Ribuan Ton Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Ditarik Cepat: 2.002 Ton Sudah Sampai TPST Bantar Gebang

IPD – 08 April 2026 | Pasar Induk Kramat Jati, pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara, kembali menjadi sorotan publik setelah tumpukan sampah menggunung menimbulkan keluhan pedagang dan warga. Dalam upaya menertibkan kembali area pasar, Perumda Pasar Jaya berhasil mengangkut 2.002 ton sampah selama empat hari, yaitu dari 3 hingga 6 April 2026, ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan Widiyanto, menjelaskan bahwa proses pengangkutan melibatkan total 112 rit truk dalam periode tersebut. Armada yang dioperasikan terdiri dari 20 unit truk harian dengan kapasitas 10‑20 ton per truk, termasuk 14 truk tipe besar dan 98 truk tronton. Setiap hari, sekitar 20 truk beroperasi secara intensif untuk memindahkan sampah dari area pasar ke TPST.

Berikut adalah ringkasan data operasional selama empat hari pertama:

HariRitTon SampahJenis Truk
3 April28~5004 besar, 24 tronton
4 April28~5004 besar, 24 tronton
5 April28~5013 besar, 25 tronton
6 April28~5013 besar, 25 tronton

Target selanjutnya adalah menuntaskan penanganan seluruh volume sampah yang diperkirakan mencapai 5.000 ton dalam waktu 12 hari ke depan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menambah armada dengan rencana 40 truk, di mana 20 truk telah mulai beroperasi pada awal April. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menegaskan bahwa penambahan armada ini bertujuan mempercepat proses pengangkutan mengingat sebelumnya terjadi penurunan kapasitas TPST akibat longsor pada 8 Maret 2026.

Longsor di zona 4A TPST Bantar Gebang menurunkan kuota truk yang dapat masuk dari sekitar 308 menjadi 190 truk per hari. Akibatnya, truk‑truk pengangkut sampah terpaksa kembali tanpa membongkar muatan, memperpanjang antrean di TPS dan menyebabkan penumpukan di titik-titik penampungan sementara, termasuk di pasar Kramat Jati. Kondisi ini menjadi pemicu utama krisis sampah di Jakarta pada awal 2026.

Untuk mengatasi gangguan rantai pasokan sampah, Dinas Lingkungan Hidup mengatur sistem antrean armada di TPST dengan mekanisme pembagian slot pembuangan yang terintegrasi. Sistem ini memastikan bahwa truk‑truk yang datang dapat langsung menurunkan muatan tanpa menimbulkan kemacetan baru di area pembuangan.

Kerjasama antara sektor publik dan swasta juga diperkuat. Beberapa perusahaan logistik lokal dilibatkan untuk menyediakan tambahan truk serta tenaga kerja operasional, sehingga intensitas pengangkutan dapat dipertahankan selama masa kritis. Menurut Agus, dukungan swasta memungkinkan Perumda Pasar Jaya menambah frekuensi rit tanpa menurunkan standar keamanan dan kebersihan.

Selain upaya logistik, pihak pasar juga mengintensifkan program edukasi kepada pedagang tentang pemilahan sampah di sumber. Inisiatif ini diharapkan mengurangi volume sampah organik yang harus diangkut serta meningkatkan tingkat daur ulang. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berencana memperluas program serupa ke pasar tradisional lain di wilayah Jakarta Barat dan Selatan.

Selama proses pembersihan, beberapa titik di pasar masih menunjukkan sisa tumpukan, namun volumenya telah berkurang signifikan dibandingkan kondisi viral pada pekan sebelumnya. Pengunjung dan pedagang melaporkan perbaikan kebersihan jalan masuk serta berkurangnya bau tak sedap.

Dengan langkah-langkah terkoordinasi antara pemerintah daerah, Perumda Pasar Jaya, dan sektor swasta, diharapkan Pasar Induk Kramat Jati dapat kembali bersih, tertata, dan berfungsi optimal dalam waktu 12 hari ke depan. Keberhasilan penanganan ini juga menjadi contoh bagi kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa dalam mengelola volume sampah yang tinggi.

Upaya berkelanjutan ini menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor serta kesiapan infrastruktur pengolahan akhir untuk mengantisipasi gangguan tak terduga, sehingga Jakarta dapat menjaga kebersihan dan kenyamanan warganya.

Leave a Comment