Sekolah Rakyat Selamatkan Julio: Dari Anak Yatim yang Hobi Tawuran Menjadi Pelajar Tenang

IPD – 13 April 2026 | Julio, seorang anak yatim yang tinggal bersama neneknya Ibu Welas (74) di Kampung Kedung Tungkul, Surakarta, pernah berada di ambang terjerumus lebih dalam ke dunia pergaulan bebas. Sejak usia satu tahun ia kehilangan ayahnya akibat penyakit virus tikus, sehingga tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan pengawasan minimal. Pada usia sembilan tahun, Julio memutuskan pendidikan formalnya setelah kelas tiga SD dan mulai menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman yang kerap melakukan lempar‑lemparan batu, bahkan membawa pisau tajam.

“Dulu Julio nakal, sama temennya sering lempar‑lemparan batu atau pisau,” ujar Ibu Welas dengan nada khawatir ketika diwawancarai pada Minggu 12 April 2026. Kondisi tersebut menambah beban mental sang nenek yang sudah tidak lagi mampu berjualan sayur keliling seperti dulu. Dengan penghasilan yang minim, Welas hanya dapat mengandalkan harapan bahwa cucunya suatu hari akan menemukan jalan yang lebih baik.

Harapan itu akhirnya menemukan titik terang ketika Julio terdaftar di Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan berasrama gratis yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto untuk anak‑anak dari keluarga miskin ekstrem. Sekolah ini tidak hanya menyediakan fasilitas belajar, tetapi juga memberikan tempat tinggal, makan, dan bimbingan karakter secara menyeluruh.

Setelah masuk ke Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2 Surakarta, perubahan pada Julio terasa signifikan. Ia menjadi lebih tenang, disiplin, dan kembali menunjukkan minat pada proses belajar. “Sekarang dia lebih dekat, bisa memeluk, menciumi saya. Katanya senang di sekolah, di rumah sering dimarahi, tapi di sekolah tidak pernah dimarahi,” kata Ibu Welas dengan mata berkilau.

Selain perubahan perilaku, keberadaan Sekolah Rakyat juga mengurangi beban finansial keluarga. Sebelumnya Julio meminta uang jajan harian sekitar Rp15.000‑Rp20.000, yang menjadi beban berat bagi neneknya. Dengan fasilitas gratis, kebutuhan dasar Julio terpenuhi tanpa harus mengorbankan kebutuhan rumah tangga.

Kementerian Sosial menilai program ini sebagai “ruang aman” yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, melainkan juga menanamkan nilai‑nilai moral, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab. Bagi Julio, ini berarti kesempatan kedua untuk mengubah arah hidupnya, menghindari risiko kembali terjerumus ke pergaulan bebas, dan membangun masa depan yang lebih layak.

Keberhasilan Julio menjadi contoh konkret bahwa intervensi negara yang tepat dapat mengubah nasib anak‑anak rentan. Ia kini tidak hanya kembali ke bangku sekolah, tetapi juga menjalin hubungan emosional yang lebih hangat dengan sang nenek. “Kalau saya sudah tidak ada, saya titip cucu saya. Semoga dia jadi orang baik,” ucap Welas dalam doa yang tulus.

Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan semangat juang keluarga, Julio menunjukkan bahwa masa depan tidak harus ditentukan oleh latar belakang kelahiran. Program Sekolah Rakyat diharapkan dapat terus memperluas jangkauannya, menampung lebih banyak anak seperti Julio, dan menjadi model pendidikan inklusif yang mengintegrasikan aspek akademik dan sosial.

Kesimpulannya, keberhasilan Julio menegaskan pentingnya pendidikan berasrama gratis sebagai strategi utama untuk mengatasi putus sekolah dan perilaku kenakalan di kalangan anak‑anak miskin. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga sosial, dan keluarga menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang lebih produktif dan berdaya saing.

Leave a Comment