IPD – 20 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada level 7.594, mencerminkan tekanan pasar yang masih berlanjut. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual pada sejumlah saham unggulan, termasuk UNVR, TPIA, hingga PANI yang mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, namun sekaligus membuka peluang bagi mereka yang mencari saham dengan valuasi relatif rendah namun fundamental kuat.
Penurunan IHSG mengindikasikan sentimen negatif yang dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, seperti ketidakpastian kebijakan moneter dan fluktuasi nilai tukar. Sementara itu, saham-saham besar seperti Unilever Indonesia Tbk (UNVR) tertekan akibat profit margin yang menurun, dan saham sektor infrastruktur Tunas Pembangunan Infrastruktur (TPIA) terpengaruh oleh penurunan order proyek. PANI, yang bergerak di sektor energi, juga mengalami penurunan tajam akibat penurunan harga komoditas.
Di tengah gejolak ini, para analis menyoroti adanya sekumpulan saham yang masih diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Saham-saham tersebut disebut “undervalued” karena harga pasar belum mencerminkan potensi pertumbuhan dan profitabilitas jangka panjang. Berikut ini adalah daftar saham undervalued yang dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang ingin menambah posisi di tengah tekanan IHSG.
- PT Astra International Tbk (ASII) – Dengan rasio harga terhadap pendapatan (P/E) di bawah rata-rata industri, ASII menawarkan eksposur ke sektor otomotif, agribisnis, dan infrastruktur yang beragam.
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – Sebagai bank dengan jaringan terluas di Indonesia, BBRI menunjukkan fundamental yang kuat meski diperdagangkan dengan valuasi yang relatif rendah.
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – Meskipun menghadapi tekanan biaya bahan baku, ICBP tetap menghasilkan arus kas yang stabil dan diperdagangkan di bawah nilai buku.
- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) – Saham telekomunikasi yang memiliki pangsa pasar dominan dan prospek pertumbuhan layanan digital, namun saat ini diperdagangkan dengan P/E yang lebih rendah dibandingkan kompetitor internasional.
- PT Gudang Garam Tbk (GGRM) – Perusahaan rokok dengan margin profit tinggi, diperdagangkan dengan valuasi yang menarik mengingat stabilitas pendapatan.
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) – Mengelola jaringan tol nasional, JSMR memiliki potensi pendapatan jangka panjang yang kuat, namun saat ini undervalued karena kekhawatiran inflasi.
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) – Produsen pangan terintegrasi yang menunjukkan pertumbuhan penjualan yang konsisten, dengan valuasi harga saham yang masih di bawah nilai wajar.
Analisis fundamental terhadap saham-saham di atas menunjukkan bahwa masing-masing memiliki keunggulan kompetitif, arus kas positif, dan prospek pertumbuhan yang mendukung peningkatan nilai dalam jangka menengah hingga panjang. Investor yang memiliki toleransi risiko moderat dapat mempertimbangkan alokasi sebagian portofolio ke saham-saham ini sebagai strategi diversifikasi.
Selain memperhatikan rasio keuangan, penting bagi investor untuk meninjau faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi global, serta tren industri yang dapat memengaruhi kinerja saham. Misalnya, kebijakan stimulus fiskal dapat meningkatkan permintaan domestik, yang pada gilirannya memberi dorongan pada perusahaan sektor konsumer seperti ICBP atau ASII.
Kesimpulannya, meski IHSG berada di zona tekanan, peluang investasi pada saham undervalued tetap terbuka lebar. Pemilihan saham yang tepat berdasarkan analisis fundamental yang mendalam dapat membantu investor mengoptimalkan potensi return di tengah volatilitas pasar.
