IPD – 18 Maret 2026 | Jakarta, 18 Maret 2026 – Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, memberikan penjelasan resmi mengapa kiper Persib Bandung, Teja Paku Alam, tidak masuk dalam panggilan timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih asal Kanada, John Herdman. Penjelasan tersebut sekaligus mengungkap strategi pembentukan skuad yang lebih ramping serta kendala regulasi kompetisi internasional.
Strategi Tim Pelatih yang Lebih Ramping
Sejak penunjukan John Herdman pada awal 2026, struktur staf kepelatihan Timnas Indonesia mengalami perubahan signifikan. Dibandingkan era Shin Tae‑yong (STY) dan Patrick Kluivert, yang menampilkan jajaran asisten dan spesialis dalam jumlah besar, Herdman memilih pendekatan yang lebih sederhana. Hanya ada dua asisten utama yang diumumkan: Simon Grayson, mantan pelatih klub Liga Inggris, dan Nova Arianto, yang telah berkiprah sebagai asisten di dua era sebelumnya.
Sumardji menegaskan, “John belum mengajukan banyak nama untuk masuk ke dalam timnya. Kami baru saja mengadakan pertemuan awal, dan keputusan akan berkembang seiring perkembangan tim.” Pendekatan ini memungkinkan Herdman menilai kebutuhan tim secara langsung sebelum menambah personel baru, termasuk posisi penjaga gawang.
Regulasi Squad dan Batasan Pemain
Dalam rangka persiapan FIFA Series 2026, Herdman memanggil 41 pemain sebagai skuad sementara. Namun, regulasi turnamen membatasi pendaftaran maksimal 23 pemain. Sumardji menjelaskan, “Kita hanya bisa mendaftarkan 23 pemain ke dalam turnamen. Oleh karena itu, pemilihan pemain harus selektif dan berdasarkan kebutuhan taktik serta kondisi kebugaran.”
Keputusan untuk tidak memasukkan Teja Paku Alam ke dalam 41 pemain awal dipengaruhi oleh dua faktor utama: pertama, adanya persaingan ketat di posisi penjaga gawang dengan pemain lain yang sudah berada dalam radar kepelatihan; kedua, Herdman masih menilai apakah kebutuhan akan pelatih khusus penjaga gawang (goalkeeper coach) akan ditambah dalam waktu dekat. Pada saat ini, daftar staf belum mencakup pelatih khusus penanganan kiper, yang menjadi salah satu alasan mengapa kiper muda belum dipanggil.
Fokus pada Pengembangan Pemain Lain dan Jadwal Padat
Timnas Indonesia akan menghadapi jadwal kompetisi yang padat, meliputi Piala AFF 2026, Piala Asia 2027, serta kualifikasi Piala Dunia 2030. Dalam konteks ini, Herdman berusaha memprioritaskan pemain yang dapat memberikan kontribusi langsung pada taktik tim. Sumardji menambahkan, “Kita melihat perkembangan ke depan, dan kemungkinan akan ada penambahan staf serta panggilan pemain tambahan jika diperlukan.”
Selain itu, Herdman juga tengah mengidentifikasi pemain yang dapat beradaptasi dengan sistem permainan yang lebih menekankan pada pressing tinggi dan transisi cepat. Kiper yang belum memiliki pengalaman internasional yang cukup atau belum terbukti konsistensi di level klub besar kemungkinan akan dipertimbangkan kembali pada fase berikutnya.
Harapan Kedepan dan Kemungkinan Revisi
Sumardji menegaskan bahwa keputusan ini bersifat dinamis. “Jika performa Teja Paku Alam di Liga 1 tetap impresif, serta ada kebutuhan mendesak di posisi kiper, kami tidak menutup kemungkinan dia akan dipanggil dalam sesi latihan selanjutnya atau pada kompetisi berikutnya.”
Selain itu, Herdman diperkirakan akan menambah staf khusus penjaga gawang dalam beberapa minggu ke depan, mengingat pentingnya peran kiper dalam turnamen bergengsi. Penambahan tersebut akan membuka peluang bagi kiper lain, termasuk Teja, untuk kembali masuk dalam pertimbangan.
Dengan strategi tim yang masih dalam tahap penyesuaian, Sumardji berharap publik dapat memahami keputusan seleksi yang didasarkan pada kebutuhan taktis, regulasi kompetisi, serta proses evaluasi berkelanjutan.
Keputusan untuk tidak memanggil Teja Paku Alam saat ini bukan berarti menutup peluangnya di masa depan. Kinerja konsisten di level klub serta adaptasi terhadap sistem Herdman akan menjadi faktor penentu utama dalam panggilan berikutnya.
