IPD – 15 Maret 2026 | Sejumlah video pendek yang menampilkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi viral di media sosial pada pertengahan Maret 2026. Dalam klip tersebut, tangan kanan pemimpin Israel tampak seolah‑olah memiliki enam jari, memicu spekulasi bahwa video itu merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) dan bahwa Netanyahu telah tewas dalam serangan Iran. Klaim tersebut menyebar cepat, menimbulkan gelombang kebingungan di kalangan netizen internasional.
Asal‑usul video dan konteks geopolitik
Video itu diunggah oleh akun resmi Netanyahu di platform X (sebelumnya Twitter) ketika ia memberi pernyataan tentang ketegangan yang meningkat antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Pada saat itu, konflik di Timur Tengah telah memuncak setelah serangan balasan terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari. Situasi yang tegang membuat setiap gerakan politik publik dipantau secara intensif, sehingga detail sekecil apapun pada penampilan publik menjadi sorotan.
Dalam klip berdurasi kurang dari satu menit, Netanyahu tampak duduk di sebuah kafe, mengangkat tangan untuk menekankan poin penting. Dari sudut tertentu, jari telunjuknya tampak melengkung sehingga menimbulkan ilusi optik seolah‑olah ada jari tambahan. Pengguna media sosial dengan cepat menambahkan caption seperti “six fingers” dan menyebarkan teori konspirasi yang mengaitkan fenomena visual tersebut dengan kematian premiér.
Respons resmi dan klarifikasi faktual
Jabatan Perdana Menteri Israel segera menanggapi rumor tersebut. Sebuah pernyataan resmi menyebutkan bahwa Netanyahu dalam kondisi sehat, dan bahwa video tersebut tidak mengandung unsur manipulasi atau petunjuk kematian. Pihak kantor kepresidenan menegaskan bahwa laporan mengenai kematian Netanyahu adalah “berita palsu”.
Selain pernyataan resmi, chatbot AI milik X, bernama Grok, juga memberikan penjelasan teknis. Grok menyatakan bahwa ilusi enam jari disebabkan oleh sudut pencahayaan dan gerakan tangan saat Netanyahu menunjuk ke podium, bukan hasil editing AI. Grok menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda manipulasi visual yang terdeteksi pada rekaman asli.
Penelitian fakta oleh lembaga independen
Berbagai platform verifikasi fakta, termasuk Snopes dan Times of Israel, melakukan analisis mendalam. Mereka menemukan bahwa video tersebut diambil dari rekaman siaran langsung yang telah dipublikasikan sebelumnya, tanpa ada jejak perubahan digital. Kedua lembaga menyimpulkan bahwa rumor kematian Netanyahu tidak memiliki dasar yang kredibel.
Di sisi lain, media Iran, melalui kantor berita Tasnimnews, mengklaim bahwa video tersebut adalah bukti bahwa Netanyahu telah meninggal atau berada dalam kondisi kritis. Klaim ini didukung oleh analisis visual yang menyoroti “anomali teknis” pada warna bendera Israel dalam latar belakang serta dugaan kejanggalan pada gerakan tangan. Namun, tidak ada bukti otentik yang mendukung pernyataan tersebut, dan klaim tersebut secara luas dianggap sebagai bagian dari kampanye disinformasi.
Bagaimana rumor menyebar?
- Video diposting oleh akun resmi Netanyahu, memberi kesan legitimasi.
- Pengguna media sosial menambahkan caption sensasional, mempercepat penyebaran.
- Tokoh publik seperti Candace Owens menyoroti ketidakpercayaan terhadap video, memperkuat narasi “manipulasi”.
- Algoritma platform memperkuat konten yang mengundang reaksi emosional, sehingga video viral dalam hitungan jam.
Kasus ini menegaskan betapa mudahnya informasi menyesatkan dapat menyebar dalam situasi geopolitik yang tegang. Meskipun teknologi AI mampu menciptakan manipulasi visual yang meyakinkan, dalam kasus ini fenomena optik sederhana menjadi bahan spekulasi yang meluas.
Para ahli media mengingatkan bahwa konsumen informasi harus selalu memeriksa sumber resmi, menunggu klarifikasi dari pihak berwenang, dan menghindari penyebaran konten yang belum diverifikasi. Di era digital, kemampuan untuk membedakan antara fakta dan fiksi menjadi keterampilan penting untuk menjaga stabilitas informasi publik.
Sejauh ini, Benjamin Netanyahu terus melaksanakan tugasnya sebagai Perdana Menteri, berpartisipasi dalam pertemuan diplomatik, dan memberikan pernyataan resmi melalui saluran resmi pemerintah. Tidak ada indikasi medis atau keamanan yang mengindikasikan bahaya terhadap nyawanya.
