IPD – 11 Maret 2026 | Swiss Open 2026 kembali menjadi sorotan utama karena aksi-aksi dramatis yang terjadi di lapangan St. Jakobshalle, Basel. Tim bulu tangkis Indonesia mengirimkan total 16 wakil, termasuk tiga pasangan ganda campuran yang berhadapan dengan lawan kuat sejak putaran pertama. Pertarungan antara pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah berujung pada insiden sikut-sikut yang memicu diskusi hangat di media sosial. Sementara itu, pasangan Dejan/Bernadine yang berada di posisi non‑seed menampakkan sikap pasrah ketika harus melawan unggulan keenam turnamen.
Kondisi Tim Indonesia di Swiss Open 2026
Tim Merah‑Putih berangkat ke Eropa dengan skuad yang terdiri dari tujuh pemain tunggal dan delapan pasangan ganda. Pada hari pertama, tujuh wakil Indonesia berjuang untuk menembus babak 16 besar. Daftar lengkap wakil Indonesia meliputi:
- Tunggal Putra: Alwi Farhan, Mohammad Zaki Ubaidillah, Anthony Sinisuka Ginting (kualifikasi)
- Tunggal Putri: Putri Kusuma Wardani
- Ganda Putra: Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat
- Ganda Putri: Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi
- Ganda Campuran: Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil
Satu pasangan ganda putri, Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinara Nastine, terpaksa mundur karena cedera tulang kering pada Hira, sehingga jumlah wakil ganda putri berkurang menjadi tiga.
Ganda Campuran: Insiden Sikut dan Pertarungan Sengit
Pertandingan ganda campuran Indonesia dimulai dengan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu melawan pasangan dari Polandia, Paulina Cybulska/Kornelia Marczak. Kedua tim bermain agresif, namun pada menit-menit akhir muncul perselisihan kecil ketika pemain Indonesia terkesan terlalu mendekat ke lawan, yang kemudian berujung pada sikut‑sikut. Wasit memberikan peringatan, namun tidak ada penalti berat. Pasaribu menanggapi kejadian itu dengan menenangkan rekan setimnya, menegaskan bahwa fokus tetap pada poin.
Di lapangan lain, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menghadapi pasangan asal Taiwan, Chen Cheng Kuan/Lin Bing‑Wei. Kedua pasangan bersaing ketat, namun pada set pertama Amri terlanjur menyinggung lawan dengan gerakan yang dianggap melanggar aturan. Setelah diskusi singkat dengan wasit, pasangan Indonesia melanjutkan permainan dengan strategi yang lebih hati‑hati.
Pasangan ketiga, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, bertemu lawan dari China pada babak 32 besar. Mereka terpaksa mengakui keunggulan lawan dan menurunkan intensitas, yang terlihat jelas dari tempo permainan yang melambat. Meski begitu, mereka tetap berusaha menahan serangan demi menghindari kekalahan telak.
Dejan / Bernadine: Pasrah Menghadapi Unggulan
Pasangan yang tidak terdaftar dalam skuad resmi, namun tampil sebagai wildcard, Dejan / Bernadine harus melawan unggulan keenam turnamen, pasangan asal Jepang yang berperingkat dunia. Menghadapi pemain dengan pengalaman lebih, Dejan mengaku merasa “pasrah” karena perbedaan level yang signifikan. “Kami sudah beri semua tenaga, tapi lawan terlalu kuat di setiap raket,” ujar Bernadine dalam konferensi pers singkat setelah pertandingan.
Meski kalah dengan skor 13‑21, 15‑21, Dejan / Bernadine tetap memuji kualitas lawan dan menyatakan bahwa pengalaman ini akan menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan ganda campuran Indonesia ke depan.
Performanya Ganda Putra dan Putri di Turnamen Ini
Sementara ganda campuran menjadi sorotan, ganda putra Indonesia juga mengalami pasang surut. Pasangan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, yang pada Thailand Masters 2026 pernah mengalahkan pasangan Taiwan dalam tiga game, kembali bertemu Chen Cheng Kuan/Lin Bing‑Wei. Kali ini mereka harus menelan kekalahan setelah pertandingan yang berakhir 21‑17, 11‑21, 21‑14. Kegagalan tersebut menambah daftar early exit, bersama dengan pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana yang kalah pada set pertama melawan pasangan Malaysia.
Di sisi ganda putri, pasangan Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti berhasil melaju ke babak 16 besar dengan kemenangan telak 21‑10, 21‑10 melawan perwakilan Polandia. Sebaliknya, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum harus mengakui keunggulan pasangan China Bao Li Jing/Luo Xu Min dengan skor 9‑21, 19‑21. Kesulitan beradaptasi dengan kondisi lapangan tanpa angin menjadi faktor utama kegagalan mereka, seperti yang diungkapkan Rachel dalam pernyataan resmi PBSI.
Reaksi dan Harapan Kedepan
Pelatih utama Timnas, Karel Mainaky, menegaskan bahwa insiden sikut‑sikut tidak akan mempengaruhi semangat tim. “Kami akan mengadakan evaluasi teknik dan disiplin lapangan, terutama untuk ganda campuran yang masih mencari identitas kuat,” ujarnya.
Para pemain ganda campuran menyampaikan tekad untuk memperbaiki koordinasi dan menghindari konflik fisik di lapangan. “Kita belajar dari kejadian ini, fokus pada taktik, bukan emosi,” kata Amri.
Dengan beberapa pertandingan masih tersisa, Indonesia berharap dapat memperbaiki hasil di turnamen berikutnya, khususnya Orleans Masters yang akan digelar seminggu setelah Swiss Open. Tim ganda putri yang masih memiliki dua pasangan kuat, serta ganda campuran yang kini lebih matang, diharapkan dapat kembali menorehkan prestasi di panggung internasional.
Secara keseluruhan, Swiss Open 2026 memberikan gambaran bahwa kedalaman skuad Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal konsistensi mental dan pengelolaan konflik di lapangan. Namun, semangat juang dan kemampuan adaptasi yang ditunjukkan oleh sebagian besar wakil Indonesia tetap menjadi aset berharga untuk kompetisi selanjutnya.
