IPD – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026 – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menerima penghargaan tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan dalam sebuah upacara yang diadakan di Kedutaan Besar Republik Korea, Jakarta. Penghargaan yang dikenal sebagai Order of Civil Merit, kelas pertama, diberikan sebagai pengakuan atas kontribusi Prabowo dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara serta upaya diplomatik yang dianggap inovatif dan berani.
Acara pemberian penghargaan berlangsung pada Senin, 6 April 2026, dihadiri oleh pejabat tinggi kedua negara, termasuk Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, serta sejumlah tokoh politik, bisnis, dan akademisi. Dalam sambutannya, Prabowo menekankan pentingnya kerjasama strategis di bidang teknologi, pertahanan, dan energi bersih, serta menegaskan komitmen Indonesia untuk terus menjadi mitra setia Korea Selatan di kawasan Asia‑Pasifik.
Penghargaan ini sekaligus menandai momen langka dalam sejarah diplomasi Indonesia‑Korea. Sebelumnya, hanya beberapa tokoh senior yang pernah menerima penghargaan serupa, sementara Prabowo menjadi Presiden pertama yang memperoleh penghargaan tertinggi tersebut. Kejutan ini menimbulkan beragam reaksi di dalam negeri, mulai dari pujian hingga pertanyaan mengenai motivasi politik di balik langkah “anabul” (anak anabul) yang dipilih Prabowo untuk mempererat ikatan persahabatan.
Menurut narasumber dalam lingkaran pemerintahan, istilah “anabul” dipakai Prabowo sebagai metafora hubungan yang bersahabat namun tetap memiliki kedalaman strategis, mirip dengan hubungan antara manusia dengan hewan peliharaan yang setia. Pendekatan ini, meskipun terkesan santai, sebenarnya menekankan nilai-nilai kepercayaan, kesetiaan, dan kerja sama jangka panjang.
Di samping penghargaan, Prabowo juga mengumumkan serangkaian inisiatif baru yang akan diluncurkan bersama Korea Selatan. Inisiatif tersebut meliputi:
- Pembentukan pusat riset bersama di bidang kecerdasan buatan dan teknologi 5G, yang akan berlokasi di Bandung.
- Program pertukaran beasiswa bagi mahasiswa teknik dan ilmu komputer dengan alokasi beasiswa penuh selama tiga tahun.
- Kerjasama dalam proyek energi terbarukan, khususnya pengembangan pembangkit tenaga surya di provinsi Nusa Tenggara Barat.
Wapres Ma’ruf Amin, yang turut hadir dalam upacara, menyampaikan pesan persatuan dan toleransi kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Penghargaan ini bukan hanya simbol hubungan luar negeri, melainkan juga cerminan keberhasilan Indonesia dalam menjaga persatuan di dalam negeri,” ujar Wapres dalam pidatonya. Pernyataan tersebut selaras dengan agenda pemerintah yang tengah menekankan pentingnya persatuan nasional di tengah tantangan sosial‑ekonomi yang kompleks.
Sementara itu, dalam konteks keamanan regional, penghargaan ini diyakini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai penengah dalam dinamika geopolitik di Laut China Selatan. Pemerintah Korea Selatan, melalui Duta Besar, menegaskan dukungan mereka terhadap upaya damai dan dialog yang dipimpin Indonesia.
Penghargaan yang diterima Prabowo juga memicu sorotan media internasional. Beberapa analis politik menilai langkah ini sebagai strategi Prabowo untuk memperluas jaringan diplomatik menjelang pemilihan umum mendatang, mengingat hubungan kuat dengan negara maju dapat meningkatkan citra kepemimpinan di mata pemilih. Namun, pihak lain menekankan bahwa manfaat nyata bagi rakyat Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan dan teknologi, lebih penting daripada sekadar simbol penghargaan.
Dalam rangka menyambut kedatangan delegasi Korea Selatan, tim pers Indonesia menyiapkan rangkaian acara budaya, termasuk pertunjukan tradisional Betawi dan demonstrasi kuliner Korea, sebagai simbol persahabatan yang bersifat multidimensi.
Kesimpulannya, penghargaan tertinggi Korea Selatan yang diterima Presiden Prabowo Subianto menandai tonggak penting dalam hubungan bilateral Indonesia‑Korea. Upaya diplomasi “anabul” yang mengedepankan kehangatan serta kerjasama strategis diharapkan dapat membuka peluang baru bagi kemajuan bersama, baik di bidang teknologi, pendidikan, maupun energi bersih. Pemerintah Indonesia kini berada pada posisi yang menguntungkan untuk memanfaatkan momentum ini demi kepentingan nasional dan stabilitas regional.
