IPD – 18 Maret 2026 | Suasana tenang di kawasan Dusun Plumpungrejo, Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri berubah menjadi momen menegangkan pada Minggu malam, 15 Maret 2026. Sekitar pukul 23.00 WIB, terdengar dua kali ledakan keras yang berjarak sekitar dua puluh menit. Kedua ledakan tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada rumah milik M. Yasin Nawawi, dengan estimasi kerugian material mencapai Rp2 juta.
Kronologi Ledakan
Menurut keterangan pemilik rumah, ledakan pertama muncul dari arah belakang rumah, sedangkan ledakan kedua terdengar dari teras depan. Suara dentuman tersebut membuat warga sekitar berhamburan keluar, dan sebagian rumah mengalami dinding runtuh serta atap terlepas. Kejadian ini terjadi tak lama sebelum menjelang Lebaran, menambah kecemasan masyarakat yang tengah bersiap menyambut hari raya.
Penangkapan dan Identitas Pelaku
Polres Kediri segera melakukan penyelidikan. Pada Selasa, 17 Maret 2026, Kasatreskrim Polres Kediri, AKP Joshua Peter Krisnawan, mengumumkan bahwa dua tersangka pelaku ledakan telah diamankan. Kedua tersangka ternyata masih berstatus anak di bawah umur. Salah satu dari mereka bertanggung jawab memesan bahan baku petasan melalui platform daring, sementara yang lainnya terlibat dalam proses peracikan bahan hingga menjadi bahan peledak siap pakai.
Penangkapan dilakukan di Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, kurang dari 24 jam setelah kejadian. Polisi menegaskan bahwa meskipun kedua tersangka telah diamankan, status hukum mereka belum ditetapkan sebagai tersangka resmi karena masih dalam proses pemeriksaan intensif.
Motif dan Metode Pembuatan Petasan
Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa bahan baku petasan dibeli secara online, kemudian dicampur dengan bahan kimia lain di lokasi rumah. Proses peracikan dilakukan bersama-sama oleh kedua remaja, yang tampaknya belum memiliki pengetahuan teknis yang cukup namun tetap berusaha memproduksi petasan dengan daya ledak tinggi.
Dampak Lebih Luas di Jawa Timur
Kasus Kediri bukanlah yang pertama di Jawa Timur menjelang Lebaran. Pada minggu yang sama, Pamekasan dilanda serangkaian ledakan petasan di Dusun Sajum, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan. Hingga 17 Maret, total korban di Pamekasan mencapai enam orang, termasuk satu korban yang harus diamputasi karena luka parah pada kaki. Sementara itu, di Jember, sebuah masjid di Perumahan Pesona Regency mengalami ledakan yang diduga berasal dari kotak besi penyimpanan sarung di area wudhu, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Serangkaian insiden ini menimbulkan keprihatinan luas, mengingat tradisi penggunaan petasan menjelang Hari Raya Idulfitri masih populer di sebagian wilayah Jawa Timur. Kepolisian daerah setempat telah meningkatkan patroli dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari penggunaan bahan peledak buatan sendiri.
Respons Pemerintah dan Upaya Pencegahan
Pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur, dipimpin oleh Kapolda Irjen Nanang Avianto, menegaskan bahwa tim gabungan termasuk unit JIBOM, Laboratorium Forensik, dan Direktorat Reserse Kriminal Umum telah dikerahkan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh. Selain penangkapan tersangka, polisi juga melakukan sterilisasi area ledakan guna memastikan tidak ada sisa bahan peledak yang masih aktif.
Selain penegakan hukum, pemerintah daerah mengimbau warga untuk tidak membeli atau meracik petasan secara sembarangan. Kepala Desa dan Ketua Kades diminta berperan aktif memantau kegiatan warga, terutama anak-anak dan remaja, guna mencegah terulangnya kejadian serupa. Ulama setempat juga menyerukan agar masyarakat mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan positif dan menjauhi barang berbahaya.
Kesimpulan
Ledakan petasan yang merusak rumah di Kediri menegaskan bahaya penggunaan bahan peledak buatan tanpa pengawasan. Dengan dua pelaku yang masih di bawah umur, kasus ini menjadi peringatan penting bagi aparat keamanan dan masyarakat untuk meningkatkan edukasi serta pengawasan terhadap praktik pembuatan dan penggunaan petasan, terutama menjelang perayaan Lebaran yang identik dengan keriuhan dan kembang api. Penegakan hukum yang cepat dan langkah pencegahan yang konsisten diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan serupa di masa mendatang.
