Skor IQ 85 Reza Arap: Mengapa Depresi Mayor Bisa Turunkan Nilai, dan Apa Kata Para Ahli?

IPD – 11 Maret 2026 | Reza Arap, musisi dan pengusaha muda yang dikenal aktif di kompetisi Marapthon, kembali menjadi sorotan publik setelah hasil tes kecerdasan (IQ) yang ia lakukan mencatat angka 85. Angka tersebut menjadi yang terendah di antara peserta lain dan memicu perdebatan luas mengenai validitas tes, pengaruh kondisi psikologis, serta implikasi bagi kesehatan mental publik.

Latar Belakang Tes IQ

Menurut keterangan yang beredar, Reza mengerjakan tes IQ dalam rangka penilaian kompetitif pada acara Marapthon. Saat itu, ia mengaku berada dalam “kondisi stres berat” dan baru-baru ini telah didiagnosa mengalami Major Depressive Disorder (MDD) atau depresi mayor. Teman dekatnya, yang dikenal dengan nama Tepe, mengonfirmasi bahwa Reza tengah menjalani perawatan intensif bersama psikolog dan psikiater.

Bagaimana Depresi Mempengaruhi Skor IQ?

Penelitian dalam bidang psikiatri menunjukkan bahwa depresi mayor dapat menurunkan performa kognitif secara sementara. Gejala seperti kelelahan mental, gangguan konsentrasi, penurunan memori, dan perlambatan pemrosesan informasi berpotensi membuat seseorang kesulitan menyelesaikan soal‑soal yang memerlukan fokus tinggi. Beberapa mekanisme yang sering dikaitkan meliputi:

  • Kelelahan mental ekstrem: Rasa lesu mengurangi daya tahan pada tugas-tugas yang menuntut perhatian berkelanjutan.
  • Perubahan struktural otak: Stres kronis dapat memengaruhi neuroplastisitas dan keseimbangan neurotransmiter, yang pada gilirannya menurunkan efisiensi jaringan saraf.
  • Faktor gaya hidup: Pola tidur yang tidak teratur, pola makan yang kurang seimbang, serta kurangnya aktivitas fisik dapat memperparah gangguan kognitif.

Akibat faktor‑faktor di atas, skor IQ yang dihasilkan pada masa depresi tidak mencerminkan “kecerdasan laten” atau potensi otak secara permanen, melainkan sebuah penurunan sementara yang dapat pulih setelah kondisi emosional stabil kembali.

Penilaian Para Profesional

Psikolog yang menangani Reza menegaskan bahwa melakukan tes IQ saat emosional tidak stabil dapat menghasilkan hasil yang tidak valid. Dalam sebuah percakapan singkat, psikolog tersebut menyatakan, “Tes IQ dirancang untuk mengukur kemampuan kognitif dalam kondisi optimal; jika subjek berada dalam keadaan depresi berat, hasilnya tidak dapat dijadikan acuan.” Ia juga mengimbau agar Reza mengurangi interaksi publik sementara waktu untuk menghindari tekanan tambahan yang dapat memperburuk kondisi mentalnya.

Reza sendiri mengaku mendapat teguran dari psikolognya terkait pelaksanaan tes tersebut, mengingat ia melakukannya di tengah episode depresi. Ia menuliskan dalam chat dengan asistennya, Cynthia, “Aku ditegur sama psikolog soal test IQ. Karena ngerjain pas lagi depresi ya.” Pernyataan ini menguatkan pendapat bahwa hasil 85 bukanlah ukuran kecerdasan final melainkan sebuah snapshot dalam kondisi yang tidak ideal.

Dampak Sosial dan Respons Publik

Setelah hasil tersebut dipublikasikan, sejumlah netizen memandang rendah Reza, bahkan menudingnya “bodoh”. Reaksi negatif ini menambah beban psikologis yang sudah ada. Komunitas kesehatan mental menyoroti pentingnya empati terhadap individu yang tengah berjuang melawan depresi, serta mengingatkan bahwa stigma dapat menghambat proses pemulihan.

Dalam rangka mengurangi eksposur, tim manajemen Reza memutuskan agar ia mengambil jeda dari Marapthon. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Reza menjauh dari lingkungan sosial dan pekerjaan yang menimbulkan stres, setidaknya sampai gejala depresi berkurang.

Secara keseluruhan, kasus ini menegaskan bahwa skor IQ tidak dapat dipisahkan dari konteks psikologis pelaku tes. Sementara depresi mayor memang dapat menurunkan hasil sementara, pemulihan kognitif biasanya terjadi seiring perbaikan kondisi mental. Oleh karena itu, publik dan media diharapkan menahan diri dari penilaian sepihak dan memberikan ruang bagi Reza untuk fokus pada pemulihan.

Kesimpulannya, skor IQ 85 Reza Arap lebih mencerminkan dampak sementara depresi mayor daripada mencerminkan kecerdasan intrinsik. Penegasan para profesional tentang invaliditas hasil tes dalam kondisi tidak stabil menegaskan perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dalam menilai dan melaporkan isu kesehatan mental.

Leave a Comment