IPD – 18 April 2026 | Isu kebangkrutan Nikita Mirzani kembali mencuat setelah manajernya memberikan keterangan di dalam penjara. Sementara publik ramai menebak- tebak nasib keuangan sang selebriti, fakta yang terungkap menunjukkan bahwa bisnis yang dikelola oleh Nikita masih beroperasi, meski berada dalam kondisi yang menantang. Manajer mengakui kehilangan sejumlah kontrak kerja penting, namun menegaskan bahwa strategi diversifikasi dan jaringan luas menjadi penyelamat utama.
Menurut keterangan yang diberikan, Nikita Mirzani saat ini berada di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang sejak akhir tahun lalu. Selama masa tahanan, ia tetap memiliki tim manajemen yang mengurusi aktivitas usaha, termasuk merek pakaian, lini kosmetik, serta kontrak endorsement. Manajer menuturkan bahwa beberapa brand besar memutuskan kerja sama karena citra publik yang terganggu, namun tidak semua pintu tertutup. “Kami berhasil mempertahankan kerjasama dengan beberapa mitra lokal yang menghargai nilai jual produk kami,” ujar manajer tersebut.
Penurunan pendapatan utama disebabkan oleh hilangnya kontrak televisi dan acara talk show yang biasanya menjadi sumber penghasilan signifikan bagi Nikita. Selain itu, beberapa platform digital yang sebelumnya menayangkan konten eksklusif juga menarik diri. Meskipun begitu, tim bisnis beralih fokus pada penjualan daring melalui e‑commerce, memanfaatkan jaringan influencer lain untuk mempromosikan produk secara tidak langsung. Pendapatan dari penjualan pakaian dan kosmetik dilaporkan tetap stabil, berkat loyalitas konsumen yang telah terbiasa dengan kualitas produk.
Strategi lain yang diimplementasikan adalah kolaborasi dengan produsen lokal untuk menciptakan lini produk edisi terbatas. Produk ini dipasarkan secara eksklusif melalui situs resmi, dengan sebagian keuntungan dialokasikan untuk program sosial yang dikelola oleh yayasan pribadi Nikita. Langkah ini tidak hanya meningkatkan citra positif, tetapi juga membuka jalur pendapatan baru yang tidak terlalu terpengaruh oleh kontroversi pribadi.
Manajer menambahkan bahwa Nikita tetap terlibat dalam pengambilan keputusan penting meskipun berada di penjara. Komunikasi dilakukan melalui pertemuan virtual dengan tim, serta penandatanganan dokumen elektronik yang sah secara hukum. Hal ini menegaskan bahwa peran sentral sang selebriti dalam bisnis belum sepenuhnya terhenti. “Dia masih menjadi otak di balik setiap strategi pemasaran, bahkan mengarahkan desain produk baru,” tambahnya.
Para pengamat industri menganggap situasi ini sebagai contoh menarik tentang ketahanan bisnis selebriti di tengah gejolak pribadi. Mereka mencatat bahwa diversifikasi portofolio, pemanfaatan teknologi digital, dan kehadiran tim manajemen yang solid menjadi faktor kunci yang memungkinkan bisnis bertahan. Selain itu, dukungan basis penggemar yang loyal memberikan bantalan finansial ketika kontrak utama hilang.
Di sisi lain, kritik publik tetap mengkritisi keberlangsungan bisnis yang dikelola oleh narapidana. Beberapa pihak berpendapat bahwa keuntungan yang diperoleh seharusnya dialokasikan untuk menebus kesalahan, bukan untuk memperluas kekayaan pribadi. Namun, pernyataan manajer menegaskan bahwa sebagian laba bersih telah diarahkan untuk dana rehabilitasi dan program pendidikan narapidana lainnya.
Kesimpulannya, meski Nikita Mirzani menghadapi tantangan hukum yang berat, bisnisnya tidak serta‑merta runtuh. Kehilangan kontrak kerja memang berdampak pada arus kas, tetapi strategi adaptif dan jaringan kuat memungkinkan perusahaan tetap beroperasi. Kunci utama terletak pada kemampuan tim manajemen untuk menavigasi situasi krisis, serta peran aktif Nikita dalam mengarahkan visi bisnis meski berada di balik jeruji besi.
