Pertamina International Shipping Gali Jalan Keluar Dua Kapal di Selat Hormuz: Negosiasi Intensif di Tengah Krisis Energi Global

IPD – 07 April 2026 | Jakarta, 7 April 2026 – Dua tanker milik Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih terperangkap di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 akibat ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pemerintah Indonesia bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta perwakilan PIS terus berkoordinasi dengan otoritas Tehran untuk memastikan kapal‑kapal tersebut dapat melintasi selat strategis itu dengan aman.

Sejak 28 Februari 2026, Iran memberlakukan kebijakan “Selective Access” yang membatasi akses kapal berdasarkan afiliasi politik dan kepentingan nasional. Negara‑negara sahabat seperti China, Rusia, Irak, dan Malaysia telah menerima izin melintas, sementara kapal berbahasa Indonesia masih menunggu sinyal hijau. Pada 28 Maret, juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, mengonfirmasi adanya respons positif dari Iran terkait dua tanker Pertamina. Ia menegaskan bahwa dialog diplomatik antara Jakarta dan Teheran terus berlanjut, termasuk melalui jalur tinggi antara Perdana Menteri Anwar Ibrahim (Malaysia) dan Presiden Masoud Pezeshkian (Iran) yang menjadi contoh keberhasilan negosiasi di tingkat regional.

Vega Pita, Corporate Secretary PIS, menyatakan pada 28 Maret bahwa PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis pembebasan kapal. “Kami sedang menyiapkan prosedur keselamatan, mengidentifikasi jalur paling aman, serta memastikan kesiapan awak kapal untuk menghadapi potensi ancaman,” ujar Pita dalam konferensi pers virtual di Jakarta. Koordinasi tersebut mencakup penyusunan rencana pelayaran alternatif, penyiapan dokumen pelayaran khusus, serta konsultasi dengan pihak militer Iran untuk menghindari zona konflik.

Kemlu RI, melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, menambahkan bahwa ada sinyal positif dari Tehran, namun eksekusi masih dalam tahap finalisasi. “Kami terus berupaya menjamin keamanan awak dan muatan, sekaligus menjaga kestabilan pasokan energi nasional,” kata Sugiono. Pemerintah menekankan bahwa stok minyak dalam negeri tetap terjaga berkat diversifikasi pasokan, termasuk impor dari Amerika Serikat, Rusia, dan penambahan cadangan strategis.

Di sisi lain, Iran mengizinkan sejumlah kapal negara lain melintas pada awal April 2026. Daftar negara yang berhasil mendapatkan izin meliputi China, Rusia, India, Pakistan, Irak, Turki, Spanyol, Thailand, Sri Lanka, Korea Selatan, Bangladesh, dan Malaysia. Kebijakan ini menunjukkan adanya ruang bagi diplomasi bilateral, meski tetap menahan kapal yang terkait dengan AS atau Israel. Sejumlah laporan intelijen maritim, termasuk Windward, mencatat bahwa beberapa kapal berhasil melintasi selat pada 15‑16 Maret 2026 setelah mendapatkan persetujuan khusus.

Situasi di Selat Hormuz berdampak signifikan pada pasar energi global. Diperkirakan sekitar 20% produksi minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya. Penutupan atau pembatasan lalu lintas mengakibatkan fluktuasi harga BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pasokan dalam negeri tetap aman berkat stok cadangan dan upaya diversifikasi sumber energi, termasuk pengembangan energi terbarukan dan impor LNG.

Negara‑negara lain yang masih menunggu izin melintas meliputi Jepang, Prancis, Filipina, dan Turki. Keterlambatan ini memaksa mereka untuk menyesuaikan kebijakan tarif dan meningkatkan cadangan strategis. Di Indonesia, tekanan ini menambah beban bagi PIS untuk menyelesaikan masalah logistik, mengingat kedua tanker tersebut membawa muatan krusial untuk mendukung pasokan BBM domestik.

Berbagai pihak menilai bahwa keberhasilan negosiasi tergantung pada kemampuan diplomatik Indonesia dalam menyeimbangkan kepentingan nasional dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Keterlibatan aktif KBRI Tehran, serta jalur komunikasi langsung antara pejabat tinggi kedua negara, menjadi faktor kunci. Sementara itu, PIS menyiapkan kapal cadangan, seperti PIS Paragon dan PIS Rinjani, yang telah menghindari rute Selat Hormuz dengan menempuh jalur Teluk Oman, memastikan tidak ada gangguan total pada distribusi energi nasional.

Para analis menilai bahwa meski tekanan militer masih tinggi, diplomasi ekonomi dan energi dapat membuka peluang untuk melonggarkan pembatasan. Iran tampaknya bersedia memberikan izin terbatas kepada kapal yang tidak berafiliasi langsung dengan negara-negara yang terlibat dalam konflik. Oleh karena itu, upaya Indonesia untuk menegosiasikan akses bagi Pertamina Pride dan Gamsunoro masih memiliki peluang positif, asalkan semua protokol keamanan dipenuhi.

Kesimpulannya, situasi dua kapal Pertamina yang terjebak di Selat Hormuz mencerminkan tantangan global dalam menjaga kelancaran rantai pasokan energi di tengah konflik geopolitik. Pemerintah Indonesia, lewat Kemlu dan PIS, terus berupaya membuka jalur pelayaran melalui dialog intensif dengan Iran, sambil memastikan keamanan awak kapal dan stabilitas pasokan dalam negeri. Upaya ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan positif dalam waktu dekat, sehingga kedua tanker dapat melanjutkan pelayaran ke pelabuhan-pelabuhan Indonesia tanpa mengorbankan keselamatan atau kepentingan strategis nasional.

Leave a Comment