Rumah Warga Senen Dibongkar Sehari Usai Kunjungan Prabowo, Janji Hunian Layak Jadi Sorotan

IPD – 28 Maret 2026 | Setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan blusukan ke kawasan bantaran rel Stasiun Pasar Senen pada Kamis 25 Maret 2026, situasi di area tersebut berubah drastis. Pada Jumat 26 Maret, sejumlah rumah liar yang dibangun di pinggir rel kereta api resmi dibongkar oleh petugas Dinas Sosial DKI Jakarta. Warga yang selama lebih dari tiga dekade menggantungkan kehidupan mereka di tenda dan bangunan sempit kini harus menata kembali tempat tinggal mereka.

Pak Cono, salah satu warga yang sudah lama tinggal di bantaran rel, mengungkapkan bahwa sebelum dibongkar, ia dan istri hidup dalam kondisi yang sangat rentan. “Kami tinggal di tenda, ketika hujan angin rumah kami bocor,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia terpaksa menyewa kamar kontrakan seharga Rp 500 ribu untuk menampung lima anaknya, sementara dirinya dan istrinya tetap harus berbaring di tenda di pinggir rel.

Selama kunjungan Presiden, Pak Cono sempat berbincang singkat dengan Prabowo yang menanyakan kondisi mereka. Presiden menyampaikan, “Mau tidak dibikinin rumah susun?” dan mendapatkan jawaban positif dari Pak Cono. Janji tersebut kemudian dipublikasikan melalui akun Instagram resmi Presiden, menegaskan komitmen untuk membangun hunian layak secara cepat bagi warga Senen.

Tak lama setelah itu, tim Dinas Sosial melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak. Ketua warga setempat, Syukuri (47), menjelaskan bahwa sekitar 15 KK telah difoto KTP dan KK-nya sebagai persiapan relokasi ke rumah susun (rusun). “Kami menunggu kepastian lokasi dan jadwal pembangunan, karena janji Presiden sangat penting bagi kami,” ungkapnya.

Beberapa warga lain, seperti Seger (43), menyatakan kebahagiaan karena menerima THR dari pengawal Presiden serta harapan akan rusun yang dijanjikan. Namun, mereka juga menekankan bahwa bantuan finansial tidak dapat menggantikan kebutuhan akan hunian permanen.

Pengamatan di lapangan pada Jumat 27 Maret menunjukkan adanya langkah awal penataan kawasan. Bagian-bagian tertentu sudah dibersihkan, barang-barang bekas dibuang, dan rel kereta mulai dipasangi pengaman. Namun, tidak semua titik mengalami perubahan. Wati (56), yang rumahnya belum bersih, mengaku masih menunggu kepastian: “Takut kami digusur duluan, sementara rumah baru belum siap. Kami butuh jadwal yang jelas.”

Agus (49) menambahkan, “Program hunian layak sangat penting untuk mengurangi risiko kecelakaan di sekitar rel. Kami siap relokasi asalkan prosesnya transparan dan tidak memberatkan biaya sewa.”

Berikut rangkuman tuntutan utama warga Senen:

  • Kepastian waktu pembangunan rumah susun.
  • Jaminan lokasi rusun yang dekat dengan area asal.
  • Transparansi dalam proses relokasi dan pendataan.
  • Biaya sewa yang terjangkau atau bantuan subsidi.
  • Pengamanan area selama proses pembangunan.

Sejumlah media melaporkan bahwa Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, juga mengunjungi lokasi pada Jumat pagi, namun belum dapat bertemu langsung dengan warga karena kesibukan mengamankan barang-barang yang akan dipindahkan.

Meski masih ada tantangan, mayoritas warga menilai kunjungan Presiden sebagai titik balik penting. Harapan mereka kini terfokus pada realisasi janji pembangunan hunian layak, yang tidak hanya sekadar menyediakan atap, melainkan juga meningkatkan kualitas hidup dan keamanan bagi keluarga yang selama ini hidup di pinggir rel yang berbahaya.

Jika rencana tersebut terealisasi tepat waktu, ribuan penduduk Senen berpotensi pindah ke rumah susun yang lebih aman, mengurangi risiko kecelakaan kereta, serta membuka peluang ekonomi baru melalui peningkatan infrastruktur. Namun, kegagalan memenuhi janji dapat menimbulkan kekecewaan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Dengan tekanan publik yang terus meningkat, pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat mempercepat proses perencanaan, alokasi anggaran, serta koordinasi dengan pihak terkait demi menepati komitmen yang telah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Leave a Comment