IPD – 18 Mei 2026 | Saham-saham bank jumbo Indonesia nyaris dianggap “aset wajib” di pasar modal domestik. Mereka menjadi tempat berlindung investor karena dinilai memiliki fundamental paling kuat, laba paling stabil, dan likuiditas terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, kini saham-saham The Big Four, termasuk BBRI, BMRI, BCA, dan BNI, mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar suku bunga program Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar diturunkan hingga di bawah 9%. Hal ini ditujukan untuk memperbaiki ketimpangan akses pembiayaan yang membebani pelaku usaha mikro. PNM sendiri merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kepemilikan 99,99%.
Menurut Edi Chandren, Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, penurunan suku bunga ini berpotensi memangkas total pendapatan bunga dan margin PNM menjadi Rp 5,2 triliun. Hal ini akan menyebabkan PNM membukukan rugi usaha sebesar sekitar Rp 9,5 triliun (setara 17% laba bersih BBRI), mengingat beban usaha PNM sendiri, termasuk beban provisi, mencapai Rp 13 triliun pada 2025.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka melemah pada perdagangan saham Senin, 18 Mei 2026, didorong koreksi rupiah. Mayoritas saham big caps kompak ambles, bahkan nama-nama yang telah keluar dari MSCI melemah belasan persen. IHSG ambrol 3,21% atau 215,66 poin ke 6.507,66.
Menurut Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), sentimen rebalancing MSCI akan tetap menjadi penyebab volatilitas pasar. Fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026.
Dalam jangka menengah, potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia. Namun, hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading.
Kesimpulan, saham BBRI dan sektor keuangan lainnya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan suku bunga PNM Mekaar dan sentimen rebalancing MSCI menjadi penyebab volatilitas pasar. Investor harus lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading untuk menghadapi volatilitas pasar yang masih tinggi.
