IPD – 16 April 2026 | Musim MotoGP 2026 dimulai dengan sorotan tajam pada performa Ducati, pabrikan yang selama beberapa musim terakhir mendominasi klasemen. Namun, tiga seri awal menunjukkan perubahan drastis: hanya satu kemenangan yang berhasil diraih, dan itu muncul di sprint race Brasil melalui Marc Marquez. Balapan utama belum menghasilkan podium, dengan posisi terbaik Ducati terhenti di urutan keempat. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kemampuan Ducati bersaing di level tertinggi, terutama setelah Aprilia mencatat tiga kemenangan beruntun.
Statistik tiga balapan pertama mengungkapkan gambaran yang kurang menguntungkan bagi tim Ducati. Di Brazil, Marquez berhasil memanfaatkan sprint race untuk mengamankan satu poin kemenangan, namun pada balapan utama ia dan rekan setimnya, Pedro Acosta, harus puas di posisi di luar podium. Di seri berikutnya, hasil Ducati berulang kembali pada posisi keempat, sementara di seri ketiga tim Italia itu bahkan gagal masuk dalam lima teratas. Sementara itu, Aprilia mengukir tiga kemenangan beruntun, menandakan adanya pergeseran kekuatan di antara pabrikan.
Kritik keras pun mengalir dari pengamat dan fans. Beberapa analis menyebut kondisi Ducati saat ini sebagai krisis performa, mengingat reputasi tim yang selama ini dikenal kuat di lintasan. Mereka menyoroti faktor-faktor teknis seperti pengaturan mesin, aerodinamika, serta strategi pit yang tampaknya belum optimal. Di sisi lain, tekanan media memperparah persepsi negatif, karena setiap kekurangan langsung diangkat sebagai kegagalan total.
Di tengah kegaduhan tersebut, mantan pembalap MotoGP Pol Espargaro memberikan pandangan yang berbeda. Espargaro, yang pernah menunggangi motor KTM, Yamaha, dan Honda, menegaskan bahwa situasi Ducati tidak bisa langsung dikategorikan sebagai krisis. “Apa yang terjadi sekarang ini terlalu dibesar-besarkan. Ketika situasi seperti ini muncul, orang cenderung lebih fokus pada sisi buruknya,” ujarnya dalam wawancara eksklusif. Ia menambahkan bahwa perubahan dalam susunan tim—termasuk kehadiran Marc Marquez dan Pedro Acosta sebagai rekan setim—memerlukan proses adaptasi yang wajar, dan bukan berarti tim kehilangan arah.
Masuknya Marquez dan Acosta ke barisan Ducati menambah dimensi baru dalam dinamika tim. Marquez, juara delapan kali, membawa pengalaman dan mental juara, sementara Acosta, bintang muda yang menonjol di Moto2, menawarkan kecepatan dan semangat pembelajaran. Kombinasi keduanya diharapkan dapat menstimulasi inovasi teknis dan strategi balapan yang lebih agresif. Namun, tantangan integrasi dua gaya mengemudi yang berbeda serta penyesuaian mesin Ducati yang kini tampak kurang responsif menjadi faktor kunci yang harus dihadapi. Pengamat mengantisipasi bahwa jika Ducati dapat menyelaraskan kekuatan Marquez dan potensi Acosta dengan perbaikan teknis, tim ini berpotensi bangkit kembali dalam beberapa seri mendatang.
Secara keseluruhan, awal musim 2026 menandai fase kritis bagi Ducati. Sementara kritik publik menuduh krisis, perspektif Pol Espargaro menekankan perlunya waktu untuk evaluasi dan penyesuaian. Dengan dukungan Marquez yang berpengalaman dan Acosta yang sedang naik daun, Ducati masih memiliki peluang untuk memperbaiki performa dan kembali bersaing di puncak klasemen. Penggemar MotoGP di seluruh dunia kini menantikan langkah selanjutnya dari tim Italia ini, apakah mereka akan bangkit kembali atau terus terpuruk dalam bayang-bayang kompetisi yang semakin ketat.
