IPD – 26 Maret 2026 | Patrik Kluivert, mantan pemain Barcelona sekaligus mantan pelatih Tim Nasional Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah mengungkapkan pandangannya mengenai kegagalan Garuda melaju ke Piala Dunia 2026. Kluivert menegaskan bahwa harapan Indonesia untuk lolos ke Qatar 2026 sudah tidak realistis setelah kekalahan menawan melawan Irak dan Arab Saudi pada putaran keempat kualifikasi.
Realita Kualifikasi dan Refleksi Kluivert
Dalam sebuah wawancara dengan media Belanda, Kluivert menyebut bahwa “secara realistis, itu sangat sulit” bagi Timnas Indonesia untuk menandingi kedua tim kuat tersebut. Ia menambahkan bahwa pengalaman tampil di babak kualifikasi harus menjadi fondasi bagi perkembangan jangka panjang, bukan sekadar tujuan akhir. Menurut Kluivert, fakta bahwa Garuda berhasil mencapai tahap tersebut sudah memberi pijakan penting bagi generasi berikutnya.
Meski hasil tidak sesuai harapan, Kluivert mengaku tetap menikmati masa tugasnya di Indonesia. “Saya tentu saja menikmatinya, meski hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Pengalaman ini fantastis bagi karier saya,” ujarnya. Tak lama setelah kegagalan tersebut, ia mengundurkan diri dari kursi pelatih dan digantikan oleh John Herdman, sementara Kluivert kini menjabat sebagai penasihat teknis Timnas Suriname sejak Maret 2026.
John Herdman dan Visi Formasi Baru
John Herdman, pelatih asal Inggris yang sebelumnya melatih tim nasional Kanada dan New Zealand, mengemban tugas baru sebagai kepala tim Garuda. Debutnya dijadwalkan pada FIFA Series 2026 melawan Saint Kitts & Nevis di Stadion Gelora Bung Karno pada 27 Maret 2026. Herdman menegaskan bahwa ia tidak akan memulai dari nol, melainkan melanjutkan warisan taktik yang dibangun oleh Shin Tae‑yong dan Patrick Kluivert.
Prediksi taktis menampilkan formasi 3‑4‑2‑1, yang kembali mengadopsi sistem tiga bek yang pernah dipopulerkan oleh Shin Tae‑yong. Formasi ini diharapkan memberikan keseimbangan antara pertahanan solid dan serangan balik cepat. Berikut gambaran susunan pemain yang diproyeksikan dalam formasi tersebut:
- Lini belakang: Rizky Ridho, Jay Idzes, dan Justin Hubner.
- Sayap kanan/kiri: Kevin Diks dan Eliano Reijnders.
- Ganda gelandang: Joey Pelupessy dan Calvin Verdonk.
- Penyerang tunggal: Ole Romeny sebagai ujung tombak.
- Kiper starter: Emil Audero.
Formasi ini berbeda dengan gaya ofensif 4‑3‑3 yang diusung Kluivert pada masa kepelatihannya, namun tetap mengintegrasikan elemen serang yang pernah ia perkenalkan. Herdman menilai bahwa struktur defensif yang kuat menjadi landasan penting, sementara kontribusi Kluivert dalam menambah dimensi menyerang akan dipertahankan dan ditingkatkan.
Dampak Perubahan Skuad di Era Kluivert
Sebelum kepergian Kluivert, sejumlah pemain veteran mengalami penurunan peran. Kiper Ernando Ari, yang pernah mencatat lima clean‑sheet dalam 13 penampilan, tidak lagi masuk dalam daftar pemain pada dua laga terakhir kualifikasi. Begitu pula bek Pratama Arhan, yang terkenal dengan lemparan bola panjangnya, kehilangan tempat di skuad setelah kedatangan naturalisasi Emil Audero dan Maarten Paes.
Perubahan kebijakan seleksi menimbulkan kompetisi lebih ketat antara pemain diaspora dan lokal. Nama‑nama seperti Nathan Tjoe‑A‑On, Rafael Struick, dan Asnawi Mangkualam juga mengalami pemotongan menit, meskipun mereka tetap berkontribusi di level klub masing‑masing. Kluivert menjelaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada upaya menciptakan skuad yang lebih dinamis dan sesuai dengan taktik yang diinginkan.
Harapan dan Tantangan Kedepan
Dengan Herdman mengemban tongkat kepelatihan, harapan publik terfokus pada kemampuan tim untuk mengoptimalkan potensi pemain muda sekaligus memanfaatkan pengalaman internasional pelatih. Herdman menekankan pentingnya semangat tim yang “bisa membungkuk tapi tidak patah” dalam setiap pertandingan. Ia juga menyoroti bahwa standar profesional yang pernah ia temui bersama pemain-pemain juara liga Eropa akan menjadi acuan dalam membangun mentalitas baru bagi Garuda.
Di sisi lain, Kluivert tetap berperan aktif di dunia sepak bola internasional melalui perannya di Suriname. Pengalaman melatih dan mengelola tim nasional memberi perspektif baru yang dapat memperkaya jaringan teknis di kawasan Karibia, sekaligus menambah nilai diplomasi sepak bola Indonesia di luar negeri.
Secara keseluruhan, fase transisi ini menandai titik penting bagi Timnas Indonesia. Kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga, sementara visi Herdman yang memadukan warisan Shin Tae‑yong dan Kluivert membuka peluang bagi Garuda untuk kembali bersaing di level Asia dan dunia.
Jika tim dapat menyatukan pengalaman, taktik yang tepat, dan semangat juang yang tinggi, harapan untuk kembali menapaki jalur Piala Dunia bukan lagi sekadar mimpi, melainkan tujuan yang dapat diraih dengan kerja keras bersama.
