IPD – 03 April 2026 | Bandar Lampung – Dua mahasiswi Universitas Lampung (Unila), Fatmawati (22) dan Bunga Rosana (22), tewas setelah hanyut di Sungai Betung, kawasan wisata Wira Garden, pada Rabu, 1 April 2026. Kedua korban ditemukan dalam kondisi mengambang sekitar 300 hingga 500 meter dari Dermaga Pulau Pasaran pada Kamis, 2 April 2026, setelah tim gabungan SAR melakukan pencarian intensif selama dua hari.
Menurut keterangan Kapolsek Teluk Betung Timur AKP Toni Apriadi, jenazah pertama Fatmawati ditemukan pukul 11.28 WIB oleh tim gabungan yang dipimpinnya. Tak lama kemudian, tim Dinas Penanggulangan Bencana Alam (Polairud) menemukan jenazah Bunga Rosana. Kedua jenazah terdampar di perairan Pulau Pasaran, berjarak sekitar 7,6 kilometer dari titik awal mereka hanyut di Wira Garden.
Berikut kronologi singkat kejadian yang berhasil dirangkai dari pernyataan petugas dan saksi:
- 12.00 WIB: Empat mahasiswi, Fatmawati, Bunga Rosana, Rika, dan Damayanti, tiba di Wira Garden untuk berwisata dan berfoto di aliran sungai.
- 13.30 WIB: Mereka berswafoto di atas batu. Saat itu, debit sungai masih normal.
- ~14.00 WIB: Air sungai tiba‑tiba surut, kemudian kembali mengalir deras dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat para korban panik.
- Fatmawati dan Bunga berpegangan pada kayu dekat jembatan, sementara Rika dan Damayanti melompat ke batu untuk menghindari arus.
- Arus kuat menyeret Fatmawati dan Bunga, yang tidak dapat mempertahankan diri dan hanyut terbawa ke arah muara.
Tim SAR gabungan yang terdiri atas BPBD Bandar Lampung, Basarnas, TNI‑Polri, serta relawan lokal, segera dikerahkan. Pada hari pertama pencarian, tim membagi area pencarian di sepanjang aliran sungai, namun tidak menemukan tubuh korban hingga malam hari. Pada hari kedua, pencarian diperluas hingga ke muara laut, dan akhirnya jenazah ditemukan di Pulau Pasaran pada siang hari.
Kepala Pelaksana BPBD Bandar Lampung, Idham Basyar, menyampaikan bahwa setelah ditemukan, jenazah langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan visum. Kombes Yuni Iswandari, Kabid Humas Polda Lampung, menegaskan bahwa prosedur identifikasi dan serah terima jenazah ke keluarga telah dilaksanakan sesuai protokol.
Beberapa faktor penyebab kecelakaan ini diidentifikasi:
- Debit sungai yang tiba‑tiba meningkat secara drastis akibat curah hujan di daerah sekitarnya.
- Kurangnya peringatan resmi dari pengelola wisata mengenai bahaya arus deras pada saat kondisi cuaca tidak stabil.
- Ketidaksiapan korban dalam menghadapi situasi darurat, terlihat dari upaya memegang kayu yang tidak cukup kuat menahan arus.
Pihak kepolisian masih menyelidiki apakah ada kelalaian pengelola Wira Garden dalam menyediakan fasilitas keselamatan, seperti penanda zona bahaya atau petugas penjaga. Sementara itu, Universitas Lampung telah mengeluarkan pernyataan duka cita, mengingatkan seluruh civitas akademika untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di tempat wisata alam.
Kasus ini menambah deretan tragedi serupa yang terjadi di wilayah Lampung pada musim hujan, di mana debit sungai meningkat tajam dan menimbulkan bahaya bagi penduduk maupun pengunjung. Pemerintah daerah berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem peringatan dini dan meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam penanganan bencana air.
Dengan ditemukannya kedua jenazah, operasi pencarian resmi dinyatakan selesai. Keluarga korban masih dalam proses pemulangan jenazah dan akan mendapatkan pendampingan psikologis dari pihak kampus serta pemerintah setempat.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa wisata alam, meski menawarkan pemandangan menawan, tetap menyimpan potensi bahaya yang harus diwaspadai. Pengunjung diimbau untuk selalu mematuhi aturan keselamatan, menunggu informasi resmi tentang kondisi cuaca, dan tidak mengabaikan peringatan yang diberikan oleh pihak berwenang.
