IPD – 31 Maret 2026 | JAKARTA – Menjelang akhir pekan Lebaran 2026, arus mudik dan balik ke ibukota kembali menjadi sorotan utama. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menilai bahwa secara umum proses mudik tahun ini berjalan lancar dan terkontrol, terutama berkat penguatan sistem monitoring melalui Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) di Jatiasih, Bekasi. Namun, Dody menyoroti perlunya evaluasi lanjutan pada beberapa rest area, khususnya di kilometer 57 dan 62 Tol Jakarta‑Cikampek, yang masih menunjukkan kendala akses dan layout.
Menurut data pemantauan Jasa Marga, volume kendaraan keluar Jakarta mencapai 3,25 juta unit, meningkat 18,4 % dibandingkan kondisi normal dan 2,3 % dibandingkan Lebaran 2025. Volume kendaraan yang kembali ke Jakarta tercatat 2,98 juta unit, naik 10,8 % dari kondisi normal. Puncak arus mudik terjadi pada H‑3 (18 Maret 2026) dengan 270.315 kendaraan, sementara puncak arus balik terjadi pada H+3 (24 Maret 2026) sebanyak 256.338 kendaraan.
Waktu tempuh pada arus balik tercatat 5 jam 12 menit, lebih cepat 3,8 % dibandingkan tahun 2025. Sebaliknya, waktu tempuh mudik sedikit meningkat menjadi 5 jam 46 menit (naik 2,6 %) akibat tingginya volume kendaraan. Pada aspek keselamatan, terjadi penurunan signifikan: kecelakaan berkurang 2 % menjadi 51 kejadian, dan jumlah korban menurun 34 % menjadi 60 orang, termasuk korban meninggal yang turun 60 % menjadi 2 orang.
| Parameter | Arus Mudik | Arus Balik |
|---|---|---|
| Volume kendaraan (juta) | 3,25 | 2,98 |
| Puncak harian (kendaraan) | 270.315 | 256.338 |
| Waktu tempuh rata‑rata | 5 jam 46 menit | 5 jam 12 menit |
| Kecelakaan | 51 | 51 |
| Korban (orang) | 60 | 60 |
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi antara Kementerian PU, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), serta PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Kebijakan strategis seperti diskon tarif tol sebesar 30 %, pembatasan angkutan barang, serta penerapan contraflow dan one‑way pada titik‑titik kritis turut menurunkan volume kendaraan logistik hingga 74,56 % selama periode pembatasan.
Meski arus lalu lintas terkelola dengan baik, Menteri Dody menegaskan bahwa penataan rest area tetap menjadi prioritas. Rest area di KM 57 dan KM 62 dinilai masih kurang memadai dari segi akses masuk‑keluar, penataan lajur parkir, serta fasilitas pendukung seperti toilet, pom bensin, dan area istirahat. Penumpukan kendaraan di bahu jalan menjadi potensi bahaya, terutama pada malam hari ketika visibilitas menurun.
Evaluasi ini akan menjadi bagian dari program perbaikan bertahap yang mencakup seluruh rest area pada jaringan Tol Jakarta‑Cikampek. Rencana perbaikan meliputi pelebaran akses masuk, penambahan area parkir khusus truk, peningkatan pencahayaan LED, serta penyediaan layanan darurat 24 jam. Selain itu, Jasa Marga berencana mengintegrasikan sistem pemantauan CCTV yang lebih luas di sekitar rest area untuk mendeteksi kemacetan secara real‑time.
Pengguna jalan tol diharapkan dapat merasakan perbedaan signifikan pada musim mudik berikutnya. Dengan kombinasi kebijakan tarif, kontrol logistik, dan perbaikan infrastruktur rest area, pemerintah menargetkan penurunan kecelakaan hingga 10 % dan peningkatan kepuasan pengguna sebesar 15 % dibandingkan tahun sebelumnya.
Kesimpulannya, meski arus mudik Lebaran 2026 menunjukkan perbaikan di berbagai aspek, tantangan pada fasilitas istirahat di Tol Jakarta‑Cikampek masih perlu diselesaikan. Fokus pada penataan rest area KM 57 dan KM 62 diharapkan dapat mengurangi penumpukan kendaraan di bahu jalan, meningkatkan keselamatan, serta memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi jutaan pelaku mudik.
