IPD – 10 Maret 2026 | Pertikaian bersenjata antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat‑Israel semakin meluas, memicu serangkaian serangan drone dan rudal ke fasilitas energi strategis di kawasan Teluk. Sejak akhir Februari 2026, lebih dari dua puluh fasilitas minyak dan gas mengalami gangguan, kebakaran, atau kerusakan struktural yang mengancam pasokan global.
Fasilitas yang Diserang
- Al Ma’ameer, Bahrain – Kilang milik Bahrain Petroleum Company (Bapco) menjadi sasaran serangan drone pada 9 Maret, menimbulkan kebakaran besar dan memaksa Bapco mengumumkan force majeure pada operasinya.
- Ladang Minyak Shaybah, Arab Saudi – Sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh drone yang diarahkan ke ladang minyak padat di gurun Rub al‑Khalī pada hari yang sama, mencegah potensi tumpahan dan kerusakan produksi.
- Instalasi Minyak di Pulau Sitra, Bahrain – Serangan lain menimpa pulau Sitra, menewaskan atau melukai 32 warga, termasuk seorang bayi berusia dua bulan, sekaligus menimbulkan kerusakan pada jaringan pipa distribusi.
- Instalasi LPG di Doha, Qatar – Ledakan terdengar di ibu kota pada 9 Maret, menandakan serangan drone yang berhasil dicegat namun meninggalkan kerusakan pada fasilitas penyimpanan LPG.
- Fasilitas Energi di Kuwait – Pemerintah Kuwait melaporkan serangan rudal yang mengenai zona industri di dekat pelabuhan Kuwait, meski tidak menimbulkan kebocoran minyak signifikan.
- Instalasi Minyak di Uni Emirat Arab (UEA) – Serangan drone melumpuhkan satu anjungan pengolahan gas di Abu Dhabi, menyebabkan gangguan produksi selama 12 jam.
- Fasilitas Energi di Iran – Sebuah pangkalan Palang Merah di Provinsi Lorestan, yang juga berfungsi sebagai basis bantuan kemanusiaan, rusak parah akibat serangan udara gabungan AS‑Israel.
Reaksi Pemerintah dan Industri
Setelah serangan di Bahrain, Bapco segera mengeluarkan pernyataan force majeure, mengakui bahwa operasi mereka terhambat oleh konflik regional. Qatar dan Kuwait juga mengaktifkan klausul serupa, menandakan potensi penurunan produksi minyak Teluk yang dapat memengaruhi harga global.
Di Saudi Arabia, Kementerian Energi menegaskan bahwa sistem pertahanan udara negara telah berhasil menetralkan ancaman, namun menambahkan bahwa risiko serangan terus meningkat seiring operasi militer AS‑Israel di wilayah Iran.
Dampak Ekonomi Global
Harga minyak mentah naik tajam setelah laporan serangkaian serangan, dengan Brent Crude melampaui US$ 95 per barel. Analis energi menilai bahwa gangguan pada fasilitas penyimpanan dan pengolahan di Bahrain, Saudi, dan Qatar dapat menurunkan pasokan minyak Teluk hingga 2 juta barel per hari jika konflik berlanjut.
Selain itu, pasar gas alam juga mengalami volatilitas. Fasilitas gas di UEA dan Kuwait yang terganggu dapat menurunkan kapasitas ekspor LNG regional, menambah tekanan pada pasar energi Eropa yang masih berupaya mengurangi ketergantungan pada Rusia.
Langkah Diplomatik dan Keamanan
Amerika Serikat telah memerintahkan evakuasi staf kedutaan di Riyadh serta meningkatkan kesiapsiagaan di kedutaan di Kuwait dan UEA. Pada saat yang sama, Iran memperingatkan bahwa serangan balik akan terus menargetkan infrastruktur energi sekutu AS‑Israel, menandai apa yang disebutnya sebagai “perang energi”.
Iran juga menegaskan bahwa semua fasilitas energi di wilayah Teluk menjadi sasaran sah, mengingat apa yang mereka sebut sebagai balasan atas serangan udara AS‑Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran pada 28 Februari.
Kesimpulan
Serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan fasilitas minyak serta gas di Bahrain, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab menandai eskalasi baru dalam konflik Iran‑AS‑Israel. Gangguan pada instalasi strategis ini tidak hanya mengancam keamanan energi regional, tetapi juga memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia. Jika tidak ada langkah diplomatik yang berhasil menurunkan ketegangan, industri energi Teluk dapat menghadapi penurunan produksi yang signifikan, memperburuk ketidakstabilan pasar energi global.
