Skandal Paspoortgate Goyang Pemain Timnas Indonesia di Eredivisie: Empat Bintang Terancam Tidak Bisa Main

IPD – 07 April 2026 | Skandal paspor atau yang dijuluki “Paspoortgate” kembali mencuat di dunia sepak bola Belanda, kali ini melibatkan empat pemain Timnas Indonesia yang berkarier di Liga Eredivisie. Kasus ini mengancam kelangsungan karier mereka di klub-klub Belanda, sekaligus menimbulkan kegelisahan bagi PSSI yang tengah mengandalkan diaspora pemain untuk memperkuat skuad nasional.

Menurut laporan media Belanda, total 25 pemain yang berafiliasi dengan klub-klub Eredivisie dan kompetisi lain di Belanda terjangkit masalah keabsahan dokumen paspor. Sebagian besar korban berasal dari latar belakang Suriname, Cape Verde, dan Indonesia. Empat pemain Indonesia yang disebutkan antara lain Irfan Bachdim, yang kini memperkuat AZ Alkmaar, serta tiga pemain naturalisasi lainnya yang belum diungkap secara resmi karena masih dalam proses investigasi.

Pihak KNVB (Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) telah mengeluarkan imbauan tegas kepada semua klub untuk menonaktifkan pemain yang dokumennya dipertanyakan. Beberapa klub, termasuk AZ dan Feyenoord, telah menangguhkan pemain terkait hingga penyelidikan selesai. Langkah ini menimbulkan dilema bagi tim, mengingat pemain-pemain tersebut merupakan bagian penting dari skuad dan kontribusinya di lapangan tidak dapat digantikan dengan mudah.

Sementara itu, nama Fardy Bachdim, kakak Irfan Bachdim, menjadi sorotan utama dalam skandal ini. Media Belanda menuduh Fardy berperan sebagai “jembatan” antara PSSI dan pemain keturunan Indonesia yang berada di Belanda, membantu proses naturalisasi mereka. Tuduhan tersebut mencakup keberadaan Fardy di sejumlah lokasi penting, seperti Kedutaan Besar Indonesia di Roma dan Brussels, serta hotel-hotel yang menjadi tempat pertemuan para pemain dan pejabat terkait.

Fardy Bachdim membantah keras keterlibatannya dalam proses naturalisasi. Dalam pernyataan singkat, ia menegaskan bahwa kehadirannya di foto-foto bersama pemain hanyalah sebagai penggemar dan tidak ada peran resmi dalam urusan administrasi paspor. “Saya tidak ingin terlibat dalam proses yang bersifat administratif. Saya hanya hadir sebagai pendukung,” ujar Fardy, menolak memberikan keterangan lebih lanjut.

Kasus ini juga menyoroti prosedur naturalisasi yang selama ini dijalankan PSSI. Beberapa pemain, seperti Dean James dan Joey Pelupessy, telah melalui proses lobi yang melibatkan kunjungan ke Kedutaan Besar Indonesia dan pertemuan dengan pejabat imigrasi. Namun, keberadaan dokumen yang tidak sesuai standar Eropa memicu tindakan keras KNVB.

Berikut adalah ringkasan singkat pemain yang terdampak:

  • Irfan Bachdim – AZ Alkmaar
  • Dean James – proses naturalisasi masih berlangsung
  • Joey Pelupessy – terlibat dalam lobi naturalisasi
  • James Tjoe‑A‑On – menunggu keputusan akhir

Untuk mengatasi krisis ini, PSSI bersama konsultan hukum internasional sedang menyiapkan jalur “non‑humanitarian” sebagai solusi sementara. Jalur ini memungkinkan pemain mendapatkan izin kerja berbasis kontrak klub tanpa harus melalui proses naturalisasi penuh, meskipun status kewarganegaraan tetap menjadi pertanyaan.

Para pengamat menilai bahwa skandal ini dapat menjadi titik balik bagi kebijakan rekrutmen diaspora PSSI. Jika tidak ditangani dengan cermat, risiko kehilangan talenta berpotensi tinggi dapat menghambat upaya memperkuat timnas di ajang kualifikasi internasional. Di sisi lain, klub-klub Belanda harus menyeimbangkan kepatuhan regulasi KNVB dengan kebutuhan kompetitif di lapangan.

Dalam beberapa minggu ke depan, keputusan final KNVB diperkirakan akan mengungkap nasib pemain Indonesia tersebut. Apabila mereka dinyatakan tidak memenuhi persyaratan paspor, konsekuensinya tidak hanya berupa sanksi administratif, melainkan juga larangan bermain dalam kompetisi resmi, yang berarti mereka tidak dapat menampilkan diri di liga domestik maupun kompetisi Eropa.

Situasi ini menuntut koordinasi intens antara PSSI, pemerintah Indonesia, dan otoritas sepak bola Belanda. Keberhasilan penyelesaian tidak hanya akan menentukan masa depan pemain individu, tetapi juga mencerminkan integritas proses naturalisasi dalam sepak bola modern.

Dengan tekanan publik yang terus meningkat, semua pihak diharapkan dapat menemukan solusi yang adil dan transparan, agar sepak bola Indonesia tetap dapat bersaing di panggung internasional tanpa harus terjebak dalam masalah administratif yang berlarut.

Leave a Comment