Proyeksi Emas 2026: Penurunan Jangka Pendek Akibat Konflik Timur Tengah, Pemulihan Menjelang Akhir Tahun

IPD – 08 April 2026 | Tim TD Securities, unit strategi komoditas terkemuka, menilai bahwa logam mulia seperti emas dan perak akan mengalami koreksi harga dalam jangka pendek. Faktor utama yang memicu penurunan ini adalah perang yang masih berlangsung di Timur Tengah, yang memperpanjang ekspektasi inflasi global dan menunda kebijakan pelonggaran moneter The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.

Konflik di kawasan tersebut meningkatkan harga energi, pupuk, dan bahan kimia secara signifikan. Kenaikan biaya produksi ini menambah tekanan inflasi, memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi lebih lama. Akibatnya, biaya peluang untuk menahan emas—yang tidak memberikan hasil bunga—menjadi lebih mahal, mendorong investor beralih ke aset berbunga yang lebih menguntungkan.

Selain tekanan kebijakan moneter, pasar emas juga merasakan kekurangan aliran modal dari Timur Tengah. Sejumlah investor institusional di wilayah tersebut menahan likuiditas untuk menanggapi ketidakpastian geopolitik, mengurangi permintaan fisik emas dan menurunkan likuiditas pasar secara keseluruhan. Kondisi ini menambah beban negatif pada harga logam mulia dalam beberapa bulan mendatang.

  • Ekspektasi inflasi tinggi: Dipicu oleh lonjakan harga energi dan komoditas penting lainnya.
  • Kebijakan The Fed: Suku bunga tetap tinggi menurunkan daya tarik emas sebagai aset safe‑haven.
  • Biaya peluang: Tinggi, karena investor dapat memperoleh imbal hasil lebih baik dari obligasi dan deposito.
  • Kurangnya modal regional: Investor Timur Tengah menahan dana, mengurangi permintaan fisik.

Namun, TD Securities menekankan bahwa koreksi ini bersifat sementara. Sesaat setelah konflik berakhir, harga minyak diproyeksikan akan kembali ke level yang lebih stabil. Penurunan harga energi akan menurunkan tekanan inflasi, memberi ruang bagi The Fed untuk memotong suku bunga pada akhir 2025 atau awal 2026.

Penurunan suku bunga akan melemahkan dolar AS, yang selama ini menjadi penopang utama tekanan pada harga emas. Dolar yang lebih lemah meningkatkan daya beli investor luar negeri terhadap emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, sehingga memperkuat permintaan global.

Dengan asumsi skenario di atas terwujud, TD Securities memperkirakan harga emas akan kembali menembus level $5.000 per ons pada paruh kedua tahun 2026. Kenaikan ini dipandang sebagai pemulihan alami setelah periode koreksi yang dipicu oleh faktor geopolitik dan kebijakan moneter.

Secara keseluruhan, pandangan TD Securities menegaskan bahwa meskipun pasar emas menghadapi tekanan jangka pendek akibat konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter yang ketat, prospek jangka menengah hingga panjang tetap positif. Investor yang mampu menahan volatilitas sementara diperkirakan akan memperoleh manfaat dari kenaikan harga emas setelah kondisi geopolitik mereda dan kebijakan moneter menjadi lebih akomodatif.

Leave a Comment