah seiring meningkatnya partisipasi suami dalam perencanaan keuangan bersama, terutama ketika uang saku mereka mengalami kenaikan signifikan.

Faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global dan ketidakpastian pasar tenaga kerja juga berperan dalam keputusan keuangan keluarga Jepang. Meskipun inflasi masih terjaga pada level yang relatif rendah, kenaikan harga energi dan bahan pokok memaksa rumah tangga menyesuaikan anggaran, sehingga peningkatan uang saku menjadi penting untuk menjaga standar hidup.

Secara keseluruhan, lonjakan 10 persen pada uang saku suami menandai perubahan dinamika ekonomi rumah tangga di Jepang. Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan peningkatan pendapatan individu, tetapi juga menegaskan pergeseran peran dalam pengelolaan keuangan keluarga, dimana suami kini lebih aktif dalam memastikan kesejahteraan finansial bersama.

Leave a Comment