Sterling Merangkak Naik di Tengah Data Tenaga Kerja AS Lemah dan Ketegangan Iran

IPD – 04 April 2026 | Pound Sterling mencatatkan kenaikan tipis pada sesi perdagangan terbaru, dipengaruhi oleh data lapangan pekerjaan Amerika Serikat (JOLTS) yang lebih lemah dari perkiraan serta ancaman baru dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC). Meskipun sentimen pasar global tetap tertekan akibat risiko geopolitik, dolar AS berhasil memulihkan sebagian kerugian, membuat pasangan GBP/USD berbalik naik 0,04% dan diperdagangkan di sekitar 1,3190.

IRGC mengumumkan rencana serangan siber terhadap 18 perusahaan Amerika, termasuk nama-nama teknologi besar seperti Microsoft, Apple, Google, Intel, dan Boeing, sebagai balasan atas serangan terhadap Iran. Langkah ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan, namun dampaknya terhadap sterling terbatas karena data JOLTS yang menunjukkan penurunan lowongan kerja di AS menahan daya tarik dolar sebagai safe‑haven.

Data JOLTS mengungkapkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan menurun dari 7,2 juta pada Januari menjadi 6,9 juta pada Februari, sementara tingkat perekrutan turun menjadi 3,4%, tiga poin persentase di bawah bulan sebelumnya. Penurunan ini menandakan melambatnya momentum pasar tenaga kerja Amerika, yang pada gilirannya menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Di sisi lain, indeks Dolar AS (DXY) masih berada di sekitar level 100,00, turun 0,37% setelah sempat menguat. Penurunan DXY memberi ruang bagi mata uang lain, termasuk sterling, untuk menguat kembali meskipun tekanan geopolitik tetap ada.

Di Inggris, pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2025 tercatat hanya 0,1% menurut Office for National Statistics (ONS), sejalan dengan perkiraan ekonom. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, PDB hanya tumbuh 1%, menunjukkan stagnasi yang signifikan. Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) baru‑baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan Inggris dari 1,2% menjadi 0,7%, menegaskan risiko stagflasi yang dipicu oleh kombinasi harga energi yang tinggi akibat konflik Timur Tengah dan pertumbuhan domestik yang melambat.

Pasar uang telah memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Bank of England (BoE) sebesar 59 basis poin, sementara The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini, menurut indikator CME FedWatch. Kondisi ini menciptakan skenario di mana sterling dapat terus menguat dalam jangka pendek, terutama jika data ekonomi Inggris tetap lemah dan dolar tidak dapat memulihkan momentum.

Analisis teknis menunjukkan bahwa GBP/USD berada di zona support awal 1,3180‑1,3200, sedikit di atas trendline naik yang ditarik dari level 1,3035. Jika pasangan berhasil menembus resistance pertama di 1,3282 (level tertinggi 30 Maret), harga dapat melanjutkan kenaikan menuju 1,3300 dan bahkan 1,3400. Namun, selama pasangan tetap di bawah rata‑rata bergerak menengah (50‑200 hari) di sekitar 1,35, bias jangka pendek masih cenderung bearish, menandakan potensi penurunan kembali ke level 1,3100 bila terjadi penembusan ke bawah support awal.

Berikut rangkuman singkat perubahan persentase nilai tukar utama bulan ini, menyoroti kekuatan pound Inggris terhadap mata uang lain:

Mata UangPerubahan %
USD+2.41
EUR-2.41
JPY-1.88
CAD-1.97
AUD-3.67
NZD-4.80
CHF-3.71

Data di atas menegaskan bahwa pound Inggris adalah mata uang yang paling kuat dibandingkan dengan dolar Selandia Baru dan beberapa mata uang utama lainnya selama bulan berjalan.

Secara keseluruhan, kombinasi data tenaga kerja AS yang lemah, ancaman siber Iran, dan pertumbuhan ekonomi Inggris yang stagnan menciptakan lanskap yang kompleks bagi GBP/USD. Sementara sterling berhasil menembus level 1,3190, tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter tetap menjadi faktor kunci yang dapat memicu volatilitas di hari‑hari mendatang. Investor disarankan untuk memantau perkembangan data JOLTS berikutnya serta pernyataan kebijakan dari BoE dan The Fed sebelum mengambil posisi jangka pendek atau menengah.

Leave a Comment